KEPANJEN - Selain memadamkan api, salah satu tugas Tim Damkar adalah mengevakuasi hewan. Tawon menjadi salah satunya. Dalam 10 bulan terakhir, sudah dilakukan ratusan penanganan. Sayangnya, baju pengaman personel saat menjalankan tugas tersebut dirasa masih kurang.
”Penanganan evakuasi tawon dari Januari sampai Oktober ini ada 201 kali dilakukan,” kata Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Satpol PP Kabupaten Malang Sigit Yuniarto. Tawon, terutama jenis vespa affinis, kerap dilaporkan membuat sarang di rumah-rumah warga.
Tidak seperti tawon penghasil madu, tawon tersebut justru membahayakan. Sengatan dari satu tawon bisa menyebabkan nyeri dan bengkak lokal. Namun, kalau sengatannya dilakukan berkelompok, dapat memicu reaksi alergi parah (anafilaksis) yang bisa mengancam jiwa, kerusakan organ seperti ginjal, hingga kematian.
Salah satu penanganan terbaru dilakukan pada 21 Oktober lalu di langit-langit gedung SMPN 1 Dau di Desa Tegalweru, Kecamatan Dau. Sigit menyebut, penanganan diawali dengan adanya penyerangan terhadap salah satu pelajar. ”Salah satu siswa melempar batu ke sarang tawon tersebut. Karena terusik, kawanan tawon menyerang 20 siswa yang berada di kantin dekat sarang itu,” kata dia.
Akhirnya, empat personel damkar diterjunkan untuk menurunkan sarang tawon tersebut. Sejauh ini, damkar hanya memiliki enam set baju pelindung yang menutupi raga personelnya. Akan tetapi, jumlah tersebut dirasa kurang. ”Satu pos harusnya punya tiga. Jadi kami kekurangan enam set lagi,” kata dia.
Pos Damkar di Kabupaten Malang ada di Kepanjen, Singosari, dan Pujon. Sementara ini, pakaian tersebut masih ditaruh di Mako Besar Damkar di Pendopo Jalan Agus Salim, Kota Malang. Karena keterbatasan anggaran, belum ada rencana pengadaan lagi pada tahun ini. (biy/by)
Editor : A. Nugroho