Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Gelar Dialogista, Fakultas Pertanian UB Soroti Problem Swasembada Pangan

A. Nugroho • Minggu, 9 November 2025 | 19:54 WIB

 

CARI SOLUSI: Narasumber dan para mahasiswa antusias mengikuti forum  Dialogista di Gedung A Fakultas Pertanian, Jumat lalu (7/11).
CARI SOLUSI: Narasumber dan para mahasiswa antusias mengikuti forum Dialogista di Gedung A Fakultas Pertanian, Jumat lalu (7/11).

MALANG KOTA - Universitas Brawijaya (UB) melalui Fakultas Pertanian menggelar Dialogista, Jumat lalu (7/11). Bertempat di Gedung A Fakultas Pertanian, seminar itu untuk menggali potensi anak muda agar berperan mengembangkan kedaulatan pangan. Salah satu hal yang jadi bahan diskusi dalam forum itu adalah anggaran swasembada pangan.

 

Tahun ini naik drastis hingga Rp 140 triliun. Namun sejak Januari hingga Oktober, produktivitas pertanian hanya meningkat 13 persen saja.

 

”Permasalahan efektivitas swasembada pangan ini yang harus dikritisi anak muda dalam forum ini,” ujar Ketua Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Dr Mochamad Syamsuhadi SP MP. Menurutnya, daerah penghasil padi terbesar juga masih dipegang Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan. Padahal, sebelumnya sudah dibuka dua juta hektar tanah di Papua untuk menanam padi. Proyek food estate di Kalimantan yang kini tidak ada kabarnya.

 

Selain menumbuhkan pemikiran kritis, Syamsuhadi meminta mahasiswa ikut mencari solusi. Terutama Fakultas Pertanian, karena mereka secara keilmuan mumpuni karena jadi bidang studi di kampus. Harapannya, kebijakan yang ditelurkan kementerian pusat tidak salah sasaran.

 

Sementara itu, Ketua P4S Restu Bumi Heru Sutomo mengemukakan permasalahan riil di sektor pertanian. Mulai isu ketahanan pangan sebagai pilar penting di tengah tantangan perubahan iklim yang drastis. ”Apalagi di tahun ini saat masuk kemarau basah dan sangat berdampak pada petani,” ujarnya.

 

Berdasar dari data BPS tahun 2024 akhir, produksi padi turun karena di tingkat petani konvensional masih bergantung pada pupuk. Menurutnya itu hal penting yang harus dicari jalan keluarnya. (aff/gp)

Editor : A. Nugroho
#universita brawijaya #mahasiswa #UB