Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Upaya Tekan Bullying di Malang Diperkuat, Disdikbud hingga Dinsos Gencarkan Edukasi dan DPRD Dorong Pemasangan CCTV

Aditya Novrian • Minggu, 23 November 2025 | 17:36 WIB
Berikut upaya yang dilakukan oleh Pemkot Malang untuk menangani kejadian ini.
Berikut upaya yang dilakukan oleh Pemkot Malang untuk menangani kejadian ini.

MALANG KOTA – Sekolah masih menjadi tempat paling rawan terjadinya tindak bullying atau perundungan. Di Kota Malang, mayoritas kasus yang dilaporkan ke polisi dan pemkot dilakukan pelajar jenjang SMP. Dari data Polresta Malang Kota, diketahui bila sepanjang tahun ini ada lima laporan bullying.

Rata-rata pelakunya berusia 14-16 tahun. Usia korbannya juga tak jauh berbeda. Untuk menekan kasus, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang (Disdikbud) sebenarnya sudah lama melakukan kampanye anti-bullying. Biasanya, materi kampanye disampaikan kepada para pelajar saat upacara hari Senin.

”Tapi kebanyakan bullying terjadi di luar sekolah dan jauh dari pengawasan guru,” kata Kabid Pendidikan Dasar dan Menengah Disdikbud Kota Malang Muflikh Adhim. Contohnya seperti bullying yang terjadi di Kecamatan Sukun dengan korban berinisial FK, 13, pada 12 November lalu. Penganiayaan yang dilakukan tiga gadis seumuran itu terjadi saat pulang sekolah.

Beranjak dari kasus itu, Adhim menyebut bahwa pencegahan bullying butuh dukungan dan partisipasi dari seluruh pihak. Terutama dari keluarga pelajar sebagai lingkungan terkecil. Selama ini, Disdikbud selalu menggandeng Polresta Malang Kota, Kementerian Agama Kota Malang, hingga Dinas Sosial Kota Malang untuk memerangi bullying. Keempatnya rutin memasukkan materi anti-bullying di sela-sela kegiatan siswa.

Materi itu juga selalu disampaikan saat masa pengenalan sekolah. Terbaru, Kemendikdasmen turut menginstruksikan pendidikan di Indonesia menggunakan pendekatan belajar mendalam atau deep learning. Model belajar itu memungkinkan siswa aktif mengikuti pelajaran dan menyerap materi dengan maksimal karena cara belajar yang menyenangkan. ”Harapannya dengan deep learning siswa secara aktif bisa diajak berpikir ke arah positif. Sehingga memahami bullying adalah perilaku yang dilarang,” lanjut Adhim.

Di tempat lain, Anggota Komisi D DPRD Kota Malang Suyadi menuturkan pentingnya peran orang tua untuk pertumbuhan anak. Sebab, dia kerap menemui kasus bullying yang dilakukan oleh anak-anak yang kurang perhatian orang tua. Ke depan, dia mengusulkan agar sekolah-sekolah mengalokasikan dana khusus untuk edukasi anti-bullying.

Dananya bisa diambil dari Bantuan Operasional Sekolah Nasional (BOSNAS) atau Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA). ”Nanti bisa dikonsentrasikan melalui program dari guru bimbingan konseling (BK),” ujar Suyadi.

Selain itu, Suyadi juga mengusulkan pemasangan CCTV di area sekolah yang sepi. ”Karena sekarang eranya digital, saya rasa pemasangan CCTV itu seharusnya wajib dilakukan di tiap sekolah,” ujar politisi dari Partai NasDem itu.

Suyadi juga berharap jam-jam kosong di sekolah bisa dikurangi. Sebab, itu bisa memberi kesempatan bullying terjadi. Terakhir, dia juga meminta seluruh lapisan masyarakat ikut mengawasi pergaulan anak-anak di lingkungannya. Terutama bagi mereka yang butuh bimbingan orang dewasa.

Selain disdikbud, upaya mencegah bullying juga rutin dilakukan instansi lainnya. Seperti Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang. ”Pencegahan bullying kami lakukan melalui berbagai macam cara seperti forum anak,” kata Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Atiyatul Husna.

Biasanya, forum anak di tingkat kota dilakukan lewat roadshow ke-57 forum anak di tingkat kelurahan. Roadshow itu berisi kampanye anti-bullying. Forum anak itu bertujuan untuk menyikapi kondisi di kalangan anak-anak dan remaja masa kini yang cenderung memilih bercerita ke teman sebaya.

Selain forum anak, dinsos juga melakukan roadshow sendiri. Seperti yang dilakukan 12 November lalu. Menggandeng lintas sektor seperti kejaksaan, kepolisian, aktivis, hingga psikolog, mereka mengundang 250 pelajar dari 6 SMA dan SMK di Kota Malang. Selain itu, dinsos juga sempat berkunjung ke salah satu SMP.

Di sana, dinsos mendapati ada empat anak yang kerap dikeluhkan oleh teman-teman sebayanya. ”Saat saya panggil, mereka suka mengganggu teman-temannya. Misal temannya disaduk (ditendang). Pokoknya ada saja yang membuat usil,” sebut perempuan yang akrab disapa Iik tersebut.

 

Saat ditelusuri, ternyata 4 anak dari salah satu SMP yang dikunjungi dinsos itu kerap melihat tindak kekerasan atau perlakuan kasar di lingkungan masing-masing. Langkah pencegahan lanjutan sudah dilakukan pihaknya.

Pengawasan untuk mencegah bullying saat ini sudah berbagai sekolah. Seperti dilakukan MAN 2 Kota Malang. Kepala MAN 2 Kota Malang Samsudin menjelaskan, pihaknya sudah menyusun tata tertib selama di sekolah. Tata tertib tersebut disampaikan sejak awal pelajar diterima di sekolah.

Untuk memastikan para siswa mematuhi tata tertib, terdapat tim pengawas. Termasuk di ma’had atau asrama yang disediakan di MAN 2 Kota Malang. ”Di ma’had ada 700 santri. Untuk mengawasi mereka, kami melibatkan guru-guru. Biasanya satu guru mengawasi 24 santri,” terang Samsudin.

Kehidupan para santri atau siswa juga diatur. Mereka tidak boleh terlalu banyak memainkan gadget hingga mengikuti rutinitas di ma’had sesuai jadwal. ”Kemudian kami juga meningkatkan kegiatan keagamaan seperti mengaji dan ibadah sunah. Tujuannya untuk membentuk kenyamanan sekaligus mencegah bullying,” tandasnya. (aff/mel/by)

Editor : Aditya Novrian
#Bully #Pelajar #Perundungan #Kota Malang