MALANG KOTA – Jumlah kunjungan wisatawan masih jauh dari target. Dalam kurun 10 bulan, Januari Oktober lalu, Kota Malang baru menyedot 2,5 juta wisatawan.
Sepanjang 2025 ditarget mampu meraup 3,3 juta turis kurang 800 ribu kunjungan yang harus dikejar dalam 60 hari atau dua bulan, November-Desember depan.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi menerangkan, salah satu destinasi unggulan untuk menyedot wisatawan adalah wisata heritage. Utamanya Koridor Kajoetangan, Jalan Basuki Rahmat.
Per harinya dikunjungi 1.500 orang. Selain itu, dia melanjutkan, ada juga kampung tematik seperti Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ).
Pada destinasi ini, jumlah kunjungan wisatawan bisa mencapai 250-500 orang per hari. Meski jumlah kunjungan tak seperti dulu, dia melanjutkan, masih banyak wisatawan mancanegara (wisman) yang menjadikan KWJ tujuan wisata.
Baihaqi menerangkan, tak hanya destinasi wisata yang menarik pengunjung untuk datang ke Kota Malang. Keragaman kuliner juga menjadi salah satu unggulan. ”Kami optimistis bulan Desember depan akan mencapai target,” ujar Baihaqi kemarin.
Meskipun tren cukup bagus, disporapar mengakui masih ada beberapa tantangan dalam mencapai target kunjungan. Di antaranya cuaca yang kurang bersahabat.
Dia menilai cuaca ekstrem berdampak terhadap menurunnya jumlah wisatawan. Saat hujan terus menerus, pergerakan keluar rumah akan berkurang. Sehingga wisatawan cenderung menunda bepergian.
Terkait dampak cuaca terhadap kunjungan wisata, disporapar masih belum memiliki angka pasti. Hal itu bisa dilihat pada jumlah kunjungan wisata akhir November depan.
”Cuaca pasti berdampak, tapi masih dalam perhitungan seberapa signifikan dampaknya,” ungkap Baihaqi.
Tak hanya cuaca, dia menyampaikan, tidak stabilnya suatu daerah juga menjadi faktor penghambat. Dia mencontohkan maraknya aksi unjuk rasa akhir Agustus lalu berpengaruh terhadap minimnya kunjungan wisatawan.
Umumnya wisatawan ogah mampir ke Kota Malang ketika masih banyak aksi unjuk rasa yang diiringi kerusakan sejumlah fasilitas publik, termasuk pos polisi. ”Dampak unjuk rasa Agustus lalu, kunjungan wisata anjlok hingga lebih dari 50 persen,” kata Baihaqi.
Dia mencontohkan merosotnya jumlah kunjungan di Kajoetangan heritage. Sebelumnya dikunjungi 1500 wisatawan per hari, khusus Agustus lalu merosot hanya 500 wisatawan.
Demikian juga dengan jumlah kunjungan di KWJ, hanya dikunjungi 50 pengunjung per hari, imbas dari travel warning. Baihaqi juga menyebut faktor lain yang menghambat. Yakni kondisivitas daerah lain di luar Kota Malang.
”Wisata ini tidak ada batasnya. Kota Malang kondusif, tetapi kalau di luar Kota Malang kurang kondusif, itu sama saja akan berpengaruh (wisatawan merosot),” terangnya. Oleh karena itu, Baihaqi melanjutkan, sinergi dan kolaborasi antar pemerintah Malang Raya sangat penting menjaga kondusivitas.
Di lain pihak, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Kota Malang Agoes Soebekti menyampaikan, okupansi hotel pada Agustus hingga Oktober cenderung stagnan.
Bahkan awal September lalu mengalami penurunan karena situasi tidak kondusif. ”Rata-rata okupansi kamar 60 persen. Ada beberapa hotel yang mencapai 80 persen ketika akhir pekan,” papar Agoes.
Agoes berharap, tingkat keterisian bisa bertambah hingga 80 persen. ”Kami berharap cuaca bisa mendukung saat libur panjang nanti. Penyebab tahun lalu okupansi belum tinggi, salah satunya karena cuaca tidak bersahabat,” jelas Agoes.
Terpisah Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Malang Suryadi menyarankan pemerintah menyiapkan strategi lain untuk mendongkrak kunjungan wisatawan. Salah satunya, memperbanyak event sport tourism. Seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Juni lalu, cukup banyak menyumbang jumlah wisatawan.
Selain itu, Suryadi menyampaikan, pemkot bisa memperbanyak event lari atau bersepeda. Sebab, agenda ini digemari pengunjung dari luar kota.
”Kalau dari luar kota pasti akan menginap di Malang, minimal satu hari sebelumnya. Sehingga dampaknya akan luas,” terang politisi Golkar itu.
Menjelang akhir tahun, Suryadi juga meminta pemkot menggencarkan promosi wisata. Meskipun event bukan digelar oleh pemerintah, dia menilai, seharusnya pemkot bisa ikut membantu mempromosikan acara tersebut.
”Bisa dibuat kalender event menjelang akhir tahun. Agar pengunjung bisa mengerti acara apa saja yang akan diadakan,” tandasnya. (adk/dan)
TARGET: Jumlah kunjungan wisatawan Kota Malang dinilai masih jauh dari target
Kejar Target 800 Ribu Turis dalam 60 Hari Dipatok 3,3 Juta, Baru Terealisasi 2,5 Juta Wisatawan Kota Malang
MALANG KOTA – Jumlah kunjungan wisatawan masih jauh dari target. Dalam kurun 10 bulan, Januari Oktober lalu, Kota Malang baru menyedot 2,5 juta wisatawan.
Sepanjang 2025 ditarget mampu meraup 3,3 juta turis kurang 800 ribu kunjungan yang harus dikejar dalam 60 hari atau dua bulan, November-Desember depan.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi menerangkan, salah satu destinasi unggulan untuk menyedot wisatawan adalah wisata heritage. Utamanya Koridor Kajoetangan, Jalan Basuki Rahmat.
Per harinya dikunjungi 1.500 orang. Selain itu, dia melanjutkan, ada juga kampung tematik seperti Kampung Warna-Warni Jodipan (KWJ).
Pada destinasi ini, jumlah kunjungan wisatawan bisa mencapai 250-500 orang per hari. Meski jumlah kunjungan tak seperti dulu, dia melanjutkan, masih banyak wisatawan mancanegara (wisman) yang menjadikan KWJ tujuan wisata.
Baihaqi menerangkan, tak hanya destinasi wisata yang menarik pengunjung untuk datang ke Kota Malang. Keragaman kuliner juga menjadi salah satu unggulan. ”Kami optimistis bulan Desember depan akan mencapai target,” ujar Baihaqi kemarin.
Meskipun tren cukup bagus, disporapar mengakui masih ada beberapa tantangan dalam mencapai target kunjungan. Di antaranya cuaca yang kurang bersahabat.
Dia menilai cuaca ekstrem berdampak terhadap menurunnya jumlah wisatawan. Saat hujan terus menerus, pergerakan keluar rumah akan berkurang. Sehingga wisatawan cenderung menunda bepergian.
Terkait dampak cuaca terhadap kunjungan wisata, disporapar masih belum memiliki angka pasti. Hal itu bisa dilihat pada jumlah kunjungan wisata akhir November depan.
”Cuaca pasti berdampak, tapi masih dalam perhitungan seberapa signifikan dampaknya,” ungkap Baihaqi.
Tak hanya cuaca, dia menyampaikan, tidak stabilnya suatu daerah juga menjadi faktor penghambat. Dia mencontohkan maraknya aksi unjuk rasa akhir Agustus lalu berpengaruh terhadap minimnya kunjungan wisatawan.
Umumnya wisatawan ogah mampir ke Kota Malang ketika masih banyak aksi unjuk rasa yang diiringi kerusakan sejumlah fasilitas publik, termasuk pos polisi. ”Dampak unjuk rasa Agustus lalu, kunjungan wisata anjlok hingga lebih dari 50 persen,” kata Baihaqi.
Dia mencontohkan merosotnya jumlah kunjungan di Kajoetangan heritage. Sebelumnya dikunjungi 1500 wisatawan per hari, khusus Agustus lalu merosot hanya 500 wisatawan.
Demikian juga dengan jumlah kunjungan di KWJ, hanya dikunjungi 50 pengunjung per hari, imbas dari travel warning. Baihaqi juga menyebut faktor lain yang menghambat. Yakni kondisivitas daerah lain di luar Kota Malang.
”Wisata ini tidak ada batasnya. Kota Malang kondusif, tetapi kalau di luar Kota Malang kurang kondusif, itu sama saja akan berpengaruh (wisatawan merosot),” terangnya. Oleh karena itu, Baihaqi melanjutkan, sinergi dan kolaborasi antar pemerintah Malang Raya sangat penting menjaga kondusivitas.
Di lain pihak, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Kota Malang Agoes Soebekti menyampaikan, okupansi hotel pada Agustus hingga Oktober cenderung stagnan.
Bahkan awal September lalu mengalami penurunan karena situasi tidak kondusif. ”Rata-rata okupansi kamar 60 persen. Ada beberapa hotel yang mencapai 80 persen ketika akhir pekan,” papar Agoes.
Agoes berharap, tingkat keterisian bisa bertambah hingga 80 persen. ”Kami berharap cuaca bisa mendukung saat libur panjang nanti. Penyebab tahun lalu okupansi belum tinggi, salah satunya karena cuaca tidak bersahabat,” jelas Agoes.
Terpisah Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Malang Suryadi menyarankan pemerintah menyiapkan strategi lain untuk mendongkrak kunjungan wisatawan. Salah satunya, memperbanyak event sport tourism. Seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Juni lalu, cukup banyak menyumbang jumlah wisatawan.
Selain itu, Suryadi menyampaikan, pemkot bisa memperbanyak event lari atau bersepeda. Sebab, agenda ini digemari pengunjung dari luar kota.
”Kalau dari luar kota pasti akan menginap di Malang, minimal satu hari sebelumnya. Sehingga dampaknya akan luas,” terang politisi Golkar itu.
Menjelang akhir tahun, Suryadi juga meminta pemkot menggencarkan promosi wisata. Meskipun event bukan digelar oleh pemerintah, dia menilai, seharusnya pemkot bisa ikut membantu mempromosikan acara tersebut.
”Bisa dibuat kalender event menjelang akhir tahun. Agar pengunjung bisa mengerti acara apa saja yang akan diadakan,” tandasnya. (adk/dan)
Editor : Aditya Novrian