Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Melacak Jejak Bioskop Garuda di Singosari yang Kini Tinggal Kenangan, Namanya Kini Jadi Seruan untuk Kernet Bus

Aditya Novrian • Selasa, 25 November 2025 | 17:35 WIB
TAK BERBEKAS: Fasad bangunan perbankan di simpang tiga Mondoroko, Singosari, yang merupakan bekas gedung Bioskop Garuda.
TAK BERBEKAS: Fasad bangunan perbankan di simpang tiga Mondoroko, Singosari, yang merupakan bekas gedung Bioskop Garuda.

BEGITULAH seruan khas para kernet bus ekonomi setiap kali kendaraan dari arah Surabaya atau Probolinggo memasuki kawasan Singosari. Suara itu selalu muncul menjelang bus berhenti di simpang tiga Mondoroko, pertemuan Jalan Raya Malang–Surabaya dengan Jalan Raya Rogonoto, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari. Meski penumpang sudah sangat akrab dengan sebutan itu, tidak ada satu pun bangunan bertuliskan ”Garuda” yang berdiri di sekitar pertigaan.

Hanya deretan toko, halte, dan papan nama bank yang menatap jalanan yang tak pernah sepi. Sore itu, di titik yang dimaksud para kernet, berdiri dua kantor bank BUMN dengan tampilan modern.

Tidak ada tanda-tanda peninggalan gedung tua. Hanya aktivitas perbankan biasa dan para juru parkir yang mondar-mandir mengatur kendaraan. Namun di balik suasana yang begitu biasa, tersimpan masa lalu yang tidak banyak diketahui generasi sekarang.

”Dulu memang di sini ada bioskop. Namanya Garuda. Sudah lama dibongkar, sekitar tahun 2000-an,” tutur Hidayat, juru parkir di sana.

Hidayat yang kini berusia 30 tahun, mengaku tidak pernah menyaksikan langsung film di gedung tersebut. Namun ia tumbuh dengan cerita-cerita para orang tua dan warga lama di sekitar Mondoroko. Dari ingatan itulah ia tahu bahwa bioskop itu pernah sangat hidup, terutama pada masa Presiden Soeharto.

Bangunannya besar, berdiri menghadap barat, menempati lahan yang kini menjadi kantor dua bank besar itu. Ia menggambarkan bentuknya dengan cukup jelas. Dua lantai dengan masing-masing lantai memiliki fungsi berbeda.

Lantai bawah digunakan sebagai studio mini. Sementara lantai atas menjadi studio utama yang bisa menampung jauh lebih banyak penonton. Bentuk bangunannya memanjang ke belakang, sebuah struktur yang kontras dengan desain bangunan modern yang kini berdiri di sana.

”Dulu juga ada tempat biliar di pojok, di area yang sekarang dipakai BRI,” kenangnya.

Meski sudah lama tiada, nama Garuda bukanlah sesuatu yang asing bagi warga Singosari. Mereka yang sempat merasakan masa kejayaannya menyebut bioskop itu sebagai salah satu hiburan utama pada era sebelum televisi berwarna merata. Harga tiketnya sangat terjangkau.

Pada masa awal, pengunjung hanya perlu merogoh Rp 150 untuk menikmati film. Mulai dari film laga seperti Brama Kumbara, aksi komedi Warkop DKI, hingga horor klasik era 1970-an mewarnai layar bioskop Garuda.

Salah satu judul yang masih diingat Hidayat adalah film ”Ingin Cepat Kaya (Babi Jadi-jadian)” yang tayang pada 1976. Seiring waktu, harga tiket naik menjadi Rp 1.500 seiring peningkatan inflasi dan perubahan industri film. Namun penonton tetap datang memenuhi kursi dari pagi hingga malam hari.

Bioskop Garuda bukan hanya ada di Singosari. Di Malang Kota, ada bangunan lain dengan nama serupa. Dulu milik ABRI yang kini berubah fungsi menjadi gedung olahraga bulu tangkis. Kesamaan nama itu memunculkan dugaan bahwa keduanya mungkin masih dalam satu jaringan kepemilikan.

”Mungkin karena kawasan ini dulu dikelilingi kompleks militer. Di timur ada TNI AU, di selatan Koramil Singosari,” ujar Hidayat sambil tersenyum.

Pendapat itu punya dasar. Pemerhati sejarah Malang Agung Harjaya Buana mengatakan, nama Garuda untuk bioskop bukanlah hal langka. ”Bioskop Garuda ada di Surabaya, Malang, bahkan kota-kota lain di Jawa dan luar Jawa,” ujarnya.

Catatan-catatan sejarah menunjukkan nama itu tersebar di Depok, Tasikmalaya, Purwokerto, Ambarawa, Sragen, Probolinggo, hingga Kota Kediri. Meski begitu, pemilik atau pengelola resminya tidak banyak terekam.

Agung menduga nama Garuda dipilih bukan sekadar simbol nasional, tetapi berkaitan dengan sejarah pasukan perdamaian Indonesia. Pada era 1960-an, anggota TNI yang ditugaskan ke Kongo mendapat sebutan Pasukan Garuda, lengkap dengan seragam kebanggaan dan berbagai penghargaan ketika mereka pulang.

”Bisa jadi ada kedekatan secara emosional dengan korps, sehingga nama Garuda dipakai untuk beberapa fasilitas,” ujarnya.

Namun seperti banyak kisah tempat hiburan lainnya, perkembangan zaman menjadi tantangan besar bagi bioskop-bioskop lokal. Ketika jaringan bioskop 21 mulai berkembang pesat pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, gedung-gedung film non-jaringan mulai meredup. Penonton beralih ke fasilitas yang lebih modern dengan kualitas layar lebih baik dan penataan ruang lebih nyaman.

”Sekitar 1988 sampai 1990, bioskop 21 mulai naik daun. Banyak bioskop kecil yang tidak sanggup bersaing,” jelas Agung.

Bioskop Garuda Singosari mengalami hal serupa. Tahun 1998, ketika Indonesia memasuki era reformasi, layar bioskop itu padam untuk terakhir kalinya. Dua tahun kemudian, bangunannya dibongkar, digantikan bangunan bank yang berdiri hingga hari ini. Yang tersisa hanyalah nama yang terus hidup lewat teriakan kernet bus dan ingatan samar warga sekitar. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
#Penumpang #bank bumn #Bioskop #bus ekonomi #Gedung Tua