MALANG KOTA - Kawasan Jalan Veteran hingga Jalan Bandung dianggap membutuhkan kantong parkir khusus. Tujuannya untuk mengurai kemacetan yang disebabkan banyak kendaraan terparkir di pinggir jalan. Usulan pembangunan kantong parkir itu disampaikan anggota DPRD Kota Malang.
Seperti diketahui, pada jam berangkat dan pulang sekolah, di Jalan Bandung sering macet karena membludaknya kendaraan penjemput siswa. Hal serupa juga sering terjadi di Jalan Veteran. Banyak kendaraan yang terparkir di bahu jalan.
Padahal, titik itu sudah ditetapkan sebagai Kawasan Tertib Laku Lintas (KTL). Beberapa kali penindakan yang dilakukan Pemkot Malang juga tak menimbulkan efek jera. Masih ada beberapa kendaraan yang parkir sembarangan di dua titik tersebut.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi menyampaikan, tidak hanya penindakan parkir liar saja yang dibutuhkan. Namun juga perlu diiringi dengan pembangunan fasilitas baru. Salah satunya kantong parkir.
Dito menerangkan, Pemkot Malang bisa memanfaatkan kolaborasi hexahelix dengan kampus untuk pembangunan fasilitas ini. Jadi ada opsi tidak menggunakan APBD Kota Malang.
”Di Jalan Veteran sampai Jalan Bandung ini sumber macet. Jadi perlu terobosan baru dengan pembangunan parkir,” tegas Dito.
Selama ini, dia menilai kolaborasi hexahelix masih sebatas formalitas. Belum ada tindakan nyata dari pemerintah maupun perguruan tinggi.
”Dari penuturan pemkot ada forum bersama rektor, tapi saya memandang hanya pertemuan formalitas saja. Perlu ada tindakan nyata, salah satunya fasilitas parkir ini,” kata legislator daerah pemilihan Lowokwaru itu.
Jika terealisasi, tidak ada lagi alasan kendaraan parkir di pinggir jalan. Seluruhnya bisa diarahkan ke titik tersebut. Sehingga lalu lintas bisa berjalan dengan baik tanpa hambatan.
Menanggapi usulan itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bakal membicarakan usulan itu di forum rektor. Beberapa kali pihaknya telah melakukan pertemuan untuk membahas kerja sama dengan perguruan tinggi.
”Pembangunan parkir itu bisa saja menggunakan skema CSR,” ujar Wahyu.
Namun, pemilik kursi N1 itu menambahkan, realisasi titik parkir juga harus mempertimbangkan ketersediaan anggaran perguruan tinggi. Sebab, biaya operasionalnya cukup tinggi. (adk/by)
Editor : Aditya Novrian