Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jangan sampai Salah Kaprah, Ini Penjelasan Mengapa Kelapa Sawit Tidak Bisa Menjadi Pengganti Pohon

A. Nugroho • Rabu, 3 Desember 2025 | 21:22 WIB

SAWIT: Kelapa sawit tidak bisa menggantikan pohon hutan dalam penyerapan air
SAWIT: Kelapa sawit tidak bisa menggantikan pohon hutan dalam penyerapan air

RADAR MALANG - Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di beberapa daerah Sumatera pada awal 2025 membuat banyak orang mulai mempertanyakan kondisi lingkungan saat ini. 

Situasi tersebut memicu diskusi soal perubahan tutupan lahan, terutama ketika perkebunan kelapa sawit semakin meluas dan dianggap oleh sebagian pihak mampu menggantikan fungsi pohon di alam. Topik ini penting untuk dibahas karena hutan memegang peran besar dalam menjaga kestabilan ekosistem dan keselamatan masyarakat.

Jika kamu melihat bagaimana banjir besar merendam ribuan rumah dan memutus akses jalan, jelas terlihat bahwa peran pepohonan tidak bisa digantikan begitu saja oleh tanaman monokultur seperti kelapa sawit. 

Pohon hutan memiliki karakter yang jauh lebih kompleks, baik dari segi struktur akar maupun keragaman hayati. Karena itu, memahami perbedaan dasar antara sawit dan pohon hutan akan membantu kamu melihat akar masalah bencana ini dengan lebih jelas.

 

  1. Sistem akar sawit tidak mampu menahan air 

Sistem akar kelapa sawit lebih dangkal dibandingkan pohon hutan. 

Kondisi ini membuat kemampuan tanah dalam menyerap dan menahan air menjadi lebih rendah. Pohon hutan memiliki akar yang lebih dalam sehingga menjaga struktur tanah lebih stabil.

Ketika hujan deras turun, air seharusnya bisa diserap perlahan oleh tanah yang dibantu oleh akar pohon. Namun pada area perkebunan sawit, air cenderung mengalir lebih cepat dan meningkatkan potensi banjir. 

Hal ini terlihat pada beberapa wilayah yang mengalami perubahan tutupan hutan menjadi kebun sawit dan kemudian menghadapi banjir yang lebih parah.

  1. Sawit mengurangi keanekaragaman hayati 

Perkebunan sawit biasanya terdiri dari satu jenis tanaman dalam bentang lahan luas. Kondisi ini menyebabkan hilangnya habitat satwa liar dan menurunkan keragaman vegetasi. 

Hutan alami merupakan rumah bagi berbagai flora dan fauna yang saling berkaitan. Ketika hutan diganti sawit, keseimbangan ekosistem pun terganggu. 

Tidak ada lagi lapisan tanaman yang bertingkat dan tidak ada variasi pohon yang membantu menjaga siklus alam. Akibatnya, daya tahan lingkungan terhadap bencana juga menurun.

  1. Penyerapan karbon oleh tanaman sawit tidak setara dengan pohon hutan 

Sawit memang mampu menyerap karbon, tetapi jumlahnya tidak sebanding dengan kapasitas pohon besar di hutan tropis. 

Pohon hutan memiliki biomassa lebih padat dan umur lebih panjang, sehingga kontribusinya terhadap penyimpanan karbon jauh lebih tinggi.

Jika hutan hilang, kemampuan alam untuk menahan laju perubahan iklim ikut melemah. Ini menjadi masalah besar karena dampak perubahan iklim erat kaitannya dengan meningkatnya intensitas bencana seperti banjir dan cuaca ekstrem.

  1. Tanah di area perkebunan sawit lebih mudah terkikis

Lapisan tanah di bawah kebun sawit biasanya lebih terbuka dan kurang terlindungi dari erosi. 

Hutan memiliki lapisan dedaunan, semak, dan akar rapat yang menjaga tanah tetap kuat. Tanpa perlindungan itu, tanah akan lebih mudah terkikis saat hujan deras datang.

Erosi yang terus terjadi membuat struktur tanah kehilangan daya ikat. Akhirnya, risiko longsor pun lebih tinggi. 

Fenomena ini ikut memperburuk kondisi beberapa daerah di Sumatera yang menghadapi curah hujan tinggi.

  1. Tidak ada fungsi ekologis bertingkat seperti hutan 

Hutan memiliki fungsi ekologis berlapis mulai dari kanopi, batang, hingga permukaan tanah. Setiap lapisan memiliki peran penting dalam mengatur suhu, menjaga kelembaban, dan menjadi habitat berbagai makhluk hidup. 

Sementara, sawit tidak memiliki struktur ekologis berlapis seperti ini. Tanaman sawit cenderung menghasilkan tanah yang panas, kering, dan kurang mendukung kehidupan lain. 

Padahal fungsi ekologis yang kompleks sangat dibutuhkan untuk menjaga alam tetap seimbang dan meminimalkan risiko bencana.


Menjaga hutan bukan hanya soal melindungi pohon, tetapi juga menjaga keamanan dan masa depan masyarakat di berbagai daerah. Semakin banyak orang yang memahami hal ini, semakin besar peluang kita untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang. (kdk)

Editor : A. Nugroho
#Tutupan Lahan #akar #Banjir #vegetasi #perkebunan kelapa sawit