Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Banjir di Beberapa Titik Kota Malang, Diduga Akibat Drainase Tersumbat

A. Nugroho • Sabtu, 6 Desember 2025 | 16:47 WIB
RUMAH-RUMAH TERENDAM: Wali Kota Malang Wahyu Hidayat meninjau permukiman di Jalan Sidomulyo Gang III, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing yang terdampak banjir.
RUMAH-RUMAH TERENDAM: Wali Kota Malang Wahyu Hidayat meninjau permukiman di Jalan Sidomulyo Gang III, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing yang terdampak banjir.

MALANG KOTA – Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengungkap faktor yang menjadi penyebab banjir parah, Kamis lalu (4/12). Banjir di 39 titik yang merendam sekitar 73 rumah tersebut dipicu sumbatan sampah di beberapa saluran air.

Hal itu disampaikan Wahyu setelah lokasi terdampak banjir. Salah satunya di Jalan Sidomulyo Gang III, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing kemarin (5/12). Sehari sebelumnya, Wahyu juga meninjau rumah warga terdampak banjir di Jalan Kedawung, Kelurahan Tulusrejo, Lowokwaru.

Banjir di Jalan Sidomulyo, Wahyu mengatakan, penyebab awalnya adalah limpahan air dari jalan raya di sisi barat, yaitu Jalan Ahmad Yani. Air dari ruas jalan kemudian turun ke Sidomulyo Gang III karena wilayah itu merupakan cekungan.

Saat air masuk di Sidomulyo, dia melanjutkan, resapan dan saluran air di kawasan itu tidak berfungsi dengan baik. Dari peninjauan tersebut, tidak ditemukan adanya bak kontrol karena sudah tertutup oleh bangunan warga. 

"Air terus mendesak mencari jalannya, akhirnya menjebol rumah warga. Menggenangi 19 rumah di sini (kawasan Sidomulyo)," terang Wahyu.

Pihaknya bakal berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur melakukan perbaikan drainase di Jalan Ahmad Yani. Sedangkan di sisi internal, Wahyu mengaku sudah menginstruksikan dinas terkait untuk memetakan pembuatan bak kontrol. Tujuannya agar memudahkan pemantauan saluran air.

"Untuk sementara, kami akan memasang kantong pasir yang berfungsi sebagai tanggul. Selain itu juga akan dilakukan normalisasi sungai, karena ini gang kecil, kerja bakti bareng warga," tutur orang nomor satu di Pemkot Malang itu.

Selain di Sidomulyo, berkurangnya fungsi saluran air juga terjadi di beberapa titik. Salah satu yang disebut adalah di Jalan Kedawung. Di titik itu, Wahyu melihat sumbatan karena bangunan liar yang mempersempit saluran air. Serta sampah rumah tangga. "Kami membutuhkan kesadaran warga juga. Saat ini sedang kami normalisasi, diharapkan tidak membuang sampah sembarangan lagi," ucapnya.

Pemilik kursi N1 itu menambahkan, banjir di Jalan Kedawung juga diperparah oleh dua hal. Pertama, bozem di Kelurahan Tunggulwulung yang tak mampu lagi menampung luapan air. Kemudian pengerjaan drainase di Jalan Soekarno-Hatta (Soehat) belum tuntas.

"Di sisi utara (Polinema) sekarang tidak banjir lagi. Di sisi selatan (Pizza Hut) karena belum selesai serapan air tidak maksimal. Sehingga air itu terus turun ke bawah hingga Jalan Kedawung," tutur Wahyu.

Ketika pembangunan drainase Soehat rampung, dia optimistis genangan air di beberapa titik bisa berkurang. Tak hanya di Jalan Kedawung, tetapi juga di Jalan Sudimoro. 

"Di Jalan Letjen Sutoyo juga akan teratasi. Tahun sudah direncanakan pembangunan drainase, sekarang tahap lelang," tandasnya.

Senada dengan Wahyu, Koordinator Satgas Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Hari Widodo juga menyebut banjir disebabkan saluran air tidak berfungsi maksimal. 

”Sebagai contoh di aliran sungai yang berada tidak jauh dari RW 4 Purwantoro. Itu rutin kami normalisasi, tapi sedimen cepat menumpuk," ucap Hari.

Sehingga di sekitar lokasi rutin dikeruk untuk menghilangkan sedimen, sampah, maupun material lain yang membuat aliran air tersumbat. Selain karena penumpukan material, dia melanjutkan, ada saluran yang kondisinya semakin menyempit. Kemudian tertutup oleh bangunan-bangunan di sekitarnya. Seperti di RW 1 Kelurahan Tulusrejo, Lowokwaru. "Kami mendapati beberapa pelanggaran bangunan yang berdampak terhadap tertutupnya saluran," terang Heri.

Sebagai penanganan sementara, pemkot menerjunkan beberapa personel. Antara lain 10 personel dengan dibantu 1 alat berat dari DPUPRPKP Kota Malang. Mereka diminta melakukan normalisasi di aliran sungai di Purwantoro.

Untuk kecamatan lain, pihaknya masih menunggu koordinasi dari pimpinan. Sebab pasca-banjir, banyak kawasan yang terdampak. "Seperti di sekitar Jalan Letjen Sutoyo dan lainnya juga urgent untuk segera ditangani," sambung Hari.

Agus Setiabudi, warga RT 3 RW 4 Purwantoro menyampaikan, jika dihitung sejak November lalu, ini kali ketiga kawasannya dilanda banjir. Namun yang paling parah Kamis sore. "Biasanya hanya setinggi lutut orang dewasa. Kamis lalu (4/12) sampai setinggi leher," ungkap lelaki yang tinggal di sana selama 30 tahun itu.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang Prayitno menerangkan, dampak terparah banjir Kamis lalu (4/12), berada di Kecamatan Blimbing. 

Ada dua kelurahan yang terendam banjir parah. Yakni Purwodadi dan Sidomulyo. "Di Purwodadi 43 rumah terendam banjir dan Sidomulyo ada 19 rumah. Tak hanya terendam, di Sidomulyo juga ada dua rumah yang temboknya jebol," tuturnya.

Sedangkan satu kelurahan lain yang terendam banjir di Tulusrejo, tepatnya Jalan Kedawung. Di sana ada 11 rumah yang terendam dengan satu rumah paling parah ketinggian mencapai 160 centimeter. 

BPBD menerjunkan perahu karet untuk mengevakuasi penghuni rumah tersebut. "Di Sukun juga ada yang terdampak banjir. Dari pemantauan di kawasan Jalan Bukit Barusan dan Jalan Terusan Sigura-gura," papar Prayitno. Ditanya mengenai kerugian material, BPBD masih melakukan pendataan. Nantinya pendataan dilakukan secara detail tentang barang apa saja yang hanyut terbawa air. (adk/mel/dan)

Editor : A. Nugroho
#Drainase #Wali Kota Malang #rumah warga #Banjir #saluran air