MALANG KOTA – Angka pekerja dari kalangan perempuan terus meningkat dari tahun ke tahun. Badan pusat statistik (BPS) Kota Malang mencatat, tahun 2022-2023 ada 168.921 pekerja, kemudian meningkat menjadi 179.164 jiwa. Terbaru, jumlahnya menembus 183.566 pekerja. Mayoritas bekerja di sektor tersier, seperti jasa, perdagangan, dan hiburan (selengkapnya lihat grafis)
Staff Pengolah Data BPS Kota Malang Yenita Mirawanti mengungkap, angka pekerja perempuan pada 2022 lalu masih berkisar 37,3 persen. Setahun kemudian meningkat menjadi 38,9 persen, berlanjut 40,2 persen. ”Untuk pekerja sektor primer itu paling sedikit jumlahnya,” ujar Yenita kemarin.
Sektor primer yang dia maksud adalah pertanian, kehutanan, peternakan dan pertambangan. Kemudian untuk sektor sekunder meliputi industri, konstruksi, listrik, dan air. Jumlah pekerja di sektor sekunder lebih tinggi dibanding primer, namun masih kalah dibanding sektor tersier. ”Paling banyak memang para perempuan ini bekerja di sektor tersier,” tambahnya.
Pada 2022, BPS mencatat 138.444 perempuan bekerja di sektor tersier. Angkanya bertambah menjadi 138.813 pada 2023, lalu pada 2024 mencapai 142.908 pekerja.
Di lain pihak, Kepala Disnaker-PMPTSP Kota Malang Arif Tri Sastyawan mengatakan, pihaknya juga mendata pencari kerja perempuan. Namun data yang masuk hanya berdasar jumlah pemohon kartu kuning. ”Dari kartu pendaftaran pencari kerja atau kartu kuning, tahun 2025, dari Januari sampai 30 November lalu tercatat 391 perempuan pencari kerja,” kata dia.
Arif menyebut yang mendominasi pendaftaran pencari kerja adalah calon pekerja migran Indonesia (CPMI). Jumlahnya mencapai 190 jiwa. Sisanya di sektor-sektor lain seperti industri, pabrik rokok, dan banyak lainnya.
Selain memfasilitasi warga Kota Malang, termasuk para perempuan untuk mencari kerja, disnaker juga menggelar berbagai pelatihan. Tujuannya untuk meningkatkan keterampilan bagi mereka yang belum mendapat pekerjaan.
Selama 2025, disnaker menggelar pelatihan creator content, barista, tour travel guide, tata boga, olahan pangan, hingga administrasi perkantoran. Beberapa pelatihan itu diperuntukkan bagi masyarakat umum. ”Namun dari total 337 peserta yang berpartisipasi, 231 peserta di antaranya adalah perempuan,” beber Arif.
Arif mengatakan, dari testimoni perempuan yang menjalani pelatihan di disnaker-PMPTSP Kota Malang, banyak yang merasa terbantu. "Ada yang terkesan karena pelatihan yang diberikan asyik, bermanfaat, dan berharap pelatihan yang diberikan di berbagai bidang semakin merata," sambung Arif.
Selain bekerja di perusahaan, dia mengatakan, ada pula perempuan yang memutuskan untuk berwirausaha. Salah satunya Meilina, pendiri Griya Madukara. Sejak 2018 lalu, Meilina mengelola usaha kerajinan batik dan eco-print.
Meilina memutuskan berwirausaha setelah suaminya pensiun dini dari perusahaan lama di Balikpapan. Padahal saat itu keduanya masih fokus membesarkan ketiga anaknya yang belum dewasa, sehingga masih membutuhkan pendidikan.
Dari Kota Balikpapan, keduanya hijrah ke Kota Malang. Di sana, keduanya membuka usaha rumah kos. Sembari mengelola kos, suami Meilina juga menerima kerja berdasarkan proyek. Sementara Meilina yang dulunya mengelola usaha es tubles di Kota Balikpapan, akhirnya fokus mengurus ketiga anak.
Namun Meilina merasa perlu mengembangkan diri. Dia tidak ingin hanya menggantungkan perekonomian keluarga dari suami dan usaha kos. Lalu pada 2018 dia mendapat informasi bahwa pemkot menggelar pelatihan kerajinan. Mengetahui itu, Meilina ikut beberapa pelatihan seperti pembuatan batik dan eco print. "Dari keterampilan yang saya dapatkan di pelatihan, saya merasa ketagihan untuk menekuni eco print sampai sekarang," cerita Meilina.
Menurut perempuan kelahiran Surabaya itu, eco print memiliki banyak keuntungan. Seperti limbah yang dihasilkan relatif aman. Lalu bekas daun untuk mencetak motif eco print juga bisa diolah ulang menjadi pupuk.
Sejak itu, Meilina mendirikan Griya Madukara. Dia tidak hanya membantu perekonomian keluarga, tapi juga membantu perempuan-perempuan lain yang menjadi mitra usahanya. Ada enam perempuan dan 1 laki-laki yang kini bermitra dengan usahanya. Ada mitra penjahit, mitra produksi kain, mitra penjahit tas kain, hingga mitra pembuat tas kulit.
Kebanyakan mitra perempuan ditemui Meilina dari kegiatan pelatihan. Meski jumlah mitra Meilina masih terbatas, tapi dia merasa bersyukur. Sebab dia bisa membantu perempuan-perempuan lain dalam pemberdayaan ekonomi.
Dari yang dipelajari Meilina, perempuan sebenarnya juga butuh aktualisasi. Meilina sendiri merasa senang karena lewat usaha Griya Madukara bisa punya penghasilan. "Kalau anak-anak butuh uang saku, saya bisa memberi. Demikian pula kalau saya butuh sesuatu, saya bisa mencari sendiri sekaligus membantu suami juga," tegasnya.(adk/mel/dan)
Editor : A. Nugroho