Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Hunian di Bawah Rp 500 Juta Mulai Langka, Pengembang Sulit Tambah Unit Baru Karena Harga Tanah Tinggi

Galih R Prasetyo • Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:19 WIB
ILLUSTRASI: Tekanan biaya lahan yang terus meningkat membuat pengembang kesulitan menyediakan hunian terjangkau di bawah Rp 500 juta.
ILLUSTRASI: Tekanan biaya lahan yang terus meningkat membuat pengembang kesulitan menyediakan hunian terjangkau di bawah Rp 500 juta.

MALANG KOTA - Kebutuhan masyarakat terhadap hunian dengan harga di bawah Rp 500 juta masih cukup tinggi. Sayangnya, jumlah unit yang tersedia terus berkurang. Utamanya di Kota Malang. Pengembang juga kesulitan untuk menambah unit-unit baru.

 Itu karena harga tanah di Kota Malang makin melambung. Saat ini, rata-rata harga tanah per satu meter persegi berada di kisaran Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta. Sementara pengembang baru bisa membangun rumah dengan harga jual di bawah Rp 500 juta apabila harga tanah di kisaran Rp 1 juta per meter persegi.

 ”Selain harga tanah makin melambung, kami juga terbentur faktor perizinan,” ujar Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Malang Raya Doni Ganatha. Berdasar Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Malang, ketersediaan tanah ditentukan berdasar tingkat kepadatan penduduk.

 Untuk wilayah dengan kepadatan tinggi, baru boleh membangun satu unit rumah dengan luas tanah minimal 60 meter persegi. Untuk wilayah dengan kepadatan sedang, minimal luas tanah pembangunan rumah berkisar 90 meter persegi. Sementara itu, harga tanah di wilayah kepadatan tinggi seperti Kecamatan Klojen dan Kecamatan Lowokwaru sudah sangat tinggi.

 Karena itu, banyak pengembang yang bergeser mencari tanah di wilayah kepadatan sedang. Contohnya di wilayah pinggiran Kota Malang. Juga di wilayah Kabupaten Malang yang dekat dengan Kota Malang. Dengan aturan itu, harga rumah tetap tidak bisa di bawah Rp 500 juta. Sebab, minimal luas tanah yang dibutuhkan pengembang cukup besar. ”Melihat tren penjualan tahun lalu, segmen rumah di bawah Rp 500 juta memang paling tinggi (permintaannya),” lanjut Doni. Bahkan di klaster miliknya di The Ariana Land by Podo Rukun Group, kini hanya tersisa kurang dari 100 unit saja.

 Untuk segmen rumah di harga Rp 1 miliar sampai Rp 3 miliar, penjualannya cenderung stabil. Seperti disampaikan Manajer CitraLand Puncak Tidar Deddy Hasli Hidayat. Tahun 2024 lalu di tempatnya terjual sebanyak 18 unit. Sementara tahun 2025 meningkat jadi 26 unit.

 ”Paling stabil penjualan rumah di atas Rp 3 miliar,” ujar Deddy. Sebab, user dengan daya beli rumah semahal itu cenderung memiliki finansial stabil dan tidak terpengaruh kondisi ekonomi yang bergejolak. Untuk itu, ke depan CitraLand Puncak Tidar bakal lebih fokus pada segmen rumah premium dengan harga Rp 4 miliar hingga Rp 6 miliar.

 Hal yang sama juga disampaikan Buche Corius, Marketing The Araya. Kini, perumahannya mempertahankan segmen rumah dengan harga Rp 1 miliar sampai Rp 3 miliar. Sekaligus membidik pasar lebih tinggi dengan harga rumah Rp 4 miliar ke atas.

 ”Meski penjualan 2025 masih di bawah target, kami meningkatkan target tahun ini hingga 25 persen,” ujar dia. Itu setelah pihaknya melihat kondisi ekonomi yang mulai stabil. Selain itu, segmen perumahan mewah memang terus berkembang dari tahun ke tahun.

 Optimisme serupa juga disampaikan Wakil Ketua Bidang Perbankan DPD Real Estat Indonesia (REI) Jawa Timur Suwoko. Pihaknya optimistis bisa mencapai angka penjualan yang lebih baik dibanding 2025 lalu. Itu setelah adanya program Kredit Usaha Rakyat Program Perumahan (KUR KPP).

 Program tersebut adalah subsidi bunga dari pemerintah untuk UMKM di sektor perumahan. ”Melalui KUR KPP, pengembang bisa melakukan pinjaman hingga Rp 5 miliar per akad,” jelasnya. Lelaki yang juga pengusaha rumah di Kabupaten Malang dan Kota Batu itu memprediksi pada tahun ini ada 500 sampai 700 unit rumah komersial yang bisa dijual.

 Angka tersebut merupakan proyeksi total di REI Malang Raya. ”Karena jumlah anggota REI yang aktif di Malang Raya sekitar 70 pengembang," sebut dia, kemarin. Jika dirata-rata per bulan, sedikitnya ada 8 unit rumah komersial yang bisa dijual oleh para pengembang. Untuk tipe rumah yang ditawarkan adalah tipe 60 dan tipe 70.

 Dengan harga yang ditawarkan berkisar antara Rp 700 juta sampai Rp 2 miliar. ”Sekarang yang lagi dicari untuk rumah komersial ya dua tipe itu. Di dalamnya biasanya ditawarkan fasilitas seperti kapasitas dua lantai, ruang terbuka hijau, hingga carport,” papar Suwoko. Selain fasilitas pelengkap, pengembang juga mempertimbangkan pengembangan rumah yang dekat dengan fasilitas publik.

 Misalnya saja yang dekat dengan pintu tol, pusat perbelanjaan, kawasan industri, dan sekolah. Karena itu, pengembangan perumahan komersial sekarang mengarah ke beberapa kawasan. Seperti Jalan Candi Panggung yang dekat dengan Karangploso. Serta Kecamatan Sukun yang berbatasan dengan Kabupaten Malang.

 Namun karena keterbatasan lahan di Kota Malang, penjualan rumah komersial sekarang tidak hanya berupa rumah baru. Ada pula penjualan rumah kedua. ”Selain itu, secara tren sekarang masyarakat tidak hanya mencari rumah untuk dihuni. Memang sekitar 60 persen untuk dihuni, tapi sisanya sebanyak 40 persen untuk investasi,” beber Suwoko.

 Dia memberi contoh, ada yang membeli rumah komersial untuk digunakan kembali menjadi rumah kos. Untuk rumah kos yang banyak dicari berada di Kecamatan Lowokwaru. Terutama yang berdekatan dengan kampus atau pusat pendidikan lainnya. (aff/mel/by)

Editor : Aditya Novrian
#apersi #hunian #perumahan malang