Istilah ini diyakini baru terbentuk pada pertengahan abad ke-20. Kata mobrot-mobrot bisa digunakan untuk menggambarkan beberapa kondisi. Yang pertama untuk menggambarkan penampilan seseorang yang tidak rapi.
”Tapi ada juga yang mengartikan berpakaian dengan ukuran kebesaran atau kedodoran,” Budayawan Malang Dwi Cahyono. Pemilik Yayasan Inggil tersebut menyebut bahwa istilah itu umum digunakan di Jawa Timur. Khususnya daerah yang kental dengan budaya Arekan. Seperti di Surabaya, Malang Raya, Sidoarjo, dan sekitarnya.
Baca Juga: Kamus Bahasa Malangan: Taligoci, Istilah Lawas Permainan Layangan yang Mulai Jarang Dikenal
Dia menduga bahwa usia penggunaannya tergolong baru. ”Itu awal-awal presiden Soeharto naik, atau setelah G-30S PKI mulai banyak diucapkan,” ujar dia. Di daerah lain, istilah mobrot-mobrot juga bisa digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tercecer.
Istilah itu termasuk dalam kata deskriptif. Yang menggambarkan suatu keadaan tertentu. Mobrot-mobrot juga termasuk bahasa gaul yang biasa digunakan sehari-hari. (biy/by)
Editor : Aditya Novrian