BAKAT Arrcely Evina Purnomo tumbuh tanpa aba-aba. Ia muncul begitu saja dari kebiasaan kecil meniru teman sebangku di taman kanak-kanak, lalu berkembang menjadi keseriusan yang mengantar langkahnya ke berbagai kompetisi.
Dari paduan suara sekolah hingga Indonesian Idol, perjalanan Arrcely dipenuhi latihan keras dan keputusan berani keluarganya. Momen pertama yang menyadarkan sang ibu, Fanny Oktaviana, terjadi sekitar enam belas tahun silam. Dari kamar mandi rumah mereka, Fanny mendengar Arrcely kecil menyanyikan lagu dengan vibrato yang rapi. Ia spontan tertegun.
”Saat saya tanya, kenapa kok bisa bernyanyi seperti itu, dia bingung,” kenang Fanny. Bagi perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter gigi itu, kemampuan tersebut terasa tak biasa untuk anak seusianya.
Belakangan Fanny mengetahui bahwa Arrcely kerap memperhatikan teman dekatnya, Cornellia Nadya Natassia, saat bernyanyi. Keduanya merupakan teman sebangku di TK Panderman. Dari kebiasaan meniru itu, ketertarikan Arrcely pada dunia tarik suara mulai tumbuh. Mereka kemudian sama-sama bergabung dalam kelompok paduan suara sekolah, bina vokalia. Di sanalah Arrcely mulai mengenal disiplin bernyanyi dalam sebuah tim.
Memasuki kelas 2 sekolah dasar, Fanny menawarkan Arrcely untuk mengikuti les vokal. Awalnya Arrcely menolak. Namun Fanny tak ingin potensi putrinya terlewat begitu saja. Setelah dibujuk perlahan, Arrcely akhirnya bersedia mencoba.
Sejak saat itu, Fanny aktif mencari tempat kursus terbaik untuk mengasah kemampuan anaknya. Sejumlah studio vokal di Kota Malang pernah menjadi tempat belajar Arrcely, mulai dari Swara Narwastu, Purwa Caraka Music Studio, hingga Gracioso Sonora.
Setiap tempat memberikan pengalaman berbeda, baik dalam teknik pernapasan, penguasaan nada, maupun pembentukan karakter suara. Seiring meningkatnya frekuensi mengikuti lomba, Fanny merasa Arrcely membutuhkan tantangan yang lebih besar.
Kesempatan itu datang ketika Arrcely diminta mewakili sekolahnya dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional tingkat Kota Malang. Waktu persiapan yang hanya sekitar satu bulan membuat Fanny mengambil langkah berani. Ia meminta izin kepada pihak sekolah untuk membawa Arrcely berlatih ke Semarang.
”Jadi selama persiapan itu, kami riwa-riwi dari Kota Malang ke Kota Semarang,” ungkap Fanny. Dalam sepekan, mereka bisa menempuh perjalanan tersebut satu hingga dua kali. Di Semarang, Arrcely ditempa oleh tiga pelatih sekaligus. Ia mengasah lagu pop, memperdalam lagu daerah, sekaligus berlatih koreografi. Salah satu pelatih bahkan memiliki pengalaman sebagai juri FLS2N, sehingga memahami standar penilaian kompetisi.
Latihan intens itu membuahkan hasil. Dengan membawakan Anoman Obong karya Waldjinah dan Ulan Andung Andung ciptaan Sumiati, Arrcely berhasil meraih juara pertama. Kemenangan tersebut menjadi tonggak penting yang memperkuat kepercayaan dirinya.
Bagi Fanny, setiap kompetisi selalu dipersiapkan dengan strategi matang. Ia terbiasa melakukan riset sebelum mendaftarkan Arrcely. Latar belakang juri, persyaratan lomba, hingga karakter peserta dipelajari dengan saksama.
”Kalau ikut kompetisi harus menyiapkan strategi. Karena kalau asal saja dan kalah terus, anak lama-lama pasti down,” ujarnya.
Pendekatan itu terlihat saat Arrcely mengikuti kompetisi Bintang Radio. Meski pilihan lokasi di Solo sempat diprotes Arrcely dan ayahnya, Nico, Fanny tetap bersikeras. Ia menilai kualitas peserta di Solo lebih beragam dan menantang. Arrcely menjadi peserta termuda di antara penyanyi kafe dan wedding singer dengan jam terbang tinggi. ”Jadi meskipun tidak menang, tapi bisa dapat pengalaman lebih,” tambah Fanny.
Langkah Arrcely kemudian menembus ajang internasional. Ia pernah mengikuti kompetisi menyanyi di Singapura dan meraih posisi runner-up. Rangkaian prestasi tersebut membuka jalan akademiknya. Arrcely diterima di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi.
Meski menjalani pendidikan yang menuntut disiplin tinggi, kecintaannya pada musik tidak surut. Ia bergabung dengan paduan suara Denta Chestra dan menjalani latihan rutin di sela jadwal kuliah. Padatnya aktivitas sempat membuat Fanny heran.
”Saya sampai pernah bertanya ke dia, kamu itu kuliah kedokteran gigi atau kuliah kesenian,” ucapnya sambil tertawa.
Bagi Arrcely, menyanyi justru menjadi ruang untuk melepas penat dari tekanan akademik. Ia menikmati perannya sebagai mahasiswa kedokteran gigi sekaligus penyanyi. Tahun 2025 menjadi babak baru ketika ia mendapat kesempatan mengikuti Indonesian Idol musim ke-14, ajang yang sejak kecil ia impikan. Jika sebelumnya orang tua menahan langkahnya demi fokus pendidikan, kini dukungan diberikan sepenuhnya.
Arrcely berhasil menembus tahap Spektakuler Show, sebuah capaian yang menandai perjalanan panjang sejak masa kanak-kanak. Dari kamar mandi rumah hingga panggung nasional, setiap langkahnya dibangun oleh latihan, strategi, dan dukungan keluarga. Bagi Arrcely, menyanyi bukan sekadar hobi, melainkan perjalanan hidup yang terus ia jalani sambil meniti masa depan. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian