Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dampak Konflik Timur Tengah, 85 Persen Kapal Internasional Terlambat Masuk Pelabuhan Tanjung Perak

Aditya Novrian • Senin, 9 Maret 2026 | 15:45 WIB

 

Dampak adanya konflik di Timur Tengah, 85 persen kapal internasional terlambat. (Freepik)
Dampak adanya konflik di Timur Tengah, 85 persen kapal internasional terlambat. (Freepik)

SURABAYA – Dampak adanya konflik di Timur Tengah terasa di Pelabuhan Tanjung Perak. Salah satu efeknya, adanya keterlambatan kapal internasional masuk ke pelabuhan. Itu karena, operator kapal terpaksa harus mencari jalur alternatif.

SVP Sekretariat Perusahaan PT Pelindo Terminal Petikemas Raden Mas Kumara Anindhita Widyaswendra membenarkan adanya fenomena tersebut. Sebanyak 85 persen kapal internasional yang masuk mengalami keterlambatan akibat perubahan rute pelayaran dan gangguan jadwal global. Meski demikian-Wendra sapaan akrab Widyaswendra-memastikan volume ekspor tetap terjaga.

”Volume ekspor masih terjaga. Bahkan, tahun ini targetnya 75 ribu TEUs,” kata Wendra. Menurutnya, mayoritas kapal internasional mengalami delay karena tidak dapat melintasi jalur pelayaran normal.

Perubahan tersebut memicu gangguan window service mingguan dan penyesuaian jadwal sandar di sejumlah pelabuhan. Termasuk, di Surabaya. ”Jadi, keterlambatan ini bukan karena kesiapan terminal. Namun efek domino dari perubahan jadwal global,” ujar Wendra
Pelindo memperkirakan dampak penuh konflik global terhadap arus logistik baru akan terlihat dalam dua hingga empat pekan ke depan. Itu seiring proses penyesuaian rute dan jadwal pelayaran internasional.

Sementara itu, Ketua DPC Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Surabaya Stenvens H. Lesawengen menambahkan, penutupan Selat Hormuz berpotensi menambah beban tarif angkutan. Pengalihan rute dan risiko keamanan dipastikan bakal mengerek ongkos kirim (freight) menjadi lebih mahal. Terutama bagi kargo yang berasal dari kawasan Persian Gulf.

”Dan ada dua faktor krusial yang patut diwaspadai. Yakni ketersediaan dan harga bahan bakar,” jelasnya. Jika eskalasi perang di Iran berlanjut, bukan tidak mungkin harga bahan bakar kapal akan ikut terkerek naik dan membebani biaya operasional anggota INSA. Harapannya, stok BBM tetap aman dan konflik ini segera berakhir agar tidak memukul industri pelayaran lebih dalam. (zam/hen/gp)

 

Disunting kembali oleh Intan Nurlita Dewi

Editor : Aditya Novrian
#tanjung perak #kapal #konflik