MALANG KOTA, RADAR MALANG - Masih ada 4 juta meter kubik sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang yang harus dikelola Pemkot Malang. Jumlah itu belum termasuk produksi sampah harian masyarakat yang kini mencapai 900 ton per hari. Agar usia TPA bisa lebih panjang, pemkot sedang mempersiapkan sistem pirolisis faspol.
Itu merupakan teknologi fast pyrolysis (pirolisis cepat) generasi kelima. Dicetuskan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Bank Sampah Banjarnegara. Dengan pirolisis faspol, sampah plastik bisa diubah menjadi bahan bakar cair atau petasol yang setara dengan solar.
lh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang mengatakan, pirolisis faspol dipersiapkan sebagai ganti Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang batal dilakukan di TPA Supit Urang. PSEL dipusatkan di Kabupaten Malang seperti yang sudah disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup (LH) dalam pertemuan bersama sejumlah kepala daerah pada 29 Maret lalu.
Meski begitu, bukan berarti Kota Malang tidak menjadi bagian dari aglomerasi pengelolaan sampah melalui program PSEL. ”Polanya nanti, kami kirimkan 500 ton sampah untuk PSEL di Kabupaten Malang. Kemudian, sebanyak 250 ton sampah sudah dikelola di hulu dan sisanya sekitar 150 ton tetap dikelola di TPA Supit Urang,” jelas Raymond.
Baca Juga: PSEL Dipindah ke Kabupaten Malang, Pemkot Tetap Bisa Olah 500 Ton Sampah Per Hari
Dia melanjutkan, pengolahan sampah menggunakan teknologi pirolisis faspol sebenarnya sudah dimulai. Penerapannya dalam skala kecil sudah dimulai tahun lalu. ”Kami tempatkan alatnya di TPS Buring dan TPA Supit Urang. Untuk di TPA Supit Urang, kami tempatkan dekat Intermediate Treatment Facility (ITF),” imbuh dia.
ITF adalah bagian dari TPA Supit Urang. Fungsinya untuk mereduksi volume sampah sebelum sampah dimasukkan ke dalam TPA Supit Urang. Menurut Raymond, untuk pengadaan dua alat itu menggunakan APBD 2025. Nilainya sebesar Rp 1 miliar untuk masing-masing alat.
Secara kapasitas, setiap alat bisa mengolah sampah plastik sebanyak 200 kilogram. Sampah yang diolah berjenis low value atau yang paling murah. Seperti plastik bungkus kopi, plastik bungkus mie instan, hingga kresek.
Baca Juga: Pemkab Malang Butuh Rp2,7 M untuk Pabrik Olah Sampah, Solusi setelah Mesin RDF Berhenti
Sampah yang terkumpul itu lalu dibakar dan disuling hingga menghasilkan energi terbarukan. Lewat pirolisis faspol, ada dua jenis energi terbarukan yang bisa dihasilkan. Yakni batu bara sintetis dan petasol (bahan bakar minyak yang setara dengan Pertadex). ”Untuk petasol yang bisa dihasilkan antara 120 liter sampai 130 liter,” beber Raymond.
Sementara yang dihasilkan di TPS Buring dan TPA Supit Urang sekarang baru digunakan sebagai bahan bakar untuk operasional mesin diesel pada teknologi pirolisis faspol. Di mesin diesel tersebut terdapat gibrig yang berfungsi mengeringkan sampah plastik yang hendak diolah menggunakan pirolisis faspol.
”Namun, ada sebanyak 300 liter yang kami simpan. Rencananya akan kami gunakan untuk bahan bakar truk-truk sampah dulu,” sambung Raymond. Karena kapasitasnya masih kecil, proses pengolahan sampah tidak bisa dilakukan setiap hari. Biasanya pengolahan dilakukan setiap dua hari sekali kecuali Sabtu dan Minggu.
Ke depan, pihaknya akan melakukan pengadaan teknologi pirolisis faspol dalam skala besar. Kapasitasnya mencapai 150 ton per hari. Teknologi itu juga untuk mengelola 4 juta meter kubik sampah eksisting yang masih ada di TPA Supit Urang. (mel/by)
Editor : A. Nugroho