MALANG KOTA, RADAR MALANG - Hampir tiap bulan selalu ada pembukaan kafe dan restoran baru di Kota Malang. Berdasar data Pemkot Malang, saat ini ada 1.103 wajib pajak (WP) kategori kafe dan restoran. Jumlah itu naik ketimbang 2024 lalu.
Dari total jumlah WP itu, sekitar 50 persennya kerap berganti nama atau rebranding dalam waktu dua tahun. Alasan utama melakukan rebranding karena persaingan usaha yang makin ketat. Ditambah, masyarakat Kota Malang cenderung mengikuti tren yang berubah tiap waktu.
Bila dipetakan lebih lanjut, rata-rata modal awal yang diajukan saat mengakses Online Single Submission Risk Based Approach (OSS-RBA) senilai Rp 500 juta sampai Rp 2,5 miliar. Nominal itu masuk kategori bisnis risiko rendah. Untuk itu, persyaratan yang diperlukan lebih sederhana.
Cukup mencantumkan Nomor Izin Berusaha (NIB), analisis dampak lalu lintas (andalalin), dan izin mendirikan bangunan (IMB).Meski modal awal cenderung kecil, butuh waktu setidaknya 2 sampai 5 tahun bagi pelaku usaha untuk balik modal.
Dalam rentang waktu itu, penjualan harus stabil. ”Tapi biasanya belum sampai dua tahun kalau marketing dan identitas brand-nya kurang kuat, sudah sepi,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal, dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker PMPTSP) Kota Malang Arif Tri Sastyawan.
Baca Juga: Uang Perusahaan untuk Biayai Rebranding Kampung Tematik
Sepinya pelanggan itu menjadikan beberapa kafe dan restoran mau tidak mau tutup atau melakukan rebranding. Sebab karakter warga di Kota Malang masih fear of missing out (fomo). Sehingga tiap usaha harus memiliki kebaruan untuk merespons pasar yang mudah bosan.
Kecuali kafe atau restoran yang sudah memiliki identitas brand yang kuat dan ekosistem pelanggannya sudah terbentuk. Arif menjelaskan, fenomena tutup atau rebranding kafe dan restoran itu sering terjadi dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, persaingan kafe atau restoran terbilang masih sedang.
Namun sejak pandemi Covid-19 selesai, tepatnya kisaran tahun 2023, kafe dan restoran mulai bangkit dan membeludak. Lalu, ekosistemnya tidak sepenuhnya sehat.
Baca Juga: Rebranding Kemitraan, KAN Jabung Malang Hadirkan Hommart
Di tempat lain, Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Resto (Apkrindo) Kota Malang Indra Setiyadi menjelaskan bahwa perkembangan kafe tahun ini belum sepenuhnya bagus. Berbeda dengan tahun 2025 lalu. Kondisi itu berlangsung sejak bulan Ramadan, beberapa waktu lalu.
”Terlihatnya dari penjualan,” kata Indra. Dia sendiri tidak memiliki data pasti terkait capaian kafe di Kota Malang pada 2026. Namun, dia banyak mendapat cerita dari pelaku usaha kafe yang menjadi anggota Apkrindo Kota Malang.
Menurut cerita dari pelaku usaha kafe, ada penurunan penjualan. Penurunan tersebut diprediksi mencapai 15 persen. Ditambah lagi adanya ketegangan di kawasan Timur Tengah akibat perang antara Iran dan Israel-Amerika Serikat. Kondisi di timur tengah itu memengaruhi kenaikan harga bahan baku maupun kemasan seperti plastik.
”Misalnya saja, harga elpiji naik sekitar 30 persen. Kemudian harga plastik (naik) hampir 80 persen,” sebut lelaki yang juga pemilik Rumah Makan Kertanegara tersebut. (aff/mel/by)
Editor : A. Nugroho