Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Satu Hotel Baru di Malang Sumbang Investasi Rp 500 Miliar

Andika Satria Perdana • Selasa, 5 Mei 2026 | 12:58 WIB
EKONOMI MENGGELIAT: Hotel Aston di Jalan Sigura-gura, Kecamatan Lowokwaru tampak depan kemarin (4/5). Keberadaan hotel baru menandai tumbuhnya investasi di Kota Malang.
EKONOMI MENGGELIAT: Hotel Aston di Jalan Sigura-gura, Kecamatan Lowokwaru tampak depan kemarin (4/5). Keberadaan hotel baru menandai tumbuhnya investasi di Kota Malang.

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Capaian investasi pada triwulan per tama 2026 menunjukkan hasil positif. Menurut data yang dirilis Kementerian Investasi, realisasi mencapai Rp 1 triliun. Capaian tersebut didongkrak sektor UMKM dan pembangunan hotel baru.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker PMPTSP) Kota Malang Arif Tri Sastyawan mengatakan, target investasi tahun ini sebesar Rp 3,2 triliun. Dengan demikian realisasi investasi sudah 31 persen.

Baca Juga: Investasi Masa Depan, Cek 12 Program Studi Unisma yang Resmi Berpredikat Unggul

”Target kami kurang separo lebih, optimistis tahun ini tercapai,” ujarnya.

Arif menjelaskan, realisasi investasi masih didominasi sektor jasa, termasuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta perhotelan. Dia berharap pertumbuhan ivestasi terus terdongkrak dengan hadirnya usaha-usaha baru, terutama sektor perhotelan. Pembangunan satu hotel bintang lima, nilai investasinya bisa tumbuh minimal Rp 500 miliar. Sedangkan sudah ada beberapa rencana pembangunan hotel baru di Kota Malang. ”Mudah-mudahan dengan adanya hotel baru, target Rp 3,2 triliun bisa tercapai di akhir tahun,” tutur Arif.

Di sisi lain, dunia usaha tengah menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya produksi. Hal ini dipicu oleh meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Arif menuturkan, kondisi ini berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas usaha. ”Kenaikan BBM, walaupun non-subsidi membuat biaya produksi naik. Ini mutiplier effect dan cepat lambat bisa saja merembet ke sektor lain,” terangnya.

Baca Juga: Dorong Akses Investasi Emas Melalui Flexi Gold, Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas

Dia mencontohkan paling terdampak kondisi saat ini ada lah industri plastik. Kenaikan biaya produksi di sektor tersebut bahkan mencapai 30 hingga 70 persen. Karena me ningkatnya harga bahan baku yang berkaitan dengan BBM. “Kondisi ini berpotensi mendorong langkah efisiensi seperti pengurangan tenaga kerja. Saya belakangan ini terus menekankan ke pengusaha, jangan sampai ada PHK,” tandas Arif.

Untuk sektor padat karya seperti tekstil, Arif menyebut kondisi saat ini masih tergolong relatif stabil dan terkendali. Pihaknya berharap situasi ekonomi global segera membaik. Agar tidak berdampak lebih luas terhadap dunia usaha di Kota Malang. ”Ketika kondisi ekonomi terus memburuk, investor juga berpikir ulang untuk menggelontorkan modalnya,” pungkas Arif.(adk/dan)

Editor : A. Nugroho
#disnaker #investasi #sumbang #hotel