MALANG KOTA, RADAR MALANG - Sebanyak enam kloter haji yang berisi 1.198 jemaah dari Kota Malang sudah kembali. Diawali dengan kedatangan jemaah dari kloter 4 pada Selasa lalu (2/6). Kemudian kemarin (4/6), giliran empat kloter yang tiba di Lapangan Ki Angmor, Kecamatan Blimbing.
Humas Kantor Kementerian Haji (Kemenhaj) Kota Malang Ari Yulianto merinci, pada kloter 4 ada 13 jemaah. Mereka tiba pada Selasa dini hari (2/6) sekitar pukul 03.00. Kemudian ada kloter 10 yang berisi 43 jemaah.
Baca Juga: Dua Jemaah Haji Kabupaten Malang Wafat di Tanah Suci
loter tersebut tiba pada Rabu lalu (3/6) sekitar pukul 10.25. Sementara itu yang tiba kemarin (4/6) dari kloter 11 berisi 375 jemaah, kloter 12 374 jemaah, kloter 13 374 jemaah, kloter 14 17 jemaah, dan kloter 14 yang berisi 2 jemaah.
Mereka tiba di Lapangan Ki Armor secara bertahap mulai pukul 12.30.
”Kecuali kloter 13, informasinya baru sampai sekitar pukul 14.30 karena sempat delay selama 1,5 jam,” kata Ari. Setelah tiba di Lapangan Ki Armor, setiap jemaah langsung mengambil koper masing-masing.
Baca Juga: Jemaah Haji dari Kota Malang Dijadwalkan Kembali ke Tanah Air Mulai Awal Juni
Menurut Ari, kebijakan haji pada tahun ini salah satunya tidak diperbolehkan membuat jemaah menunggu terlalu lama. ”Jadi tidak ada seremoni yang lama. Koper juga harus diambil pada hari yang sama,” imbuhnya.
Ditanya terkait kondisi kesehatan jemaah, Ari memastikan bahwa seluruhnya sehat. Hanya ada dua jamaah yang berpulang yakni Fajar Puja Sasmita dan Fatkhu rohman. Keduanya meninggal dunia di Makkah karena sakit. Jenazah keduanya pun dimakamkan di sana.
Sementara itu, salah satu jemaah yang bernama Haidar Fattah Rizqy Santoso bersyukur bisa melaksanakan ibadah haji pada 2026 ini. Haidar diketahui menjadi salah satu jemaah haji termuda asal Kota Malang.
Dia masih berusia 16 tahun dan berangkat bersama ibu nya, yakni May Syaroh Bu chori. Keberangkatan Haidar ke tanah suci dalam rangka menggantikan ayahnya Dwi Santoso yang wafat pada 2025.
”Alhamdulillah saya bisa menunaikan ibadah haji. Selama di sana saya banyak mendapat pelajaran, terutama ketika puncak haji di Armuzna,” kata Haidar. Di Armuzna, dia belajar sabar saat antre di toilet karena jumlah jemaah yang banyak.
Kemudian kesabaran saat melempar jumroh dan tinggal di tenda Mina dalam kondisi yang sederhana. ”Namun yang paling saya ingat adalah ketika mengumrohkan almarhum ayah. Alhamdulillah rasanya lega,” pungkas Haidar. (mel/by)
Editor : A. Nugroho