Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sehari Rutin Sajikan 150 Porsi untuk Warga

Aditya Novrian • Jumat, 12 Juni 2026 | 14:11 WIB
BERBAGI: Warga dari berbagai kalangan mengantre mengambil makanan di posko Kebaikan Warung Makan Gratis (PKWMG) Malang yang digelar di halaman Masjid Imam Bonjol, Bunulrejo, Rabu (10/6) lalu.
BERBAGI: Warga dari berbagai kalangan mengantre mengambil makanan di posko Kebaikan Warung Makan Gratis (PKWMG) Malang yang digelar di halaman Masjid Imam Bonjol, Bunulrejo, Rabu (10/6) lalu.

Selama satu dekade, Neny Mudaningsih menjaga keberlangsungan Posko Kebaikan Warung Makan Gratis. Gerakan yang bermula dari aksi sedekah sederhana itu kini melayani ratusan warga dari berbagai latar belakang. 

INDAH MEI YUNITA

KOTA MALANG, RADAR MALANG - MENJELANG pukul 09.00, halaman Masjid Imam Bonjol di Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang mulai dipenuhi warga. Sebagian datang dengan berjalan kaki, sebagian lainnya mengendarai sepeda motor. Ada pengemudi ojek online yang baru menyelesaikan order pagi, lansia yang datang ditemani keluar ganya, hingga anak-anak yang sedang menikmati libur sekolah.

Mereka berkumpul bukan untuk menghadiri acara besar. Mereka datang untuk menunggu makanan gratis yang akan dibagikan para relawan Posko Kebaikan Warung Makan Gratis (PKWMG) Malang.

Baca Juga: Pesta Kuliner Kecap Sedaap Hadir di Malang: Ada 1.500 Porsi Makan Gratis dan Demo Masak Chef Ternama!

Di salah satu sudut halaman, beberapa relawan sibuk menyiapkan meja dan menyusun porsi makanan. Tak lama kemudian, aroma masakan mulai menyebar.

Hari itu, menu yang disajikan adalah rawon.

Ketika nomor antrean mulai dipanggil, satu per satu warga maju mengambil makanan. Sebagian memilih duduk di kursi yang telah disediakan, sebagian lainnya menikmati hidangan di teras masjid. Tak ada sekat di antara mereka. Pengemudi ojek online, pekerja harian, lansia, hingga anak-anak duduk berdampingan menikmati sarapan pagi.

Baca Juga: Gandeng Kejaksaan Agung, Penyaluran Makan Bergizi Gratis Dijeda Saat Lebaran

Pemandangan itu telah menjadi rutinitas yang berlangsung bertahun-tahun. Di balik kegiatan tersebut, ada sosok Neny Mudaningsih. Perempuan yang tinggal di Bunulrejo itu telah menghabiskan sekitar satu dekade untuk menjaga agar dapur berbagi tersebut tetap menyala.

Semua bermula dari sebuah keinginan sederhana untuk bersedekah. Sekitar 10 tahun lalu, Neny mendengar kisah yang disampaikan Ustad Andre Raditya tentang kekuatan sedekah dalam menghadapi kesulitan hidup. Cerita itu mendorongnya memulai langkah kecil dengan membagikan nasi kepada masyarakat yang membutuhkan.

Saat itu belum ada relawan, belum ada komunitas, dan belum ada jaringan donatur. ”Waktu itu, saya mengawali dari kantong pribadi. Berbaginya juga dari masjid ke masjid atau di jalan-jalan. Satu hari mungkin berbagi sekitar 50 kotak nasi,” ujarnya.

Puluhan kotak nasi itu dibagikan sendiri dari satu tempat ke tempat lain. Jumlahnya memang tidak besar, tetapi dilakukan secara konsisten.

Lambat laun, semakin banyak orang yang tertarik ikut membantu. Neny kemudian memusatkan kegiatan berbagi di Masjid Nur Inka Museum Brawijaya. Di tempat itu, gerakan kecil yang dirintisnya mulai berkembang.

Awalnya makanan dibagikan dalam bentuk nasi kotak. Kemudian sekitar 2017, konsep prasmanan dicoba dengan harapan menciptakan suasana yang lebih akrab.

Namun praktik di lapangan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Sebagian warga mengambil porsi lebih banyak sehingga ada yang tidak kebagian makanan.

Dari pengalaman tersebut, para relawan memutuskan kembali menggunakan sistem pembagian per porsi yang sudah ditentukan. Cara itu masih digunakan hingga sekarang karena dianggap lebih adil.

Ujian terbesar datang ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat banyak warga kehilangan pekerjaan, jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan meningkat tajam. Di sisi lain, aktivitas masyarakat dibatasi dan berbagai kegiatan sosial sulit dilakukan.

Alih-alih berhenti, Neny bersama relawan justru mencari cara agar kegiatan berbagi tetap berjalan. Mereka memanfaatkan teras rumah salah seorang relawan di kawasan Sawojajar sebagai warung makan sederhana. Dari tempat itu, bantuan makanan terus dibagikan kepada masyarakat.

”Waktu Covid-19 kan ekonomi lagi kacau, banyak pengangguran juga. Saat itu, kami menempatkan di salah satu teras rumah rekannya relawan. Lokasinya di Sawojajar,” kenangnya.

Pengemudi ojek online, tukang becak, dan pekerja sektor informal menjadi kelompok yang paling sering menerima bantuan pada masa tersebut. Setelah pandemi mereda, lokasi kegiatan sempat beberapa kali berpindah sebelum akhirnya menetap di Masjid Imam Bonjol.

Kini, setiap Senin hingga Rabu, sekitar 120 hingga 150 porsi makanan disiapkan. Siapa saja boleh datang tanpa memandang latar belakang agama, suku, pekerjaan, maupun status sosial.

Bahan makanan yang digunakan berasal dari berbagai sumber. Ada yang menyumbang uang, ada pula yang mengirim beras, sayuran, daging, hingga bumbu dapur. Tak jarang, para relawan harus menyesuaikan menu dengan bahan yang tersedia pada hari itu.

”Kadang ada juga yang donasi sayur mentah. Jika ada kelebihan dari yang sudah dimasak, kami bagikan dalam bentuk sayur mentah. Tidak hanya ibu-ibu, bapak-bapak juga senang saat menerima sayuran tersebut,” tutur Neny.

Para donatur berasal dari beragam kalangan. Mulai ibu rumah tangga, pegawai, pelaku UMKM, hingga pengusaha. Meski begitu, Neny mengaku tidak pernah terlalu khawatir soal ketersediaan dana. Selama ini selalu ada jalan agar kegiatan berbagi tetap berlangsung.

”Tapi, ada atau tidak ada donatur, kami akan tetap berjalan. Kalau dananya mepet, mungkin jenis menunya bisa kami sesuaikan. Tapi, biasanya pasti ada saja sumber dananya,” katanya. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#PKWMG #untuk Warga #Berbagi #Makan Gratis