Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Empat Bulan Lagi, Bus Trans Jatim Jurusan Malang-Kepanjen Bakal Beroperasi

Indah Mei Yunita • Kamis, 18 Juni 2026 | 13:24 WIB

 

Bus Trans Jatim mengaspal di Jalur Malang-Batu
Bus Trans Jatim mengaspal di Jalur Malang-Batu

 

 KEPANJEN – Malang selatan bersiap memasuki era baru transportasi publik. Itu jika rencana operasional Bus Trans Jatim koridor II terealisasi. Jika tidak ada aral, bus jurusan Malang-Kepanjen tersebut mulai beroperasi pada Oktober depan atau empat bulan lagi.

Sebelumnya, Pemkab Malang mengusulkan tiga rute ke Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim. Pertama, rute dari Hamid Rusdi melewati Kacuk, kemudian selatan menuju Talangagung, Kepanjen. Kedua, dari Hamid Rusdi ke arah Sempalwadak, melewati Rumah Sakit Ben Mari, kemudian menuju Talangagung, Kepajen. Ketiga, bus dari Hamid Rusdi ke arah Gondanglegi, kemudian ke barat menuju Talangagung, Kepanjen.

”Namun keputusan final ada di Pemprov Jatim,” ujar Kepala Dishub Kabupaten Malang Eko Margianto beberapa waktu lalu.

Meski menyerahkan sepenuhnya ke Pemprov, dia mempunyai skala prioritas di antara ketiga rute tersebut.

“Kalau bisa memilih, kami bakal memprioritaskan rute yang melewati Gondanglegi. Supaya bisa mendukung perkembangan wilayah Malang selatan,” terang pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.

Hal itu juga selaras dengan pembangunan jalan nasional, yakni Jalan Gondanglegi-Balekambang yang dijadwalkan tuntas akhir 2026. Dia melanjutkan, adanya rencana pembangunan exit tol di daerah Gondanglegi juga membutuhkan integrasi moda transportasi publik.

Selain itu, sebagai perwujudan transportasi terintegrasi, angkutan pedesaan (angdes) bakal difungsikan sebagai angkutan pengumpan atau feeder. Feeder bakal menghubungkan penumpang dari kawasan permukiman atau daerah yang tidak dilalui angkutan utama menuju halte atau pemberhentian Trans Jatim, dan sebaliknya.

Jika rute koridor II sudah dipastikan, Eko mengatakan, pihaknya akan menyiapkan sarana dan prasarana (sarpras) pendukungnya. Termasuk halte yang akan diinventarisasi ulang.

“Model pemberhentiannya juga tidak harus berbentuk halte fisik yang besar. Bisa juga berupa rambu-rambu atau bus stop seperti yang ada di beberapa titik di koridor I,” ucap mantan kepala dinas pemberdayaan masyarakat dan desa (DPMD) itu.

Hingga saat ini, pihaknya menunggu kepastian pemenuhan kebutuhan anggaran tersebut. D

Editor : Mahmudan
#koridor malang raya #bus trans jatim malang #Trans Jatim