Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Semeru Erupsi 6 Kali, Jalur Pendakian Ditutup dan Pemkab Malang Waspadai Potensi Bencana

Biyan Mudzaky Hanindito • Jumat, 3 Juli 2026 | 14:58 WIB
WASPADA BENCANA: Erupsi Gunung Semeru terlihat dari Jalan Raya Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen kemarin (2/7).
WASPADA BENCANA: Erupsi Gunung Semeru terlihat dari Jalan Raya Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen kemarin (2/7).

 

AMPELGADING – Mulai kemarin (2/7), jalur pendakian Gunung Semeru ditutup. Penutupan berlangsung sampai batas waktu tidak ditentukan. Hal itu karena gunung tertinggi di Jawa tersebut mengeluarkan abu.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (KL) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan, aktivitas Gunung Semeru masih berstatus level 3 atau siaga.

“Teman-teman dari pos pemantauan Semeru masih mencatatkan adanya gempa letusan atau erupsi. Dalam kurun waktu enam jam bisa puluhan kali. Selain itu masih ada awan abu yang tergolong tinggi,” ujar Sadono kemarin.

Dalam rekapitulasi aktivitas vulkanik Gunung Semeru, sejak 25 Juni lalu hingga kemarin siang (2/7), hampir setiap hari ada aktivitas erupsi. Banyaknya letusan berimbas pada guguran material lava pijar dan batuan panas dari dalam kawah.

Dua waktu dengan letusan terbanyak terjadi pada 28 Juni lalu. Mulai pukul 00.00 sampai 24.00 terdapat 60 aktivitas erupsi yang berimbas gempa dengan amplitudo 10-23 milimeter dan lama 56-203 detik. Lalu pada 27 Juni 2026, periode 00.00-24.00, kegempaan erupsi tercatat 56 kali dengan amplitudo 10-22 milimeter dan lama gempa 55-177 detik.

Sadono menambahkan, untuk awan abu sebanyak 6 kali menunjukkan tinggi yang mencapai ratusan meter.

“Terakhir itu kemarin (2/6) antara pukul 00.00 sampai 06.00, terpantau asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang sekitar 200 sampai 300 meter dari puncak,” kata dia. Sekitar 6 kali mengarah ke Malang.

Namun, dia mengatakan, aktivitas itu belum menampakkan dampak kebencanaan yang signifikan di Kabupaten Malang.

“Masih normal. Kalau aktivitas berhenti malah harus waspada,” terang Sadono.

Dia menambahkan, status siaga atau level 3 tersebut membuat pendakian ke puncak Mahameru terlarang.

“Sesuai rekomendasi, aktivitas di radius 5 kilometer dari puncak tersebut dilarang, karena rawan bahaya lontaran batu (pijar) dari dalam kawah,” terang Staf Pranata Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Endrip Wahyutama.(biy/dan)

Editor : Mahmudan
#Pendakian Semeru #erupsi semeru #Bencana