GONDANGLEGI - Sejumlah anak muda dan pengasuh pondok pesantren berkumpul di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Al Hamid, Ganjaran, Gondanglegi, Rabu malam (9/7). Mereka berdiskusi sekitar tiga jam dalam acara ‘Jagongan Jelang Muktamar NU’ dengan tema ‘Pesantren, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan’.
Hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh. Di antaranya Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Al Hamid KH Atho’ Lukman Hakim, Pengasuh Pesantren Rakyat yang juga Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Malang KH Abdullah Sam, Bendahara PC GP Ansor Kabupaten Malang Syahrul Karim, dan Wakil Ketua PC GP Ansor Kota Malang Irham Thoriq.
Selain itu, hadir pula Wakil Ketua PC GP Ansor Kabupaten Malang Alauddin Alex, CEO Sabda Academy M. Yasin Arief, Ketua Jaringan Nahdliyin Muda (JNM) M. Mahrus, Pengasuh Pondok Pesantren Dzunuroin Arrofiqi Pakis Gus Arif Billah, Pengasuh Pesantren Rakyat Takhosus Gus Shidiq Zamzam, perwakilan ISNU Kabupaten Malang Pak Hasyim, Perwakilan Gusdurian Erik Priyanto, Dosen Universitas Al Qolam Nurul Azizah, Konsultan Hukum Khoirul dan sejumlah peserta diskusi lain dari unsur dosen, santri dan mahasiswa.
Dalam paparan sebagai pembuka diskusi, Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Al Hamid KH Atho’ Lukman Hakim menekankan pentingnya para kader dan pengurus NU kembali memurnikan niat dalam mengabdi.
“Jadi, kita harus menempatkan Allah SWT pada posisi sentral. Singkatnya bagaimana segala tindak kita membuat Allah SWT tidak marah,” kata KH Atho’ Lukman Hakim.
Dia juga menyinggung keberadaan pesantren yang kini menjadi bagian tidak terpisahkan bagi bangsa ini. ”Pesantren bukan hanya tempat mencari ilmu, tapi cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Pesantren adalah budaya yang adiluhung. Jadi pesantren selalu punya cara merespons keadaan ekonomi dan budaya kita sehari-hari,” imbuhnya.
Sementara itu, Pengasuh Pesantren Rakyat KH Abdullah Sam berharap pesantren tidak meninggalkan tradisi yang diciptakan selama ini. Termasuk tradisi rohani. ”Kita dijaga oleh wirid-wirid para kiai, santri dan jamaah di kampung-kampung, tidak ada rasa khawatir sama sekali karena Allah SWT akan menjaga kita,” katanya.
Bagi dia, pesantren mempunyai peran strategis bagi bangsa ini. Ketika Belanda menjajah, para gus atau putra kiai berkoordinasi untuk memerdekakan bangsa ini. Dia berharap PBNU benar-benar menjadi lembaga independen yang terlepas dari rong-rongan pihak luar, termasuk pemerintah. ”Misal calon ketua umum, jangan minta restu kepada tukang sirkus, ya kalau tukang sirkus itu ngasih makan, nanti kan mau gak mau mengendalikan si tulang sirkus tersebut,” katanya memberi analogi.
Sedangkan, Wakil Ketua PC GP Ansor Kota Malang Irham Thoriq berharap pesantren benar-benar menyiapkan kader menyongsong abad kedua NU. Menurut dia, saat ini masyarakat sudah mulai beralih dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri.
“Bagaimana pesantren bisa menyiapkan itu misalnya dengan keterampilan vokasional, dengan kreativitas dan lain sebagainya. Karena lahan kita untuk bertani sudah semakin menyempit, sehingga mau tidak mau kita harus menjadi masyarakat industri,” ucapnya.(biy/dan)
Editor : Mahmudan