Perjuangan anak buruh tani membuahkan hasil. Sempat menyambung hidup dari honor menulis, kini Prof Waras Kamdi menjadi pengukur standar pendidikan nasional. Ia didapuk menjadi ketua BSANP Kemendikdasmen.
KOTA MALANG, RADAR MALANG - LAYAR kaca yang umumnya hanya terpampang kantor kelurahan dan kecamatan menggambarkan kehidupan Waras kecil yang jauh dari kemewahan. Bagi anak seorang buruh tani asal Treng galek, televisi adalah barang mewah yang amat langka. Namun dari kesederhanaan itulah takdirnya perlahan menemui jalan.
Menyaksikan liputan pekerja Pertamina yang gagah mengendalikan alat-alat berat, sebongkah kekaguman menyeruak di dadanya. Sejak hari itu, getaran mesin seolah memanggilnya. Menuntun langkahnya mantap memasuki STM (kini SMK).
Baca Juga: Karya IoT Mahasiswa Vokasi UB Tampil di Forum Nasional BOPM
Takdir kemudian membawanya merantau ke Malang untuk mengenyam bangku kuliah. Namun, tahun pertama berjalan begitu terjal. Uang saku dari dikirimkan orang tuanya teramat minim, sehingga Waras harus memutar otak untuk bertahan hidup. Beasiswa Super semar yang menyokong Waras remaja sejak di STM Probolinggo belum juga cair di semester awal perkuliahan.
Di sela-sela waktu kuliah, ia kerap melangkahkan kaki ke kawasan Sukun, membantu saudaranya menjahit kain demi lembaran rupiah. Dari upah meliukkan jarum dan benang itulah, ia menyambung hidup. Perlahan mampu membeli keperluan sehari-hari.
Memasuki semester kedua, angin segar berembus saat dana beasiswa akhirnya cair. Waras tak lagi menumpang di rumah saudara. Ia mampu menyewa kamar kos sendiri. Mesin jahit pun mulai ia tinggalkan. Digantikan oleh mesin tik yang jemarinya gunakan untuk merangkai kata.
Baca Juga: 1.000 Peserta Ikuti Gerakan Nasional Indonesia Asri di Lima Zona
Waras mulai menapaki dunia jurnalistik kampus dengan bergabung di Majalah Komunikasi IKIP Malang (kini Universitas Negeri Malang). Dari sana, kecintaannya pada literasi tumbuh subur. Sekaligus menjadi ladang penghasilan baru.
“Pada 1980 itu, per tulisan biasanya mendapat honor Rp 15 saja,” kenang Waras, menyunggingkan senyum mengingat masa lalunya. Nilai lima belas rupiah tentu bukan angka yang besar. Namun bagi Waras, itu adalah bahan bakar yang membakar semangatnya untuk menulis lebih deras. Perlahan tapi pasti, buah pikirannya tidak sekadar menghiasi majalah kampus. Tapi juga menembus halaman koran-koran lokal hingga nasional. Dari honor menulis itulah ia mampu membeli buku-buku baru. Memperluas cakrawala keilmuan yang kelak menjadi fondasi akademisnya.
Langkah Waras di dunia akademik kian mantap. Sembari aktif menulis, ia juga dipercaya menjadi asisten dosen di kelas. Dedikasi membukakan jalan baginya untuk resmi diangkat menjadi dosen di almamaternya pada 1985.
Haus akan ilmu tak pernah padam. Lima tahun berselang, ia melanjutkan studi S2 hingga S3 melalui beasiswa Tim Manajemen Program Doktor (TMPD). Di sinilah Waras mulai menyelami lebih dalam dunia teknologi pendidikan.
Melalui berbagai proyek berskala besar, pada 2003 Waras mulai menjalin kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) RI. Ia menjadi salah satu arsitek penting dalam mengembangkan pembelajaran vokasi yang di integrasikan dengan kurikulum SMA. Yakni solusi taktis untuk mengatasi kelangkaan SMK di berbagai daerah Indonesia kala itu. Pemikiran-pemikirannya bersama para profesor lain kerap diadopsi menjadi kebijakan nasional.
“Salah satunya, konsep project-based learning itu, sudah saya perjuangkan sejak 26 tahun lalu,” ungkap Dosen Pascasarjana UM tersebut.
Meski membutuhkan waktu yang panjang bagi birokrasi untuk sepenuhnya menangkap ide tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akhirnya mengintegrasikannya pada 2023.
Kini, rekam jejak profesor pendiri sekaligus peneliti Pusat Unggulan Ipteks Perguruan Tinggi Disruptive Learning Innovation (PUIPT DLI) UM ini telah membentang luas. Ia pernah mengemban amanah sebagai Anggota Badan Standar dan Akreditasi Nasional Pendidikan (BSANP) periode 2019– 2021, serta Tim Penasihat Ahli Mendikdasmen sejak November 2024 hingga Maret 2026.
Babak baru hidupnya kini tertulis sebagai Ketua BSNP. “Saya banyak direkomendasikan temanteman untuk daftar seleksi calon ketua, dan ternyata terpilih,” kata pria kelahiran 1960 tersebut.
Memimpin lembaga penentu standar pendidikan nasional membawa tanggung jawab yang berat di pundaknya. Waras menyadari betul banyaknya aspek yang harus dibenahi. Terutama di tengah tingginya angka kehilangan pembelajaran (learning loss) di seluruh jenjang pascapan demi Covid19. Di ruang ruang kelas belakangan ini, banyak siswa yang secara fisik hadir, namun jiwanya seakan tak menyerap ilmu.
Untuk menanggulangi problem tersebut, Waras memilih melangkah dengan saksama. Langkah awalnya adalah mengerahkan tim untuk mendeteksi ulang kompleksitas benang kusut pendidikan dengan penuh kehatihatian. Di bawah ke pemimpinannya, standar sekolah, terutama yang berkaitan dengan akreditasi, bakal mengalami penyesuaian besar. Dari seorang anak buruh tani yang terpukau oleh layar hitamputih, kini ia berdiri di kemudi yang menentukan warna masa depan pendidikan Indonesia. (*/dan)
Editor : A. Nugroho