JUNREJO, RADAR BATU - Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai menekan industri pangan rumahan di Kota Batu. Dengan kurs dolar menyentuh Rp 18 ribu, harga kedelai impor melonjak dari Rp 9-10 ribu menjadi Rp 12 ribu per kilogram. Kondisi itu memaksa perajin tahu dan tempe di Desa Beji, Kecamatan Junrejo menaikkan harga jual.
Beberapa dari mereka juga menyesuaikan ukuran produk agar usaha tetap bertahan. Ya, sebagian besar perajin masih bergantung pada kedelai impor. Akibatnya, gejolak nilai tukar langsung memengaruhi biaya produksi. “Karena menggunakan kedelai impor, harga bahan baku otomatis mengikuti pergerakan dolar,” ujar Kepala Desa Beji Deny Cahyono.
Baca Juga: 27.710 Warga Kota Malang Menganggur - Radar Malang
Menurut Deny, ketergantungan terhadap kedelai impor belum bisa dihindari. Selain kualitas yang dinilai lebih baik untuk produksi tempe, pasokan kedelai lokal juga belum mampu memenuhi kebutuhan industri. Setiap hari, kebutuhan kedelai di Desa Beji mencapai sekitar 6 hingga 7 ton. “Kapasitas itu belum bisa dipenuhi kedelai lokal,” katanya.
Lonjakan harga bahan baku akhirnya diteruskan ke harga jual. Harga tempe per alir yang sebelumnya sekitar Rp 20 ribu kini naik menjadi Rp 30 ribu. Namun, kenaikan harga tidak hanya dipicu mahalnya kedelai. Biaya operasional lain juga meningkat. Mulai dari bahan bakar minyak hingga harga kemasan.
Baca Juga: Lingua Franca: Mleding, Istilah Khas Malangan dari Wilayah Mataraman - Radar Malang
Tekanan biaya tersebut membuat margin keuntungan perajin semakin tipis. Sebagian produsen memilih mengecilkan ukuran tempe. Sebagian lainnya menaikkan harga jual. Strategi itu dilakukan agar pelanggan tidak beralih dan menjaga keberlangsungan usaha.
Meski demikian, Deny mengaku permintaan pasar masih relatif stabil. Tempe tetap menjadi salah satu sumber protein yang banyak dicari masyarakat. “Perajin terpaksa menyesuaikan ukuran atau harga agar usaha tetap berjalan,” pungkasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan