Kebanjiran Order, Perajin Lampion Garap 1.000 Pesanan

Nabila Amelia • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 14:00 WIB
MOMEN PANEN: Muhammad Syamsudin, pengusaha lampion di Kecamatan Blimbing mengemasi hasil karyanya sebelum dikirim ke sejumlah tempat, kemarin. 
MOMEN PANEN: Muhammad Syamsudin, pengusaha lampion di Kecamatan Blimbing mengemasi hasil karyanya sebelum dikirim ke sejumlah tempat, kemarin.

MALANG KOTA, RADAR MALANG - Jelang perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81, perajin lampion mulai kebanjiran order. Banyak pesanan yang datang dari dalam dan luar daerah. Seperti disampaikan Muhammad Syamsudin, pengusaha lampion di Kecamatan Blimbing. 

"Alhamdulillah pada momen Kemerdekaan RI tahun ini ada sedikit peningkatan pesanan. Kami dapat sekitar 500 sampai 1.000 pesanan," kata Syamsudin. Pesanan berasal dari perkampungan-perkampungan di Kota Malang. Seperti Jodipan dan Muharto. Satu kampung bisa memesan dua sampai puluhan lampion.

 Baca Juga: Perajin Lampion Kemerdekaan Banjir Pesanan di Kota Malang

Kemudian ada pesanan dari instansi-instansi. Juga pesanan dari luar daerah seperti Madiun, Jakarta, dan Bandung. "Kalau ke luar daerah kebanyakan dari instansi. Satu kali kirim bisa 200 sampai 300 lampion," sambung lelaki yang sudah membuka usaha kerajinan lampion sejak 2005 tersebut.

Dalam sehari, Syamsudin bisa membuat 20 sampai 35 lampion. Pembuatannya dilakukan bersama 13 rekannya. "Proses pembuatannya diawali dengan merakit menggunakan cetakan," jelas Syamsudin. Selanjutnya baru dililit dengan rotan dan ditempel kain.

Bentuk lampion yang dibuat bermacam-macam. Mulai varian lingkaran, oval, hingga karakter. "Kemarin saya buat lampion berbentuk burung garuda," beber Syamsudin. Karena bentuk yang berbeda-beda, harga antara satu jenis lampion dengan lampion lain tidak sama. Semakin besar dimensi lampion, semakin mahal juga harganya.

 Baca Juga: Industri Lampion Kota Malang Banjir Pesanan  

"Paling murah sekarang Rp 30 ribu. Ada juga yang Rp 100 ribu, Rp 500 ribu, dan jutaan. Kalau harganya jutaan seperti lampion berbentuk garuda," papar Syamsudin. Harga lampion dari tahun ke tahun praktis tidak berubah meskipun harga bahan baku banyak yang naik.

Sebagai contoh, lem yang biasanya dibeli seharga Rp 600 ribu, sekarang naik menjadi Rp 800 ribu. Kemudian, harga rotan juga mengalami kenaikan. Namun, Syamsudin tidak bisa menaikkan harga. Alhasil strateginya lebih ke arah mengurangi margin.

Syamsudin menambahkan, di luar momentum Kemerdekaan RI, biasanya ada pesanan seperti saat momentum Imlek. Kemudian, dia juga rutin mendapat pesanan dari luar negeri untuk pesta kebun. Seperti dari Italia, Australia, hingga Brazil. (mel/by)

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
Kebanjiran Order hasil karya HUT ke-107 perajin batik