Sasaran Utama Lansia Telantar hingga Ibu Hamil

Aditya Novrian • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:16 WIB
TURUN KE JALAN: Anggota Nasi Darurat Malang membagikan makanan gratis kepada warga di pinggir jalan beberapa waktu lalu.
TURUN KE JALAN: Anggota Nasi Darurat Malang membagikan makanan gratis kepada warga di pinggir jalan beberapa waktu lalu.

KOTA MALANG, RADAR MALANG - UNGGAHAN di media sosial mengubah cara berbagi makanan di Malang Raya. Dari semula hanya mengandalkan uang pribadi, Nasi Darurat Malang kini mampu mengirim lebih banyak makanan setelah gerakan tersebut dikenal luas melalui TikTok.

Penggagas Nasi Darurat Malang Fadilatus Sholiha mengaku setiap hari menerima puluhan pesan dari warga yang mengaku membutuhkan bantuan makanan. Sasaran utamanya mahasiswa perantauan, lansia telantar, hingga ibu hamil yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.

Baca Juga: Penyelamat Perut saat Memasuki Akhir Bulan

Program tersebut baru berjalan sekitar satu setengah bulan. Pada masa awal, Fadila hanya mampu mengirim tiga hingga empat porsi nasi setiap hari. Seluruh biaya dikeluarkan dari uang pribadinya.

Perubahan terjadi setelah konten mengenai aksi tersebut ramai di TikTok. Warganet mulai ikut berdonasi. Jumlah bantuan yang masuk kemudian membuat Fadila membuka rekening khusus agar dana masyarakat tidak bercampur dengan kebutuhan pribadinya.

Baca Juga: Anak Kost Friendly! 4 Tempat Makan di Malang yang Bisa Refill Nasi Gratis Sepuasnya

“Saya juga ingin menjaga kepercayaan para donatur dalam mendukung kelancaran aksi sosial ini,” jelasnya.

Dukungan tersebut membuat jumlah penerima meningkat. Jika sebelumnya hanya tiga sampai empat porsi, kini Nasi Darurat Malang dapat menyalurkan lebih dari 13 porsi per hari. Dana yang berlebih juga digunakan untuk kegiatan Jumat Berkah.

Pola tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan tren berbagi makanan. Media sosial tidak hanya menjadi tempat mempublikasikan aksi, tetapi juga mempertemukan penerima bantuan dengan donatur. Dokumentasi penyaluran rutin diunggah agar masyarakat dapat melihat penggunaan dana yang diberikan.

Namun, semakin terbuka akses bantuan, semakin besar pula tantangan verifikasi. Fadila beberapa kali menerima permintaan yang tidak berkaitan dengan kebutuhan pangan darurat.

“Bahkan ada yang meminta dibayarkan kontrol behelnya yang seharga Rp 200 ribu, padahal ketentuan bantuan dari saya dan donatur maksimal hanya Rp 13 ribu,” ceritanya.

Pengalaman tersebut membuat Fadila lebih selektif. Setiap pemohon diminta memberikan identitas lengkap dan menjalani percakapan singkat. Cara itu dilakukan untuk memastikan bantuan benar-benar diterima warga yang membutuhkan. (adn)

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
nasi darurat malang Sasaran Utama Lansia ibu hamil Donatur