KEPANJEN - Kekeringan yang melanda wilayah selatan Kabupaten Malang terus meluas. Imbasnya, desa-desa yang mengalami krisis air bersih juga bertambah. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat, per kemarin (2/10) ada 13 desa yang mengajukan dropping air.
Desa terbaru yang terdampak kekeringan adalah Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo.
"Untuk desa yang menjadi tambahan adalah Tulungrejo. Akhir September lalu mengajukan dropping air bersih,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan kemarin.
Dampak paling parah ada di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung. Dropping air di kawasan tersebut mencapai 866.650 liter dengan 3.055 jiwa. Lalu Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan menerima kiriman 485.000 liter 485.000 liter untuk 1.461 jiwa dan Sumberagung mendapat pasokan 420.000 liter air bersih untuk 3.777 jiwa
Hingga kini, pihaknya sudah mendistribusikan 3,4 juta liter air bersih. Distribusi berlangsung sekitar dua bulan, sejak 8 Agustus lalu. Pengiriman air bersih menggunakan armada sejumlah instansi. Selain armada BPBD, juga melibatkan mobil PMI, Damkar, Perum Jasa Tirta (PJT) 1 dan Perumda Tirta Kanjuruhan.
Sadono mengatakan, kekeringan di Malang Selatan bersifat tahunan. Solusinya tidak bisa mengandalkan reboisasi. Tapi juga melakukan pengeboran sumur. Langkah itu diambil setelah Tulungrejo masuk daftar desa krisis air bersih.
Dia mengatakan, pengeboran dilakukan di sejumlah titik.
"Pengeboran ada di Desa Arjosari Kecamatan Kalipare, Gajahrejo Kecamatan Gedangan, dan Kedungbanteng Kecamatan Sumbermanjing Wetan,” katanya.
”Jadi, kami tidak hanya mengandalkan dropping saja," tambah pejabat eselon III B Pemkab Malang itu.
Dia mengatakan, penyebab utama kekeringan adalah faktor geografis dan morfologis. Wilayah tersebut berada di zona dengan struktur tanah karst berbatu.
"Geografi dan morfologi di daerah sana itu bebatuan yang tidak bisa menyimpan air lebih lama. Meskipun ditanami pohon, tapi karena struktur tanahnya seperti itu ya tetap saja. Mereka mengandalkan hujan memang," katanya.
Tanah karst memiliki pori-pori besar, sehingga air hujan langsung hilang masuk ke celah batu kapur dan mengalir ke sungai bawah tanah. Akibatnya, lahan tetap kering saat kemarau. Sementara untuk desa-desa lain yang terindikasi kekeringan, BPBD belum memberikan jawaban. Hanya saja, status tanggap darurat masih akan berlanjut hingga 31 Desember depan.(nj2/ram/dan)
Editor : Mahmudan