Cabai Mahal, Pedagang Hindari Stok Menumpuk

Aditya Novrian • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 09:46 WIB
ATUR STRATEGI: Salah satu pedagang sayur di Pasar Bululawang menunggu pembeli datang kemarin (4/10) pagi.
ATUR STRATEGI: Salah satu pedagang sayur di Pasar Bululawang menunggu pembeli datang kemarin (4/10) pagi.

BULULAWANG, RADAR MALANG – Harga cabai rawit yang menembus Rp 65 ribu per kilogram mulai mengubah cara warga berbelanja di Pasar Bululawang. Pembeli yang biasanya membeli dalam jumlah banyak kini memilih mengambil beberapa ons saja. Pedagang pun ikut menyesuaikan dengan menjual cabai dalam ukuran kecil agar tetap terjangkau.

Perubahan itu terlihat di tengah kenaikan harga cabai rawit dari Rp 50 ribu menjadi Rp 65 ribu per kilogram. Cabai merah besar juga naik dari Rp 22 ribu menjadi Rp 35 ribu per kilogram pada Sabtu (4/10).

Baca Juga: Harga Cabai Rawit Melambung, Tembus Rp 80 Ribu di Kota Malang

Sumiati, pedagang asal Desa Tajinan, mengatakan kenaikan harga membuat pembeli lebih berhati-hati menentukan jumlah belanja. Menjual cabai secara kilogram di nilai membuat sebagian pembeli berpikir ulang.

“Kalau jualnya langsung sekilo Rp 65 ribu , orang mikir-mikir. Kalau Rp 9.000 per ons, masih banyak yang mau. Daripada tidak laku dan busuk,” ujar Sumiati kepada Jawa Pos Radar Kanjuruhan.

Karena itu, cabai rawit kini dia jual Rp 9 ribu per ons. Sementara cabai merah besar dipatok Rp 6 ribu per ons. Cara tersebut membuat pembeli tetap bisa mendapatkan cabai tanpa harus mengeluarkan uang puluhan ribu rupiah sekaligus.

Baca Juga: Hargai Cabai Rawit di Malang Naik Terus, Ini Penyebabnya

Sumiati menyebut kondisi serupa terjadi pada pasokan. Cabai yang masuk dari wilayah Malang Selatan melalui tengkulak disebutnya berkurang. Kondisi tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan jumlah stok agar tidak terlalu banyak barang yang tersisa ketika harga sedang tinggi.

Bagi pembeli, kenaikan harga cabai menambah beban belanja harian. Khofifah, salah seorang warga, mengaku harga kebutuhan pokok kini semakin sulit diprediksi.

“Sekarang apa-apa jadi mahal, beras mahal, cabai mahal, semua mahal. Kadang juga ada yang langka,” keluhnya.

Di sisi lain, pedagang kini harus menghadapi dua risiko sekaligus. Yakni menaikkan harga atau mempertahankan stok dengan risiko dagangan tidak terserap. Bagi pembeli, pilihannya lebih sederhana, membeli cabai dalam jumlah lebih sedikit agar pengeluaran tetap terkendali. (nj2/adn)

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Radar Malang
Jawa Pos Radar Kanjuruhan Stok Menumpuk terjangkau cabai mahal