Per Hari, 320 Orang di Kabupaten Malang Kena ISPA, Begini Kondisi Terakhir Mereka

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 15:16 WIB

 

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) disebabkan oleh virus dan bakteri. (Freepik).
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) disebabkan oleh virus dan bakteri. (Freepik).

 

KEPANJEN – Kepulan asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Gunung Kawi berdampak terhadap kesehatan. Khususnya pernapasan. Dalam kurun, Januari-September lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mencatat 86.385 penderita Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Jika dirata-rata, setiap hari ada sekitar 320 kasus (selengkapnya lihat grafis).

Kabid P2P Dinkes Kabupaten Malang dr Titis Ari Respatilatsih mengatakan, ISPA masih menjadi penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat. Pencegahan, menurutnya, perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan, selain penanganan ketika gejala sudah muncul.

“ISPA memang masih menjadi salah satu penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat," ujar Titis kemarin (5/10).

"Karena penyebabnya beragam, pencegahannya tidak cukup hanya ketika sudah sakit. Tetapi juga perlu memperhatikan lingkungan, terutama sirkulasi udara dan paparan asap rokok di dalam rumah,” tambah pejabat eselon III B Pemkab Malang itu.

Dia mengungkap, penderita terbanyak dari kalangan dewasa. Dalam kurun sembilan bulan ini, tercatat 32.617 kasus kelompok dewasa atau 34,71 persen. Kemudian disusul kelompok balita dengan 24.607 kasus atau 26,19 persen, anak-anak 14.013 kasus, remaja 11.827 kasus dan lansia 10.906 kasus.

Meski dewasa menjadi kelompok dengan kasus terbanyak, lanjutnya, balita tetap menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian serius. Hal itu karena daya tahan tubuh yang masih berkembang membuat anak usia dini lebih rentan mengalami gangguan saluran pernapasan.

“Kalau anak sudah menunjukkan napas cepat, sesak, tarikan dinding dada ke dalam, sulit minum atau terlihat sangat lemas, sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu kondisi semakin berat,” kata dokter Titis

Dari pemetaan wilayah, kasus ISPA paling banyak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Turen. Hingga September lalu tercatat 8.126 kasus.

Dia mengatakan, secara medis, ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, baik bagian atas maupun bawah. Gejalanya dapat berupa batuk, pilek dan demam, hingga sesak napas pada kondisi tertentu.

Penularan dapat berlangsung melalui percikan cairan saluran pernapasan ketika penderita batuk, bersin atau berbicara. Risiko penularan juga dapat meningkat di ruangan tertutup, padat, dan memiliki sirkulasi udara yang kurang baik.

Kuman juga dapat berpindah melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Tangan atau permukaan benda yang terkontaminasi bisa menjadi media penularan ketika menyentuh hidung, mulut atau mata.

Titis menambahkan, faktor lingkungan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk menekan risiko ISPA. Selain polusi udara dan hunian padat, katanya, ventilasi buruk serta paparan asap rokok juga dapat memperbesar risiko gangguan saluran pernapasan.

“Rumah sebaiknya menjadi lingkungan yang aman bagi anak. Salah satunya dengan tidak merokok di dalam rumah, karena paparan asap rokok meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan,” pungkasnya.

Selain faktor lingkungan, risiko pada anak juga dapat meningkat apabila mengalami gizi kurang atau buruk, berat badan lahir rendah, tidak mendapatkan ASI secara cukup, dan imunisasi tidak lengkap maupun kekurangan vitamin A.

Menurutnya, masyarakat perlu mewaspadai gejala yang mengarah pada kondisi berat. Pada balita, napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, tidak mau minum atau menyusu, bibir kebiruan, kejang hingga sulit dibangunkan merupakan tanda yang membutuhkan penanganan medis.

Sementara pada orang dewasa dan lansia, katanya, sesak napas berat, napas cepat, nyeri dada, bibir membiru, penurunan kesadaran hingga kesulitan makan dan minum juga perlu segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.

Menanggapi masih tingginya kasus ISPA, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (UM) dr Andreas Budi Wijaya mengatakan, ISPA bukan penyakit yang hanya mengancam anak-anak. Orang dewasa justru menjadi kelompok yang banyak terpapar karena aktivitas dan mobilitas sehari-hari. Sedangkan balita dan anak lebih rentan lantaran sistem pertahanan tubuh serta saluran pernapasan masih berkembang.

Menurut Andreas, penanganan ISPA tidak boleh berhenti pada pengobatan setelah penderita mengalami gejala. Pencegahan harus diperkuat adalah memutus rantai penularan, terutama di lingkungan keluarga.

“Yang perlu diperbaiki bukan hanya mengobati ISPA, tetapi bagaimana memutus rantai penularannya,” kata Andreas.

Dia menjelaskan, penularan ISPA melalui droplet atau percikan saluran napas saat penderita batuk, bersin, maupun berbicara.

"Kuman juga dapat berpindah melalui tangan dan permukaan benda yang terkontaminasi, sehingga kebersihan menjadi bagian penting dalam pencegahan," kata dia.

Menurut dia, masyarakat perlu kembali memperhatikan kebiasaan sederhana. Di antaranya mencuci tangan menggunakan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker ketika mengalami gangguan pernapasan. "Menutup mulut dan hidung dengan tisu atau bagian dalam siku juga dianjurkan agar droplet tidak mudah menyebar melalui telapak tangan," kata Andreas.

Di sisi pemkab, Andreas mendorong penguatan surveilans untuk memetakan wilayah maupun kelompok masyarakat dengan beban kasus tinggi. Data tersebut penting sebagai dasar menentukan intervensi, sekaligus perlu dibarengi promosi dan edukasi kesehatan yang lebih masif kepada masyarakat.(ram/dan)

Editor : Mahmudan
Malang Karhutla Karhutla dan ISPA ispa