KARANGPLOSO – Merosotnya harga seledri hingga 50 persen membuat petani resah. Apalagi biaya perawatan tinggi karena air makin sulit. Itulah yang dirasakan petani seledri di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso.
Petani seledri, Pranoto, mengatakan bahwa harga seledri saat ini berada di kisaran Rp5 ribu per kilogram. Padahal, bulan sebelumnya masih berkisar Rp10 ribu per kilogram.
“Musim kemarau ini mengakibatkan harga semakin murah,” kata Pranoto di sela menyiram tanaman seledri kemarin.
Tak hanya persoalan harga, musim kemarau juga membuat petani harus mengeluarkan biaya lebih untuk perawatan. Terutama terkait pasokan air. Biasanya mereka tidak kesulitan memenuhi kebutuhan air tanaman seledri.
“Kami harus memutar otak untuk keperluan air tanaman,” kata petani yang sudah puluhan tahun menanam seledri itu.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dia dan petani lain harus membangun sumber air di sekitar lahan pertanian. Namun ketika musim kemarau panjang, terkadang debit air sumber menyusut, bahkan kering.
Petani lain, Sukadi, mengatakan bahwa penurunan harga seledri turut berdampak pada hasil penjualan. Meski harga sedang rendah, lanjutnya, hasil panen tetap harus dijual karena petani membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Mau tidak mau ya harus tetap kami jual, meskipun rugi,” ujar Sukadi. Ia berharap harga seledri dapat kembali stabil seperti lima bulan sebelumnya.
Di lain pihak, Prakirawan Iklim BMKG Stasiun Klimatologi Malang Maksum Purwanto, mengatakan, Malang raya diperkirakan mulai memasuki musim hujan awal Desember depan. Periode tersebut lebih lambat dibandingkan kondisi normal, yakni musim hujan mulai awal November.
Menurut Maksum, mundurnya musim hujan dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya fenomena El Nino. Kondisi tersebut menyebabkan periode panas dan kering masih berlangsung lebih lama sebelum memasuki musim penghujan.
“Untuk perkiraan kami, hujan di wilayah Malang atau dikatakan musim penghujan di Desember depan,” terangnya.
Maksum menambahkan, mundurnya awal musim hujan juga berpotensi mempengaruhi durasi musim penghujan. Periode yang dalam kondisi normal dapat berlangsung enam bulan, berpotensi lebih pendek menjadi empat sampai lima bulan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petani, terutama pertanian seledri yang membutuhkan air lebih.(nj1/dan)
Editor : Mahmudan