KEPANJEN – Enam klaster pariwisata di Kabupaten Malang berpeluang menjadi pusat penyelenggaraan event. Orientasinya meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat. Namun rencana tersebut masih menunggu kepastian dukungan anggaran. Biayanya diestimasi menghabiskan Rp 20 juta hingga Rp 25 juta per kegiatan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang Firmando Hasiholan Matondang mengatakan, pengembangan event mengacu pada Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Malang (Ripparkab). Enam klaster tersebut meliputi Malang Barat, Lereng Kawi, Malang Timur, Malang Utara, Malang Selatan, dan Malang Tengah.
“Kalau nanti didukung anggaran oleh DPRD, tentunya kami bisa menggelar event promosi,” ujar Firmando kemarin (15/10).
Meski masuk dalam perencanaan, lanjutnya, realisasi program tersebut belum dapat dipastikan. Pihaknya masih menunggu penganggaran bersama DPRD Kabupaten Malang untuk menentukan bentuk dukungan yang memungkinkan diberikan kepada pengelola destinasi maupun komunitas.
Firmando menjelaskan, pemerintah daerah tidak harus menjadi penyelenggara utama setiap kegiatan. Disparbud akan mengambil peran sebagai pendukung agar inisiatif dari pengelola wisata dan komunitas setempat bisa berkembang.
“Misalnya destinasi punya acara, nanti kami support. Supporting-nya apa? Bisa jadi sound sistemnya, panggungnya, kelompok kesenian, sehingga event semakin kuat,” terang pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.
Sembari menunggu kepastian anggaran, disparbud membuka peluang promosi bagi destinasi dan komunitas yang mengadakan kegiatan secara mandiri. Salah satu bentuk dukungannya ialah menyebarluaskan informasi kegiatan melalui media sosial resmi dinas.
“Harapannya, semua destinasi secara mandiri juga bisa menyelenggarakan event. Artinya, juga menambah atau meningkatkan kunjungan sama promosi,” katanya.
Saat ini, Pantai Balekambang menjadi salah satu destinasi yang rutin menggelar kegiatan setiap bulan. Disparbud juga mencontohkan Kampung Cempluk sebagai kegiatan berbasis komunitas yang dapat dibantu dari sisi promosi.
Selain mengejar peningkatan kunjungan, kata Firmando, program tersebut diarahkan untuk memunculkan produk kreatif yang memiliki ciri khas lokal. Menurut Firmando, pengembangan suvenir menjadi salah satu peluang ekonomi yang perlu digarap masyarakat, khususnya di kawasan Malang Selatan.
“Agar kreativitas warga Malang Selatan semakin besar, entah dari baju, suvenir, atau dari bahan-bahan lain, yang punya ikon sendiri di Malang Selatan,” ungkapnya.
Dengan konsep tersebut, dia berharap kegiatan wisata tidak hanya menjadi agenda hiburan, tetapi juga membuka ruang pemasaran bagi produk lokal. Namun pemerataan event di enam klaster tersebut masih membutuhkan kepastian anggaran serta inisiatif berkelanjutan dari pengelola destinasi dan komunitas.(ram/dan)
Editor : Mahmudan