Ada ratusan sepatu kulit yang dipajang di gerai Sello Shoe. Mulai sepatu boot, pantofel, sepatu trail, sepatu gunung, sepatu koboi, hingga sepatu dek.
Semua sepatu itu terbuat dari kulit asli, bahkan ada yang dari kulit ular.
Selain kulit, juga ada yang kombinasi antara kulit, kanvas, dan kain. Warnanya, juga tidak hanya cokelat dan hitam, juga ada warna cerah seperti warna kuning, hijau tozca, biru, merah, dan masih banyak lagi.
Selain karena harganya yang ramah di kantong, juga kualitas yang bagus, alias tidak KW. Tius tak main-main dengan bahan utama yang ia jadikan sebagai bahan dasar pembuatan sepatu handmade-nya ini.
“Kami mengutamakan safety shoes. Setiap sepatu seperti boot, sepatu trail, sepatu gunung, kami beri safety di ujung sepatu berupa besi. Sehingga aman bagi kaki, dan melindungi. Tak hanya mengutamankan model saja, tetapi bagaimana sepatu itu nyaman dipakai dan aman. Makanya, kebanyakan modelnya sepatu cowok. Tetapi cewek masih cocok,” kata dia sembari menunjukkan sepatu yang didisplay.
Saat ini, ia menjadi satu di antara binaan UKM dari Pertamina. Pelanggan yang membeli sepatu di usahanya, kebanyakan mendesain sendiri. Tak hanya itu, produknya ini juga sudah dibawa ke luar negeri, seperti Jerman,Amerika Serikat, Yaman, Sudan dan Zimbabwe oleh mahasiswa yang dari negara tersebut yang kebetulan kuliah disini.
“Kalau modelnya banyak yang pesan. Jadi kami tinggal membuat sesuai bentuk yang sudah di pesan. Anak-anak muda biasanya memilih bentuk yang safety boot dengan bentuk beda-beda. Ya mereka juga pengen yang tidak banyak dikembari katanya,” imbuhnya.
Sepatu yang ia garap dengan beberapa karyawanya ini, dari segi harga bisa dikatakan ramah di kantong. Tius memperlihatkan pekerjanya yang bekerja pada bagian sol dan cap. Untuk pengerjaan dalam sehari, bisa menghasilkan lima pasang sepatu boot. Tius mengeluarkan inovasi terbaru yaitu sepatu kulit tetapi rajut.
“ini ada sepatu kulit tapi rajut. Bahan tetap dari kulit, tapi dengan cara dirajut mirip anyaman,” katanya.
Satu sepatu, harganya berkisar Rp 350 ribu hingga Rp 700 ribu. Tergantung jenis dan bentuknya. Untuk memesan sepatu dengan modal sendiri, hanya menambah biaya sedikit yakni sekitar Rp 25 ribu.
Misalnya sepatu trail paling mahal, sekitar Rp 800 ribu, karena sepatu trail membutuhkan safety lebih untuk dipakai. Tius menjelaskan, dalam menjalani usaha sebagai perajin sepatu kulit, tidak memaksa harus selalu laku. Karena ia menyerahkan semuanya pada hukum alam. Soal laku atau tidak laku, itu tergantung dari pelanggan dan trend saat ini.
“Yang penting tetap berkarya dan berusaha. Masalah hasil itu hukum alam. Tetap memberikan yang terbaik,” pungkas dia.
Pewarta & Foto: Suharto Editor : Mufarendra