Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ribuan Petani Tebu Malang Jadi Korban Gula Impor, Begini Ceritanya

Ahmad Yani • Rabu, 20 Januari 2021 | 04:26 WIB
Petani dan buruh angkut sedang panen tebu di wilayah Malang selatan  beberapa waktu yang lalu. (Darmono/Radar Malang)
Petani dan buruh angkut sedang panen tebu di wilayah Malang selatan beberapa waktu yang lalu. (Darmono/Radar Malang)
MALANG – Ribuan petani tebu di Kabupaten Malang belum mendapatkan setoran dari pabrik gula (PG). Itu karena gula dari hasil penggilingan tebu milik petani belum laku. Saat ini gula masih tersimpan di gudang PG Kebon Agung dan PG Krebet.

Data dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Diskop-UMKM) Kabupaten Malang mengungkap, ada 62 ribu ton gula yang masih ngendon di gudang pabrik. Gula tersebut belum bisa dijual karena kebutuhan gula di Indonesia saat ini masih dipasok dari gula impor.

Kadiskop-UMKM Kabupaten Malang Pantjaningsih Sri Redjeki mengatakan, permasalahan ini disebabkan adanya impor gula dari pemerintah pusat. Sehingga investor yang awalnya akan membeli gula hasil penggilingan tebu para petani itu batal. ”November 2020 lalu ada dua pabrik gula itu menghasilkan hampir 24 ribu ton untuk PG Kebon Agung dan 62 ribu ton untuk PG Krebet,” kata Panjta–sapaan akrabnya– kemarin (18/1).

Selama masa giling, Pantja mengatakan, Pusat Koperasi Petani Tebu Rakyat (PKPTR) dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) terus berkomunikasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Koperasi dan UMKM, serta komisi VI DPR RI. Dari hasil komunikasi itu, disepakati pembelian gula. ”Disepakati Rp 11.200 untuk 800 ribu ton seluruh Indonesia, akan dibeli oleh investor gula,” katanya.

Dalam perjalanannya, dia mengatakan, ternyata investor tidak berkomitmen. Tidak ada pembayaran untuk pembelian sehingga tidak ada gula yang dikeluarkan dari PG Krebet maupun PG Kebon Agung.

Tak lama kemudian, muncul kabar bahwa ada penandatanganan impor 1.946 ton gula ke Indonesia. ”Akhirnya gula yang ada di kami tidak bisa terjual dengan harga sesuai kesepakatan. Dan investor juga tidak mau membeli,” imbuhnya.

Atas dasar itu, para kelompok petani tebu rakyat akhirnya mengambil inisiatif untuk melakukan penjualan gula secara bebas ke beberapa pihak. Namun, tak semuanya bisa terjual. Hanya sekitar 22 ribu ton yang terjual. Dengan demikian, masih ada 60 ribu ton gula yang macet di gudang pabrik gula. ”Yang 40 ribu ton masih ada di Krebet dan 20 ribu ton ada di Kebon Agung,” kata Pantja.

Menurut dia, hal ini berimbas pada pembayaran keuntungan hasil tani tanaman tebu rakyat yang belum bisa dibayarkan. Sebab, gula dari tebu mereka belum terbeli, akhirnya mereka juga belum bisa merasakan ”manisnya” tebu yang mereka tanam.

Diketahui, di Kabupaten Malang ada sekitar 16 ribu petani tebu yang merasakan imbas impor gula besar-besaran itu. ”Kurang lebih 16 ribu petani itu untuk PG Krebet saja, sementara untuk petani tebu di Kebon Agung saya belum tahu,” ujarnya.

Pantja menyebut, Kabupaten Malang merupakan daerah penghasil gula yang berlimpah. Bahkan, kabupaten terluas nomor dua di Jawa Timur ini juga menjadi penyangga kebutuhan gula nasional. Saat ini pihaknya melalui Pusat Koperasi Petani Tebu Rakyat (PKPTR) dan beberapa organisasi lainnya terus berupaya untuk negosiasi ke berbagai pihak. ”PKPTR masih berjuang untuk menjual gula, entah dengan harga yang disepakati atau bahkan di bawahnya. Yang penting gulanya terjual,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kabupaten Malang Agung Purwanto mengatakan, saat ini harga gula di pasaran sudah berada di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang dipatok Rp 12.500 per kilogram. Sedangkan di pasaran, harga gula berkisar Rp 12.376 per kilogramnya. ”Kalau impor gula melebihi, konsekuensinya memang seperti itu. Dan itu kebijakan pusat, sehingga daerah tak punya wewenang,” ucapnya.

Menurut dia, solusi agar gula yang macet tersebut segera terjual adalah dinas koperasi melalui PKPTR harus proaktif mencari pangsa pasar baru. Salah satunya dengan terus berkomunikasi dengan koperasi-koperasi TKPTR di Jawa Timur. ”Ada posisi gula yang kosong di daerah mana, itu kami gerojok ke sana,” imbuhnya.(rmc/fik/c1/dan)
Editor : Ahmad Yani
#gula impor #kartel #malang #petani tebu