Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menilik Kampung Keramik Dinoyo, Eksis Sejak 91 Tahun Silam

Farik Fajarwati • Senin, 11 Oktober 2021 | 22:19 WIB
Seorang warga tengah menggarap kerajinan tangan di Kampung Keramik Dinoyo beberapa waktu yang lalu. (Rofia Ismania/Radar Malang)
Seorang warga tengah menggarap kerajinan tangan di Kampung Keramik Dinoyo beberapa waktu yang lalu. (Rofia Ismania/Radar Malang)
RADAR MALANG - Malang boleh dibilang menjadi gudangnya tempat wisata dan edukasi. Salah satunya yakni kampung tematik. Dari sekian kampung wisata dan edukasi yang ada di Malang, kampung keramik Dinoyo lah yang paling lama berdiri. Kawasan ini sudah terbentuk sejak tahun 1930. Praktis, keberadaan kampung keramik di Dinoyo ini sudah eksis selama 91 tahun.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) Dinoyo Samsul Arifin menceritakan, di tahun 1955 riset Balai Besar Keramik Bandung menunjukkan di Jawa Timur terdapat tanah liat jenis kaloin (porcelain). Ini artinya tanah putih dapat diolah jadi keramik porselen. “Akhirnya dibangun pabrik ini sebagai proyek percontohan dan kebetulan lokasinya di Dinoyo. Dan keramik Malang diberi nama keramik Dinoyo. Kemudian masyarakat mulai mendirikan usaha keramik porselen itu,” ungkapnya.

Setiap keramik punya ciri khasnya di masing-masing wilayah. Keramik Dinoyo ini lebih mengarah ke porselen. Tampilan awalnya dulu putih dan biru. Seiring dengan kreativitas masyarakat, warnanya pun sakarang lebih bervariasi. Walaupun warna dasarnya tetap khas yaitu berwarna putih.

Teknik pembuatannya pun juga lebih sulit. Kesulitan itu terletak pada proses pembakaran. Sebab porselen ini harus dibakar pada suhu yang tinggi. Supaya hasilnya lebih halus. “Sekarang sudah canggih menggunakan gas. Kalau dulu masih tradisional, pakai minyak tanah. Kalau proses pembakaran gagal, perjalanan mulai dari proses awalpun juga gagal. Sekarang lebih praktis dan efisien menggunakan gas,” tuturnya.

Dengan teknik lebih modern ini para pengrajin dapat menghasilkan 2000an keramik dengan berbagai model setiap bulannya. Yaitu peralatan rumah tangga, souvenir hingga gipsum. Keramik ini dibanderol dengan harga mulai Rp 10 ribu hingga jutaan rupiah. Tergantung ukuran dan motif dari keramik.

Satu sisi pengrajin membuat keramik sebagai pendapatan ekonomi, di sisi lain mereka harus tetap eksis. Salah satu caranya yaitu memberikan ruang kepada masyarakat untuk belajar di kampung keramik. Sehingga, masyarakat Dinoyo mengemasnya dalam wisata edukasi keramik. Edukasi yang dilakukan yaitu dengan cara daring maupun luring.

“Di pandemi edukasi daring. Guru ke sini, siswanya di rumah. Anak-anak sudah mempersiapkan bahannya. Atau bisa juga muridnya ke sini tapi terbatas dan juga membawa surat persetujuan dari wali murid,” tuturnya.

Pandemi ini berdampak pada penurunan pemesanan keramik. Tetapi para pengrajin tak kehabisan ide. Pasalnya, sebanyak 23 pengrajin memasarkan hasil keramiknya secara online. Paling jauh, pengirimannya yakni ke Kalimantan dan Bali.

Lurah Dinoyo Dwi Hermawan Purnomo, terus mengupayakan program agar kampung keramik tetap eksis dan berkembang. “Berusaha memperbaiki dari internal juga, kreativitas, manajemen keuangan, pemasaran, pembelajaran via daring juga di lakukan. Rencananya, tanggal 16 Oktober ini ada Festival Keramik Dinoyo #4 yang digelar secara daring. Ada lomba mewarna dan desain produk. Ini agenda tahunan,” jelasnya.

Photo
Photo
Beragam jenis keramik dengan berbagai bentuk dapat diproduksi warga di Kampung Keramik Dinoyo. (Rofia Ismania/Radar Malang)

Dia berharap, kampung keramik terus berkembang dari segi produknya. Dan bersinergi dengan ekonomi kreatif lainnya. “Misal alas buah tempatnya dari keramik, tempat makan dari keramik, cenderamata yang menghindari bahan dari plastik. Kalau dari keramik kan lebih bagus, berseni, go green dan dapat dijadikan cenderamata,” terangnya.

Dari segi infrastruktur, nantinya bakal dibangun pe-nataan kios, pembangunan ga pura, ruang galeri atau museum untuk pameran. Ini bertujuan tidak hanya mengangkat pengrajin keramik, melainkan dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.Pemerintah Kota Malang turut andil dalam upaya meningkatkan eksistensi pariwisata. Sebab, sektor pariwisata menjadi primadona pendapatan negara. Seperti, wisata tematik, wisata heritage hingga pendidikan.

Wali Kota Malang Drs Sutiaji mengatakan bahwa OPD terkait harus bersinergi untuk meningkatkan pariwisata yang ada di Kota Malang. “Kami terus berupaya maksimal menguatkan apa yang menjadi komitmen. Masa pandemi ini kami fokus menggaet wisatawan lokal,” ujarnya. (rof/dik/rmc) Editor : Farik Fajarwati
#kampung tematik malang #kampung keramik dinoyo #wisata malang #kampung edukasi malang #wisata heritage malang