Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Permintaan Shuttlecock Meningkat, Bahan Malah Langka

Mardi Sampurno • Senin, 1 November 2021 | 03:41 WIB
PRODUKSI Shuttlecock justru masih menurun akibat terkendala bahan. Para produsen di Kota Malang pun kesulitan untuk memenuhi permintaan yang banyak. (darmono/radar malang)
PRODUKSI Shuttlecock justru masih menurun akibat terkendala bahan. Para produsen di Kota Malang pun kesulitan untuk memenuhi permintaan yang banyak. (darmono/radar malang)
BERBEDA dengan raket, produksi shuttlecock justru masih menurun akibat terkendala bahan. Para produsen di Kota Malang pun kesulitan untuk memenuhi permintaan yang sebenarnya cukup banyak.

Hal itu diakui Jumaidin, salah satu produsen shuttlecock di Kota Malang. Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan produksi terhambat. Yang paling utama adalah kelangkaan bulu angsa yang memang harus diimpor dari Tiongkok. Harganya pun terus melambung.

”Dulu harga satu kardus bulu angsa impor itu Rp 3,7 juta. Isinya 13 kilogram. Untuk barang yang sama, sekarang harganya naik menjadi Rp 6,2 juta,” ungkapnya.

Dalam kondisi normal, industri rumahan yang ia kelola bisa mendapatkan 35 sampai 40 kardus bulu angsa dalam sebulan. Namun saat ini hanya bisa mendapatkan rata-rata delapan kardus. Dulu bisa memproduksi 2.000 slop per pekan. Sekarang paling banyak 1.200 slop, bahkan pernah hanya 400 slop. ”Ya karena materialnya itu, sekarang lagi sulit,” ungkap pria asal Kelurahan Lesanpuro, Kota Malang itu.

Jumaidin ingat betul meningkatnya permintaan shuttlecock terjadi sejak Mei 2021, kemudian melonjak pada Agustus 2021 hingga sekarang. Selain karena pandemi yang melandai, pada bulan Agustus selalu banyak digelar turnamen olahraga. Termasuk bulutangkis.  ”Apalagi baru-baru ini banyak event internasional, seperti Piala Thomas,” tambahnya.

Kelangkaan bahan juga berdampak pada harga jual shuttlecock di Kota Malang. Ayah satu anak itu menyebutkan, harga satu slop awalnya hanya Rp 57 ribu, namun saat ini naik menjadi Rp 65 ribu. Ia mengaku beruntung karena para pembeli bisa memahami.

Jumaidin mengakui adanya tingkatkan kualitas dalam produksi shuttlecock. Namun yang paling laku justru yang kualitasnya paling tinggi, meski harganya paling mahal.  ”Dalam kondisi seperti ini, kami tidak terlalu menghitung untung rugi. Bisa bertahan saja sudah cukup. Kami berharap pandemi segera berlalu agar perekonomian juga bisa membaik,” tandasnya. (ulf/fat/rmc)

  Editor : Mardi Sampurno
#Shuttlecock #bulutangkis #malang #Industri Alat Olahraga