Okupansi Eksisting Sudah Mencapai 80 Persen Per Hari
MALANG KOTA – Jumlah hotel bintang lima di Kota Malang segera bertambah.
Dua hotel untuk pengunjung kelas high-end itu akan dibangun di Kecamatan Klojen dan Kecamatan Blimbing tahun depan.
Menambah tiga hotel bintang lima yang sudah ada sebelumnya, yakni Shalimar, Tugu dan Grand Mercure.
Kepastian penambahan hotel bintang lima itu diungkapkan Kepala Dinas Tenaga Kerja Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang Arif Tri Sastyawan.
Menurutnya, ada satu hotel yang hampir pasti akan dibangun.
Itu karena perizinan mereka sudah rampung.
Mulai dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin).
”Lokasi hotel bintang lima yang baru itu berada di Hotel Tychi. Sebenarnya mereka sudah bisa bangun tahun ini. Tapi pengelolanya bilang masih mencari tambahan modal,” terang Arif.
Arif mengaku belum bisa menyampaikan siapa investor hotel baru tersebut.
Namun, yang pasti masih berasal dari jaringan hotel di Indonesia.
Nilai investasinya kemungkinan mencapai Rp 500 miliar.
Itu jelas akan mengatrol capaian investasi Kota Malang pada 2024 yang ditargetkan mencapai Rp 1,5 triliun.
”Tidak hanya berpengaruh ke nilai investasi. Sudah ada Rp 2,4 miliar yang masuk kantong pemerintah daerah dari retribusi izin pembangunan hotel tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, rencana pembangunan hotel bintang lima yang kedua masih merampungkan proses perizinan.
Arif memastikan bahwa hotel tersebut akan dibangun di dekat Masjid Sabilillah.
Persisnya di selatan Plaza Telkom Blimbing.
”Kalau hotel bintang lima, perizinan awal harus ke kementerian dulu, karena termasuk investasi risiko tinggi. Kemudian ketika akan mengurus PBG, baru ada persetujuan kami,” tuturnya.
Arif juga menyebutkan bahwa investor hotel tersebut masih dari jaringan hotel di Indonesia.
Yakni Hotel Vasa yang awalnya didirikan di Surabaya.
Di luar itu sebenarnya masih akan ada tambahan satu hotel bintang lima lagi.
Letaknya berada di Kawasan Alun-Alun Merdeka.
Namun Arif belum bisa memberikan detail informasinya karena pihak investor baru mengawali proses pengurusan perizinan.
”Konsepnya nanti akan kolonial, dibangun dekat Alun-Alun. Kalau ini ditunggu saja tanggal mainnya,” tandasnya.
Terkait kebutuhan ideal hotel bintang lima di Kota Malang, Arif menyebut angka lima.
Itu untuk menampung wisatawan kelas atas yang berkunjung ke Kota Malang.
Sebab, okupansi hotel bintang lima yang sudah ada saat ini bisa mencapai 80 persen tiap hari.
Keberadaan hotel bintang lima di Kota Malang juga bisa menampung limpahan wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu.
Sebab, bisa saja mereka berwisata di Batu, tapi memilih menginap di Kota Malang.
”Karena lebih banyak pusat perbelanjaan dan wisata kuliner di Kota Malang,” beber Arif.
Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika menilai penambahan hotel bintang lima di Kota Malang memang sudah waktunya.
Sebab saat ini jumlahnya masih sangat terbatas.
”Hotel yang baru seperti Grand Mercure, pengunjungnya hampir tiap hari ramai. Ini peluang untuk terus dikembangkan, tinggal bagaimana pemkot bisa menarik para investor," tuturnya.
Setelah menarik investor untuk hotel bintang lima, Made menekankan pemkot juga harus bisa menggerakkan sektor kuliner
Karena kuliner yang akan berdampak langsung kepada ekonomi masyarakat.
”Sektor perhotelan dan kuliner ini harapannya bisa saling mendukung. Selain menikmati keindahan, wisatawan pasti akan berburu kuliner khas Kota Malang,” tandas Made.
Banyak Penilaian
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Agoes Basuki menjelaskan, kapasitas keseluruhan hotel di Kota Malang sekitar 4.000 tamu.
Padahal kota ini sering menjadi tuan rumah event-event nasional.
Perguruan tinggi juga membantu keterisian hotel, terutama saat momen wisuda.
”Kalau misalnya ada event besar dan ada 10.000 tamu yang membutuhkan kamar hotel, kan kurang,” ujarnya.
Munculnya hotel-hotel baru tentu akan memudahkan wisatawan mendapatkan penginapan.
Sekaligus juga akan meningkatkan kualitas layanan, mengingat para pengelola hotel harus bersaing untuk menarik tamu.
Bisa jadi akan memunculkan konsep-konsep baru, berbeda, dan menarik.
General Manager Grand Mercure Malang Mirama Sugitho Adi menyebutkan, untuk menjadi hotel bintang 5 harus memenuhi syarat tertentu.
Salah satunya mendapat skor di atas 936.
Skor tersebut berdasar penilaian dari tiga aspek.
Mulai dari produk, pengelolaan, dan pelayanan.
Produk merupakan fasilitas-fasilitas yang ada.
Seperti kamar tamu, kamar mandi, hingga lift.
Pengelolaan berupa manajemen hingga sumber daya manusia.
Sementara pelayanan berupa keamanan hingga kesehatan.
”Total terdapat 208 sub unsur yang perlu dipenuhi oleh hotel bintang lima,” terangnya.
Setiap unsur dinilai dalam lima kategori.
Yakni, kategori kurang dengan skor 2, cukup baik dengan skor 3, baik dengan skor 5, sangat baik dengan skor 7, dan terbaik dengan skor 8.
Artinya, hotel bintang lima harus memiliki skor baik di setiap sub unsur agar dapat sertifikasi.
Sughito menambahkan, salah satu yang harus dimiliki hotel bintang lima adalah kamar untuk tamu dengan keterbatasan fisik.
Ada juga syarat kepemilikan karyawan yang harus mampu menggunakan bahasa Inggris.
Syarat itu sebenarnya sudah harus dipenuhi hotel bintang tiga sampai lima.
Di luar itu, Sughito mengungkapkan bahwa pihaknya juga perlu memiliki program kerja sama dengan UMKM, tanggung jawab sosial (CSR), dan masih banyak lainnya.
”Jadi, semua yang kita lakukan seperti membatik atau bekerja sama dengan pelukis, arahnya adalah ke sana,” tutup Sughito sembari menginformasikan okupansi hotel yang dia kelola selalu lebih dari 80 persen. (adk/dur/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana