Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Harga Beras Premium di Malang Mulai Menurun, Benarkah Imbas Tambahan Suplai Beras Bulog ke Pasar?

Fathoni Prakarsa Nanda • Jumat, 1 Maret 2024 | 18:32 WIB
Seorang kuli panggul memikul tumpukan beras di Pasar Besar Malang. Harga beras premium mulai menurun karena intervensi Bulog
Seorang kuli panggul memikul tumpukan beras di Pasar Besar Malang. Harga beras premium mulai menurun karena intervensi Bulog

MALANG KOTA - Mahalnya harga beras dirasakan oleh masyarakat Kota Malang sejak 2022 lalu.

Sepanjang 2023 juga berkali-kali mengalami kenaikan.

Awal tahun yang ditandai dengan pesta demokrasi nasional, harga semua jenis beras semakin melonjak.

Untuk kelas premium mencapai Rp 17 ribu per kilogram.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, harga beras mulai sulit dikendalikan pada pertengahan tahun 2022.

Rp 11 ribu per kilogram, menjadi Rp 12 ribu per kilogram.

Setelah itu terus meningkat hingga mencapai Rp 14 ribu per kilogram pada Januari 2023.

Kepala BPS Kota Malang Umar Sjarifudin menjelaskan, harga beras sempat sedikit turun pada Mei hingga Juni 2023 karena panen raya.

Tapi harga kembali naik pada Agustus tahun lalu.

Kenaikan tertinggi terjadi pada September tahun lalu yang mencapai 6,54 persen.

”Andil kenaikan harga beras terhadap inflasi antara 0,54 persen hingga 6,54 persen,” terangnya.

Umar menyebutkan, harga beras selama satu tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan secara perlahan.

Tapi frekuensinya tergolong banyak.

Utamanya mendekati hari-hari besar seperti Idul fitri ataupun Natal dan Tahun Baru.

”Selama 2023 terlihat hampir 9 kali mengalami inflasi,” tuturnya.

Pantauan wartawan koran ini di lapangan, harga beras medium mencapai Rp 17 ribu per kilogram di Pasar Oro-Oro Dowo pada 1 Februari 2024.

Sedangkan di Pasar Madyopuro terpantau Rp 16 ribu per kg.

Harga tersebut berlaku untuk beras premium merek Mentari dan Lahap.

Salah satu pedagang beras di Pasar Madyopuro, M. Khoirul, menyebutkan harga beras sebenarnya sudah mulai menurun sejak 22 Februari lalu.

”Sekarang sudah Rp 15.500 ribu per kilogram,” tuturnya.

Dia menduga penurunan harga beras premium itu terimbas pasokan beras medium Bulog yang sudah semakin banyak.

Khoirul mengaku mendapat pasokan setiap tiga minggu sekali dengan harga Rp 512.500 untuk kemasan isi 50 kilogram.

Kemudian dijual secara eceran dengan harga Rp 11 ribu sampai Rp 12 ribu per kilogram.

Berkaca dari kondisi itu, Khoirul menduga melonjaknya harga beras terjadi karena ada oknum yang melakukan penimbunan.

”Sekarang pemerintah banyak mengadakan pasar murah. Jadi penimbun mulai mengeluarkan stok karena takut semakin turun harganya,” kata dia.

Sementara itu salah satu Pedagang di Pasar Blimbing Suyanto menyebutkan, saat ini harga beras premium cap Pak Tani sudah turun menjadi Rp 15 ribu per kilogram.

Sedangkan beras merek Mentari di kisaran Rp 15.200 per kilogram, turun dari sebelumnya Rp 16 ribu per kg.

Dia menduga kenaikan harga yang sempat terjadi karena gagal panen di tingkat petani.

“Biasanya akhir tahun itu harga memang naik. Tapi Februari sudah turun karena masa panen. Ini tidak turun-turun,” tuturnya.

Suyanto merasa beruntung karena kenaikan harga yang sempat terjadi tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualan.

Sebab dia selalu mendapat suplai beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog. Setiap 2 minggu sekali antara 200 sampai 400 kilogram beras SPHP.

“Itu pun habis dalam 2 hari saja,” tuturnya.

Sehingga beras premium di tokonya hanya akan laku ketika beras SPHP sudah habis.

”Kalau orang kepepet baru beli yang jenis premium,” tuturnya.

Bulog Tambah Stok

Sementara itu, persediaan beras di Badan Urusan Logistik (Bulog) Cabang Malang ditambah 2.000 ton menjadi 8.500 ton.

Sekitar 1.424 ton di antaranya telah disalurkan ke berbagai pihak di Kota Malang Langkah itu ditujukan untuk menekan harga yang melonjak belakangan ini.

Kepala Bulog Cabang Malang Siane Dwi Agustina menuturkan, sebelum penambahan stok, ketersediaan beras di gudang berkisar 6.500 ton.

Karena adanya lonjakan harga, pihaknya bergerak cepat dengan menambah persediaan.

Tambahan beras ini berasal dari wilayah lain.

“Kami bekerja sama dengan berbagai pihak karena di Malang Raya belum ada yang panen raya,” tutur Siane.

Dia menerangkan, kebutuhan beras di Malang Raya dan Pasuruan mencapai 3.800 ton per bulan.

Khusus untuk Kota Malang, per bulan sekitar 500 sampai 600 ton.

Tambahan pasokan beras Bulog dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan harga serta pengamanan stok hingga bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

”Beras Bulog tidak hanya kami distribusikan ke pasar tradisional. Tapi juga ke toko ritel, bekerja sama dengan pemerintah setempat,” terangnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnan menambahkan, beras Bulog sebanyak 1.424 ton telah dikirim 301 kios.

Terdiri dari pasar tradisional, pengecer, dan grosir.

Pendistribusian dimulai sejak Januari hingga Februari.

Beberapa pasar tradisional yang jadi sasaran antara lain Pasar Besar, Pasar Gadang, Pasar Dinoyo, Pasar Sukun, dan Pasar Klojen.

”Ke pasar tradisional mencapai 203 kios. Kemudian yang eceran 70 kios dan grosir 28 kios,” papar Husnan.

Selain mempercepat distribusi dari Bulog, Pemkot Malang juga memiliki program lain untuk menekan harga beras.

Yaitu melalui program warung tekan inflasi dan pasar murah.

”Yang itu merupakan wewenang diskopindag,” tandasnya. (dur/adk/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#harga beras #bulog #malang