Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Buset! Sebanyak Ini Omzet 3 Pasar Takjil di Kota Malang, Ratusan Juta Rupiah Per Harinya

Bayu Mulya Putra • Kamis, 28 Maret 2024 | 17:13 WIB
Pasar takjil Jalan Surabaya Kota Malang
Pasar takjil Jalan Surabaya Kota Malang

MALANG KOTA - Nilai transaksi di tiga pasar takjil teramai di Kota Malang cukup tinggi.

Berdasar estimasi Jawa Pos Radar Malang, nilainya tembus Rp 203 juta dalam sehari.

Itu berasal dari rata-rata omzet pedagang di pasar takjil Soekarno-Hatta (Soehat), Jalan Surabaya (UM) dan Muharto (selengkapnya baca grafis).

Farida, salah satu pedagang di Pasar Takjil Soehat mengatakan, tiap hari rata-rata omzet yang diperolehnya mencapai Rp 1 juta.

Itu merupakan pendapatan terendah.

Dalam kondisi ramai, omzetnya bisa lebih dari angka tersebut.

”Awal Ramadan itu omzetnya di atas Rp 1 juta. Sekarang masuk pekan kedua agak sepi,” terangnya.

Perempuan berkerudung itu berjualan lumpia.

Dia biasa menjajakan dagangannya mulai pukul 15.00 WIB.

Pendapatan yang cukup tinggi itu sebanding dengan biaya sewa yang harus dia keluarkan.

Seperti diberitakan sebelumnya, biaya sewa per lapak di Pasar Takjil Soehat antara Rp 2,5 juta sampai Rp 3,2 juta.

Itu berlaku selama Ramadan.

”Kalau menurut saya, pendapatan ini masih belum maksimal. Karena mungkin pasar takjil di daerah lain seperti di depan UM lebih ramai. Sekarang juga mulai sering hujan,” papar Farida.

Emi Maulidia, pedagang lainnya di sana mengaku, pendapatan selama Ramadan tahun ini naik dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Biasanya, omzetnya Rp 250 ribu.

Kini menjadi Rp 500 ribu per hari.

”Alhamdulillah puasa ini pendapatan meningkat. Minimal mencapai Rp 500 ribu per hari,” kata dia.

Perempuan berusia 40 tahun itu sudah menjadi penghuni lama di Pasar Takjil Soehat.

Dia sudah berjualan di sana mulai 2004, atau sudah 20 tahun yang lalu.

”Tahun ini pendapatan menurun dibanding tahun lalu. Sebelumnya bisa mencapai Rp 1 juta, tapi sekarang Rp 500 ribu sudah bersyukur,” imbuh perempuan berkacamata itu.

Hari Setyono, pedagang jajanan telur gulung di sana juga mengaku omzetnya menurun pada Ramadan tahun ini.

Tahun lalu omzetnya mencapai Rp 700 ribu per hari.

Saat ini, hanya Rp 500 ribu.

”Sama seperti pedagang lainnya, tahun ini rasanya lebih sepi. Kemungkinan pembeli lebih memilih ke UM, karena di sana lebih banyak pilihan,” tutur dia.

Berdasar estimasi koran ini, omzet tertinggi memang ada di Pasar Takjil Jalan Surabaya, Kecamatan Klojen.

Nilainya mencapai Rp 84,6 juta per hari.

Lebih banyak pedagang membuat nilai omzet di sana lebih tinggi.

Sementara untuk estimasi pendapatan, berada di kisaran Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu per pedagang per hari.

Lukman Hakim, salah satu pedagang di sana mengaku bisa mendapat omzet Rp 300 ribu dalam satu hari.

”Alhamdulillah selalu habis sejauh ini,” terang pedagang jamu dan salad buah itu.

Dalam satu hari, dia mengaku bisa menjual 50 cup dagangannya.

Muhammad Rizky, penjual lainnya juga mengatakan hal serupa.

Dalam satu hari, dia bisa menjual 1.000 biji dimsum.

Sedangkan milkbun, dia bisa jual hingga 20 pcs per hari.

”Per porsi kita jual Rp 15 ribu,” tutur Rizky.

Per hari, dia dapat menghasilkan omzet rata-rata mencapai Rp 400 ribu.

Pedagang lainnya yang menjual makanan di Pasar Takjil Jalan Surabaya juga memiliki omzet yang hampir sama.

Berkisar di angka Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu.

Koordinator Pasar Takjil Jalan Surabaya Wahyudi mengatakan, tahun ini suasananya cukup kondusif.

Itu karena perencanaannya lebih matang setelah menggandeng Dinas Perhubungan (Dishub) dan Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang.

”Tahun depan akan kami pertahankan sistemnya, karena ini cukup bagus progresnya,” kata dia.

Wahyudi senang kehadiran pasar takjil dapat membantu pelaku UMKM.

Khususnya di wilayah Kecamatan Klojen.

Di tempat lain, yakni Pasar Takjil Muharto, nilai transaksinya bisa tembus hingga 45 Juta dalam satu hari.

Yanti, pedagang aneka es di sana mengaku bisa mendapat omzet Rp 500 ribu per hari.

Rata-rata, dia bisa menjual 300 cup minuman.

”Bikinnya dari jam 10 pagi,” ujar warga Jalan Juanda itu.

Berdasar estimasi wartawan koran ini, rata-rata omzet pedagang di Pasar Takjil Muharto berada di kisaran Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Jika dambil nilai rata-rata omzet Rp 700 ribu per pedagang, ada uang puluhan juta yang beredar di sana.

Menurut Ketua RT 6 Andik Dwi, saat ini ada 60 pedagang yang berjualan di sana.

Namun tidak dapat dipastikan berapa stan yang buka setiap hari.

”Karena itu kami menarik uang sewa dan kebersihan dengan sistem harian,” kata dia.

Seperti diberitakan, biaya sewa lapak di sana hanya Rp 5 ribu per hari.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Eko Sri Yuliadi mengatakan bila pemkot belum punya rencana untuk mengatur keberadaan pasar takjil.

Saat ini, pasar dadakan itu masih menjadi tanggung jawab pihak kecamatan atau kelurahan.

”Pasar takjil sementara dikoordinir paguyuban atau kelurahan dan kecamatan. Sehingga, belum ada pendapatan yang masuk ke kas daerah,” tuturnya.

Karena hanya bersifat insidentil, Eko menganggap belum perlu penarikan retribusi pasar takjil.

Yang terpenting menurutnya, keberadaan pasar takjil itu mampu menggerakkan ekonomi masyarakat Kota Malang.

Namun yang juga menjadi perhatiannya, tidak boleh mengganggu aktivitas masyarakat lainnya. Khususnya para pengguna jalan.

”Kami terus sosialisasikan untuk tidak menggunakan bahu jalan. Kemudian parkir harus disiapkan sebaik mungkin, agar tidak menimbulkan kemacetan,” tambah Eko.

(adk/jb2/jb3/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Pasar Takjil #Ramadan #Kota Malang