Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Toko Konvensional di Malang Tetap Raup Peningkatan Omzet

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 1 April 2024 | 20:18 WIB
BEDA DENGAN  DULU: Jumlah  pembeli pakaian  di Pasar Besar  meningkat  sejak dua  pekan sebelum  Lebaran.  Peningkatannya  sekitar 50  persen.
BEDA DENGAN DULU: Jumlah pembeli pakaian di Pasar Besar meningkat sejak dua pekan sebelum Lebaran. Peningkatannya sekitar 50 persen.

MALANG KOTA – Di tengah gempuran toko online atau e-commerce, toko konvensional masih tetap meraup peningkatan omzet jelang Lebaran.

Toko di Malang yang benar-benar mengandalkan penjualan secara offline mengaku bisa meningkatkan omzet hingga 50 persen.

Ada juga usaha yang menyasar segmen mahasiswa kebanyakan dan mendapatkan peningkatan omzet berkali-kali lipat.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APBBI) Malang Suwanto menyebutkan, aplikasi penjualan online memang sangat menggerus penjualan toko-toko offline.

Bahkan banyak toko-toko yang tutup imbas dari pergeseran budaya berbelanja masyarakat.

”Paling banyak pengaruhnya pada produk fashion yang menjual produk lokal,” terangnya.

Penurunan tersebut terlihat mencolok pada saat terjadi pandemi Covid-19.

Di mana masyarakat dibatasi untuk keluar rumah, sehingga segala aktivitas berbelanja dilakukan dari rumah melalui aplikasi online.

Budaya itu terus bertahan hingga kini.

Suwanto menyebutkan okupansi tenant di beberapa mal yang ada di Malang saat ini berada di kisaran angka 60 persen.

”Meskipun ada juga yang sudah 90 persen, namun rata-rata masih di angka 70 persen” kata dia. 

Menurutnya, pengusaha toko offline harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Mereka perlu belajar cara berdagang melalui aplikasi online untuk memperkuat toko konvensional masing-masing.

Pantauan Jawa Pos Radar Malang, aktivitas belanja di pasar tradisional maupun modern Kota Malang memang menunjukkan peningkatan.

Misalnya di Pasar Besar.

Hingga pukul 15.00 masih banyak pembeli di bagian depan.

Namun, saat ditelusuri semakin ke belakang, terlihat lebih sepi.

Salah satu pedagang pakaian Anisa menyebutkan, dibandingkan hari biasa, penjualannya memang meningkat saat Ramadan.

Peningkatan pembeli terjadi beberapa hari sebelum puasa, kemudian menurun saat awal bulan puasa, dan meningkat lagi dua pekan sebelum Lebaran.

”Meningkat sekitar 50 persen. Saya bisa dapat Rp 5 juta sampai Rp 7 juta per hari saat weekday. Saat long week end seperti kemarin bisa mencapai Rp 12 juta per hari,” ujarnya.

Namun, Anisa mengatakan peningkatan kali ini tidak seberapa jika dibandingkan tahun lalu. Apalagi pada saat sebelum banyak e-commerce.

Minimal dia mendapatkan omzet Rp 12 juta per hari.

”Dulu setiap bulan puasa semua orang berbondong-bondong pergi ke pasar, namun sekarang lebih banyak yang memilih untuk membeli melalui aplikasi online,” terangnya.

Anisa mengaku bertahan dengan beberapa cara.

Misalnya, terus mengikuti tren pakaian yang sedang digemari.

”Seperti saat ini, yang lagi tren model shimmer sutra. Kami banyak memajang dan menawarkan ke pembeli yang lewat,” ucap dia. 

Dia juga mulai memanfaatkan aplikasi WhatsApp untuk mempromosikan produknya ke berbagai grup percakapan, termasuk membagikan story.

Bahkan Anisa telah memiliki beberapa reseller di Kabupaten Malang yang membantu menjualkan barang-barangnya.

”Sistemnya, reseller menawarkan ke pembeli secara door to door dengan membawa produknya. Jadi mereka bisa tahu langsung kualitasnya,” imbuhnya. 

Tambah Karyawan Sementara itu, sejumlah tenant di mal juga merasakan peningkatan omzet.

Misalnya di Mal Olympic Garden kemarin.

Puluhan orang mengantre di kasir toko retail untuk membayar produk fashion yang mereka pilih.

Rata-rata pemilik tenant mengaku mendapat kenaikan penjualan hingga dua kali lipat.

Melonjaknya penjualan itu diakui salah satu karyawan toko baju muslim Smayka di Lantai II MOG.

Para pengunjung berdatangan dua minggu sebelum Lebaran.

”Kalau hari biasa terjual 8-10 pakaian saja. Sekarang bisa 30 lebih,” kata Fira, karyawan Toko Alsyafira Permata.

Rata-rata harga baju di Smayka dibanderol Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu.

Pada bulan Ramadan, omzet yang mereka dapatkan bisa mencapai Rp 26 juta per hari.

Meski mengusung brand lokal asal Tunggulwulung, produk mereka selalu update model fashion terbaru.

Apalagi target market mereka adalah anak muda.

Fira memprediksi kenaikan penjualan akan terus meningkat.

Apalagi seminggu sebelum jelang Lebaran.

Sebab, pengunjung mal juga lebih banyak.

“Kami tambah personel hingga 4 orang agar tidak kewalahan,” pungkasnya.

Peningkatan penjualan juga dialami oleh toko retail Dear Sisters.

Karyawan toko yang bernama Ines Alda mengaku terima lebih banyak order menjelang Lebaran.

”Per hari, kalau pas Ramadan bisa jual 130 pcs,” terangnya.

Sementara di hari biasa sekitar 70 pcs.

Dia menambahkan, selama Ramadan ini tokonya banyak menjual item baju Lebaran.

Seperti dress muslim atau tunik.

Per baju dibanderol dengan harga mencapai Rp 250 ribu.

Sehingga akumulasi omzet per hari mencapai Rp 32 juta.

Kendati baru berdiri enam bulan di MOG, tokonya masih bisa tetap eksis.

Itu karena banyaknya improvisasi mix and match di manekin depan toko.

”Kami contohkan cara pakainya, bisa memberikan gambaran ke customer,” bebernya.

Tak hanya tenant mal dan lapak pasar tradisional, gerai yang berdiri secara mandiri turut merasakan peningkatan omzet.

Misalnya Toko Myrubylocious.

Brand asal Bandung yang juga membuka gerai offline di Jalan Terusan Dieng itu bisa meningkatkan penjualan hingga tiga kali lipat.

”Bulan-bulan biasa, penjualan berkisar 1.000 item per bulan. Sedangkan saat Ramadan dan menjelang Lebaran bisa mencapai 5.000 item,” kata Eyik Fitriamin, manajer Myrubylicious.

Perempuan 29 tahun itu menjelaskan, untuk menyiasati maraknya penjualan online harus dengan ikut alur.

Misalnya dengan berpromosi di Instagram dan WhatsApp.

”Karena Shopee Myrubylicious dipegang pusat, cabang Malang memaksimalkan penjualan via,” lanjutnya.

Hal yang senada diakui Ayu Wilayika selaku supervisor Toko Clodia.

Selama ini dia memaksimalkan konten di Instagram dan TikTok untuk menunjang penjualan toko offline.

”Kadang kami juga mengundang influencer untuk datang membuat konten,” ujar wanita 25 tahun itu. Di hari-hari biasa, Clodia bisa menjual sekitar 150 item.

Saat momen Ramadan seperti ini, bisa terjual sampai 1000 item.

Ayu mengaku lonjakan pengunjung terjadi sejak satu Minggu sebelum Ramadan.

Ayu juga mengaku lebih banyak melakukan penjualan offline.

Karena buka di lingkungan mahasiswa dan harganya juga sesuai kantong mahasiswa.

”Apalagi masih banyak pelanggan yang ingin memegang langsung barang atau merasakan bahannya,” ujar Ayu.

Oleh karena itu, Ayu bersiasat memaksimalkan pelayanan di offline store untuk menarik pelanggan.

Misalnya dengan menambah fasilitas bagi pengunjung.

Seperti tempat ganti baju yang nyaman, tempat tunggu yang memadai, dan display yang lengkap.

(dur/ jb2/jb3/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#toko online #e commerce #malang #toko