MALANG KOTA – Tren deflasi masih berlanjut di Kota Malang, apalagi setelah adanya hasil panen yang melimpah.
Jika Mei lalu sebesar -0,08 persen, bulan Juni malah menjadi -0,36 persen.
Deflasi didorong penurunan harga barang konsumtif kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar -0,37 persen.
Sementara dari komoditasnya, deflasi di Kota Mlaang didorong penurunan harga beberapa bahan pangan karena melimpahnya hasil panen dari beberapa daerah.
Kepala Bank Indonesia (BI) Malang Febrina menyebutkan, beberapa bahan pangan yang turut mendorong deflasi adalah bawang merah, tomat, daging ayam ras, jeruk, dan bawang putih.
Deflasi pada komoditas bawang merah, tomat, dan jeruk terjadi seiring masih berlangsungnya musim panen di beberapa sentra produksi.
”Sementara penurunan harga daging ayam ras terjadi seiring dengan melimpahnya pasokan di pasar,” ujarnya.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem, Petani Apel di Kota Batu Gagal Panen
Deflasi yang lebih dalam tertahan oleh inflasi pada kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga, kelompok perumahan, listrik, air dan gas, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil sebesar 0,01 persen.
Inflasi terutama terjadi pada cabai rawit, emas perhiasan, upah asisten rumah tangga, udang basah, dan telur asin.
Kenaikan harga cabai rawit, kata Febrina, terjadi seiring menurunnya jumlah panen akibat serangan penyakit jamur di tengah meningkatnya permintaan menjelang Hari Raya Idul Adha.
“Sementara emas perhiasan mengalami peningkatan seiring masih berlangsungnya ketidakpastian global yang mendorong investor global memindahkan portofolionya ke aset yang lebih aman,” ungkapnya.
Di sisi lain, kenaikan harga udang basah disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu sehingga para nelayan kesusahan untuk menangkap udang.
Tekanan inflasi Kota Malang pada Juni 2024 yang menurun dan tetap terjaga tidak terlepas dari koordinasi yang kuat dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Beberapa upaya yang dilakukan pada Juni tersebut yakni peresmian Kios Pangan Kota Malang pada 8 Juni 2024 di Pasar Dinoyo.
“Pendirian Kios Pangan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan pokok,” Imbuh Febrina.
Baca Juga: 6.037 Hektare Lahan Padi di Kabupaten Malang Mulai Panen
Selain itu juga pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) pada 30 Juni, pelaksanaan Gerakan Tanam Cabai dan Pemeriksaan Hewan Kurban oleh Pj Wali Kota Malang pada 15 Juni, pengukuran hasil panen padi dan penyerahan bantuan benih padi kepada petani dan juga pemantauan harga komoditas pangan menjelang Idul Adha. (dur/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana