MALANG KOTA - Mulai bulan Mei sampai Juli lalu, Kota Malang mengalami deflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat, deflasi pada bulan Juli 2024 sebesar -0,01 persen secara month to month (mtm).
Ada dua penyebab deflasi yang terjadi pada tiga bulan belakangan.
Baca Juga: Panen Berlimpah Dorong Deflasi Kota Malang, Konsumen Diuntungkan!
Yang pertama yakni penurunan harga di kelompok makanan dan minuman.
Selanjutnya penurunan harga komoditi tembakau.
Sementara secara year on year (yoy), Kota Malang mengalami inflasi 1,83 persen, dan 0,56 persen secara year on date.
Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Malang Febrina menyebut, berdasar data tersebut, inflasi tahunan di Kota Malang pada periode Juli tetap terkendali.
Dia menyebut ada beberapa komoditas lain yang mendorong deflasi.
Seperti bawang merah, cabai merah, tomat, pepaya dan telur ayam ras.
”Deflasi pada komoditas bawang merah, cabai merah dan tomat terjadi seiring masih berlangsungnya musim panen raya di beberapa sentra produksi,” tuturnya.
Sementara penurunan harga pada telur ayam ras terjadi karena jumlah populasi ayam petelur yang belum stabil.
Sementara itu, deflasi yang berlebih juga ditahan oleh inflasi di beberapa komoditas. Seperti cabai rawit, beras, kebutuhan sekolah dan emas perhiasan.
”Kenaikan harga cabai rawit dan beras dipicu terbatasnya pasokan pasca berakhirnya musim panen,” tambah Febrina.
Sementara naiknya harga emas perhiasan terjadi seiring meningkatnya harga komoditas emas dunia.
Sementara itu berbagai upaya dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang turut berperan dalam capaian tersebut.
Salah satunya upaya pemantauan bahan pangan pokok selama Bulan Juli, dan juga pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) pada 21 Juli lalu.
Baca Juga: Kota Malang, Juara Umum LKS Jatim Dua Tahun Berturut-Turut
Sementara itu menurut pantauan wartawan koran ini, harga pangan di pasar-pasar tradisional cenderung turun.
Seperti bawang merah yang sempat menjadi biang inflasi kini sudah turun menjadi Rp 20 ribu per kilogram.
Sebelumnya sempat berada di harga Rp 60 ribu per kilogram.
Begitu juga dengan tomat dan telur ayam yang harganya cenderung turun.
Hanya harga cabai rawit yang terus naik dalam satu bukan terakhir.
Dari sebelumnya Rp 25 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 80 ribu per kilogram. (dur/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana