Jika tak kunjung dicairkan, akan berdampak buruk untuk pengembang.
Khususnya pada cash flow pengembang.
Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Indonesia (Apersi) Malang Dony Ganatha tidak mengetahui secara pasti alasan kuota tambahan tersebut belum terealisasi.
”Tapi ini dampaknya luar biasa bagi pengembang ke depannya,” kata dia kemarin.
Saat diumumkan penambahan kuota mulai 1 September, kata Dony, pengembang langsung berlomba-lomba menyelesaikan pembangunan unit.
Otomatis cost atau biaya yang dikeluarkan sangat besar.
Namun apabila akad realisasi kredit tertunda, maka pemasukan pengembang juga tertunda.
Sehingga menjadi bebantanggungan operasional developer.
”Hal itu akan berdampak pada keberlanjutan usaha, karenakan modal harus terus berputar,” tutur Dony.
Di sisi lain, ada beberapa dampak lain jika kuota tambahan FLPP tak kunjung cair (seleng kapnya baca grafis).
Dony berharap pemerintah segera menyalurkan kuota FLPP yang sudah dijanjikan.
Karena rumah subsidi tersebut sangat dibu tuhkan banyak pihak terutama masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Dony khawatir rencana penambahan kuota FLPP tersebut hanya sebagai penenang bagi pengusaha properti.