Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Investor Baru di Malang Didominasi Generasi Muda

Fathoni Prakarsa Nanda • Jumat, 1 November 2024 | 00:30 WIB
Perorangan Pilih Saham, Institusi Cenderung SBN
Perorangan Pilih Saham, Institusi Cenderung SBN

MALANG KOTA – Jumlah investor pasar modal di Malang Raya mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang menyebutkan, selama tiga tahun terakhir terdapat 123.311 Single Investor Identification (SID) baru.

Yang juga menarik, penambahan jumlah investor baru itu didominasi anak muda.

Mulai usia 17 hingga 40 tahun. Kepala OJK Malang Biger Adzana Magribi mengatakan, tiap tahun rata rata 41.103 terdapat investor baru.

Tingginya pertumbuhan jumlah investor pasar modal juga didukung kemudahan akses informasi dari berbagai media. Tidak terlalu sulit untuk belajar dan terjun ke pasar modal.

”Aplikasi trading dan instrumen investasi bisa dengan mudah didapatkan di handphone,” tuturnya.

Dari total 286.900 SID pada Agustus 2024, lebih dari 50 persen berasal dari Kota Malang.

Itu tak lepas dari banyaknya perguruan tinggi di kota ini.

Bahkan, Kota Malang menempati urutan ke dua kota di Jawa Timur dengan jumlah investor terbanyak setelah Surabaya.

Menurut Biger, peningkatan jumlah investor sebenarnya sudah terjadi sejak pandemi Covid19.

Saat itu banyak masyarakat yang memilih meletakkan uangnya di pasar modal dibandingkan pada instrumen investasi lain.

Peningkatan paling tinggi terjadi pada 2022 dengan 59.461 investor baru.

Hingga saat ini saham masih menjadi instrumen investasi yang paling diminati. Dari total 286.900 SID, sebanyak 125.565 di antaranya merupakan investor saham.

Instrumen itu dipilih karena menjanjikan keuntungan rata rata hingga 8 persen per tahun.

Dengan potensi keuntungan sebesar itu, risiko yang dihadapi juga lebih besar dibanding instrumen investasi yang lain.

Karena itu, investor pasar saham dituntut lebih jeli dalam membaca pasar.

Contohnya, saat ini suku bunga sedang turun, maka sektor yang akan naik adalah properti.

Maka investor perlu melihat saham di bidang properti.

Biger melihat kebanyakan anak muda lebih berani mengambil risiko, sehingga yang mendominasi pasar saham lebih banyak dari kalangan anak muda.

”Untuk itu, saham banyak dipilih investor ritel atau individu, sedangkan Surat Berharga Negara (SBN) dipilih oleh investor institusional,” tuturnya.

Keuntungan investasi SBN memang lebih rendah dibandingkan saham, yakni sekitar 5 persen per tahun. Tapi lebih aman karena hampir tidak terdapat risiko di dalamnya.

Dengan dana investasi yang lebih besar dari investor institusional, mereka lebih aman meletakkan dana di SBN.

Data OJK Malang menunjukkan saat ini terdapat 26.894 investor SBN. Meningkat 19,97 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Reksadana juga menjadi salah satu instrumen yang di gandrungi terutama anak muda. Rata rata tiap tahun meningkat 62,5 persen dengan total 18.647 investor hingga Akhir Mei 2024.

Untuk mendukung pertumbuhan investasi di kalangan anak muda OJK bekerja sama bersama Bursa Efek Indonesia (BEI), perguruan tinggi, dan perusahaan sekuritas mendirikan Galeri Investasi di kampus kampus.

Hingga saat ini sudah terdapat 14 galeri investasi di Malang.

”Para mahasiswa dapat belajar investasi sekaligus langsung transaksi di galeri tersebut,” tuturnya.

Pahami Risiko Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya Prof Setyo Tri Wahyudi SE MEC PhD juga melihat reksadana menjadi instrumen investasi yang diminati.

Itu karena ada beberapa keuntungan yang ditawarkan. Misalnya, setoran awal hanya perlu menyediakan Rp 100 ribu.

Kendati menjadi instrumen yang familier di masyarakat, reksadana memiliki sejumlah risiko.

Seperti berkurangnya nilai aset bersih karena perubahan harga pada Efek.

Ada juga risiko wanprestasi dari perbankan.

Sebagai contoh investor yang memiliki produk reksadana dengan obligasi atau surat utang dari perusahaan tertentu dan menerima bunga secara reguler.

Kemudian perusahaan tersebut tidak bisa membayar bunga dan uang pokok berpotensi tidak dibayar. Risiko lainnya berupa risiko likuiditas.

Itu terjadi kalau manajer investasi terlambat menyediakan dana untuk pencairan yang dilakukan oleh investor.

Satu lagi adalah risiko yang dipengaruhi kebijakan atau kondisi pemerintahan.

Sebagai contoh saat pemilu, perusahaan yang menerbitkan obligasi biasanya menahan diri dan melihat kondisi pemerintahan.

Sebab, ada potensi peningkatan pada nilai konsumsi hingga nilainilai barang konsumer.

Setyo melanjutkan, kalau tidak ingin terganjal risiko yang besar, Surat Berharga Negara (SBN) bisa menjadi pilihan masyarakat.

Sebab, investasi SBN dijamin negara dan bisa menghasilkan passive income yang pasti.

Terkait dengan pelaku investasi, Setyo melihat saat ini banyak milenial maupun Gen Z yang sudah mulai terlibat.

Apalagi sekarang literasi keuangan semakin meningkat. Ditambah dengan kehadiran platform online untuk investasi di pasar saham maupun reksadana dan didukung jenis pekerjaan.

Misalnya, Gen Z atau milenial yang bekerja sebagai content creator. Sebagian memiliki penghasilan lebih dari jutaan rupiah.

Untuk pilihan investasi Gen Z maupun milenial, Setyo menyarankan agar mereka menjajal SBN yang minim risiko. Meskipun saat ini SBN belum terlalu familiar di masyarakat. (dur/mel/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Investor #Kota Malang #generasi emas 2045