Terlihat dari Keanggotaan Lembaga Sekuritas dan Kelompok Studi
MALANG KOTA – Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyebut investor pasar modal dengan usia di bawah 30 tahun mencapai 57,26 persen, beberapa dari Kota Malang.
Itu menunjukkan tingginya minat kalangan generasi muda dalam berinvestasi, khususnya di Kota Malang.
Di Kota Malang, kecenderungan semacam itu juga bisa dilihat dari keanggotaan lembaga sekuritas dan kelompok studi yang terus bertambah, terutama dari kalangan mahasiswa.
Misalnya yang diungkapkan Senior Customer Relationship PT Sucor Sekuritas Cabang Malang Agus Priyono.
Di tempatnya, dalam satu tahun masyarakat umum yang mendaftar bisa sampai ratusan orang.
Utamanya dari kalangan mahasiswa Universitas Merdeka (Unmer) terkait pembelajaran investasi.
”Dari internal Unmer sekitar 100 orang. Kalau dari masyarakat umum antara 40-50 orang yang mendaftar," kelas Agus.
Dia menjelaskan, investasi di pasar modal bisa memberikan beberapa keuntungan.
Di antaranya capital gain (selisih harga beli dan harga jual), baik dari saham, reksa dana, maupun obligasi.
Kemudian dividen atau pembagian laba dari perusahaan yang sahamnya dibeli.
”Tapi ada juga beberapa risiko yang harus diperhatikan,” ucapnya.
Mulai dari capital loss atau penurunan nilai saham yang dibeli investor.
Untuk pemegang reksa dana biasanya ada penurunan nilai aktiva bersih.
Risiko lainnya berupa kegagalan pembayaran kupon atau pokok.
Khususnya untuk pemegang obligasi.
Namun, bagi pemegang obligasi pemerintah biasanya relatif aman.
Agus berpendapat kalau pemula lebih cocok mulai melakukan investasi saham dan reksa dana.
Sebab, modal awal yang perlu dikeluarkan relatif kecil dan waktu investasinya bisa ditentukan sendiri.
Investasi saham bisa dilakukan dengan modal mulai Rp 10 ribu saja.
Berikutnya, modal yang dikeluarkan tergantung harga saham yang mau dibeli.
Itu bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing investor.
“Berbeda dengan obligasi. Pada periode tertentu harus ditahan,” ucapnya.
Menurut Agus, kondisi pasar modal selalu dinamis, sehingga tidak bisa diukur dengan persentase tertentu.
Namun, jika berbicara target investasi saham bisa dilihat dari rata-rata kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Dalam satu tahun kenaikannya sebesar enam sampai tujuh persen.
“Jadi boleh diasumsikan nilai investasi secara tahunan di angka-angka tersebut. Begitu pula reksa dana,” jelasnya.
Sementara untuk obligasi, hasilnya sudah ditentukan sejak awal dengan coupon.
Contohnya Obligasi Negara Ritel (ORI) 026.
Obligasi itu ditawarkan dengan bunga 6,3 persen per tahun dengan tenor tiga tahun.
Tapi belum dipotong pajak.
Selain Sucor, ada beberapa lembaga lain yang bergerak di bidang literasi investasi pasar modal.
Seperti Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM), Investor Saham Pemula (ISP), dan Youth Capital Market Community (YCMC).
Misalnya yang diungkapkan Wakil Ketua ISP Malang Muhammad Hilmy.
Saat ini komunitasnya memiliki 39 anggota.
Namun, ratusan orang ikut setiap mereka mengadakan diskusi maupun edukasi tentang saham.
”Setiap bulan ada seminar online hingga offline yang membahas mengenai pasar modal,” ujarnya.
Menurut Hilmy, saham lebih digemari karena memiliki beberapa keuntungan.
Selain capital gain dan dividen, pemegang saham juga bisa ikut Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
”Walaupun punya saham satu lot tapi bisa ikut RUPS,” tuturnya.
Dia menambahkan, ISP memiliki divisi Capital Market and Research yang bertugas mengedukasi terkait analisis fundamental dan teknikal.
Analisis teknikal dilakukan dengan mempelajari histori harga dan volume dasar saham.
“Kemudian dari harga itu akan membentuk sebuah pola untuk memprediksi harga saham di masa depan,” terang Hilmy.
Analisis teknikal dilakukan dengan berbagai latar waktu.
Mulai detik, menit, jam, harian, mingguan, hingga bulanan.
Sedangkan analisis fundamental berarti menganalisis emiten saham dengan menggunakan laporan keuangannya, analisis bisnisnya, baik dari ekonomi makro maupun mikro.
“Ada suku bunga, nilai tukar, dan analisis industri. Ini adalah faktor eksternal yang harus dipertimbangkan,” ungkap Hilmy.
Laporan hasil analisis tersebut akan dibagikan di grup komunitas setiap seminggu sekali.
Misalnya, laporan terakhir pada 20 Oktober 2024, terdapat beberapa top gainers atau saham dengan kenaikan tertinggi.
Yakni MLPL, MPP, LPPS, LPLI, dan MTFN.
Sementara itu juga terdapat top loser atau saham dengan penurunan paling tinggi, yakni POOL, BTEK, TAXI, DNAR, dan KREN.
Diikuti juga dengan laporan peristiwa satu minggu terakhir yang mempengaruhi harga saham.
Selain melalui komunitas, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga bekerja sama dengan lembaga pendidikan memberikan edukasi melalui galeri investasi hingga Kelompok Studi Mahasiswa Pasar Modal (KSPM).
Pengurus Galeri Investasi UMM Dwi Susilowati mengatakan, melalui galeri tersebut mahasiswa dapat belajar investasi.
Dari awal berdiri pada 2020 lalu, saat ini KSPM UMM saat ini memiliki 80 anggota yang berasal dari berbagai fakultas di UMM.
”Sekarang lebih mudah mengedukasi pasar modal pada mahasiswa daripada dosen,” tuturnya.
Ia mengatakan para dosen lebih memilih berinvestasi pada sektor rill seperti properti dan emas.
Itu karena barangnya lebih nyata dibanding pada pasar modal.
Sementara itu, Ketua KSPM Unmer Yohanes Yugianto Kaja mengaku mulai belajar investasi pada 2023.
Saat itu dia baru memiliki modal sebesar Rp 100 ribu.
Setelah itu, setiap bulan Yohanes menyisihkan Rp 50 ribu untuk melanjutkan investasi saham.
“Bulan lalu saya sempat dilatih membeli satu lembar saham melalui aplikasi Spot,” ucapnya.
Saat ini keuntungan Yohanes yang sudah terkumpul sebesar Rp 1 juta.
Itu didapatkan sejak Agustus 2023.
Menurut dia, waktu yang baik untuk membeli saham adalah saat harga saham sedang turun.
Sementara penjualan dilakukan saat harga saham naik sekali dan banyak yang membeli.
“Selain saham, saya juga sedang belajar investasi jenis lain, seperti reksa dana dan obligasi,” tandasnya. (mel/dur/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana