RADAR MALANG - Rumor telah beredar mengenai perusahaan migas Shell Indonesia yang dikabarkan akan menutup seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Indonesia.
Berita ini pertama kali beredar pada hari Sabtu (23/11) lalu dan dikaitkan dengan kondisi bisnis penyaluran ritel bahan bakar minyak di Indonesia.
Desas-desus ini telah didengar oleh Ketua Komite Investasi Aspermigas Moshe Rizal sejak beberapa minggu lalu.
Ia mengungkapkan bahwa distribusi BBM di Indonesia itu sulit, karena Pertamina yang memegang posisi nomor satu SPBU di Tanah Air.
"Jadi, ini kan perkiraan saya, tapi memang bisnis BBM, apalagi distribusi BBM, SPBU itu sulit. Kenapa? Di Indonesia, karena memang sudah dimonopoli oleh Pertamina," ujar Moshe.
Menanggapi informasi tersebut, Shell membantah rumor akan penutupan unitnya di Indonesia.
Vice President Corporate Relations Shell Indonesia Susi Hutapea mengeluarkan pernyataan.
Dikutip dari ANTARA, "Shell Indonesia menginformasikan bahwa informasi yang beredar terkait rencana Shell untuk menutup seluruh SPBU di Indonesia adalah tidak benar," ujar Susi.
Susi menjelaskan bahwa Shell masih berfokus pada kegiatan operasi SPBU.
Berdasarkan situs resmi Shell, perusahaan migas yang bergerak di bisnis hulu dan hilir itu memiliki jaringan lebih dari 170 SPBU di seluruh Indonesia.
Ketika ditanya lebih jauh mengenai rumor yang terjadi di pasar, Shell enggan berkomentar lebih jauh.
"Kami tidak dapat berkomentar atas spekulasi yang terjadi di pasar. Shell Indonesia tetap berfokus pada kegiatan operasi SPBU untuk para pelanggan kami," jelasnya.
Untuk mendukung bisnis hilirnya, saat ini Shell memiliki satu pabrik pelumas di Marunda, Jakarta.
Selain itu, Shell juga satu terminal penyimpanan bahan bakar di Gresik, Jawa Timur.
Perusahaan induk Shell adalah Shell Plc yaitu perusahaan minyak dan gas multinasional dari Inggris. (Sofia Fasya Nadhira)
Editor : Aditya Novrian