TUREN - Komoditas pertanian dan perikanan di Kabupaten Malang sudah banyak yang tembus pasar internasional.
Utamanya untuk produk olahan ikan nila, lele, dan kacang tunggak di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen.
Kemarin (19/12), produk olahan ikan nila, lele, dan kacang tunggak dikirim ke Belanda.
Jumlahnya empat kontainer dengan nilai ekspor Rp 2,5 miliar.
Ketua Yayasan Insan Mandiri Sukses Indra Dwi Hartanto menyampaikan, pihaknya sebagai offtaker telah bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), petani, dan petambak lokal untuk mengembangkan pemasaran produk.
Sebab, permintaan di luar negeri sangat tinggi.
Bahkan bisa mencapai 5 ton per bulan.
“Kami berupaya bisa mencukupi itu. Nilai kontrak kami dengan buyer (pembeli) di Belanda mencapai Rp 63,2 miliar satu tahun,” ujar Hartanto kemarin (19/12).
Sementara itu, Bupati Malang H M. Sanusi memaparkan, seremonial pelepasan ekspor tersebut dapat berkelanjutan.
Supaya nilai ekspor di Kabupaten Malang terus meningkat. Apalagi, banyak produk-produk potensial di Kabupaten Malang. “Seperti kentang di Poncokusumo, terus alpukat pameling di Lawang.
Itu produk-produk asli Kabupaten Malang yang unggul,” ucap orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang itu.
Dia juga menyebut, jika lebih banyak produk di Kabupaten Malang yang dapat ekspor, tentunya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
Selanjutnya, Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso menyampaikan, produk ekspor kacang tunggak dan ikan asap itu perlu ditingkatkan.
Sebab, itu merupakan produk dari desa yang bisa masuk ke pasar Eropa, khususnya Belanda.
“Kami akan terus bekerja sama dengan para stakeholder untuk terus meningkatkan ekspor produk di Kabupaten Malang. Khususnya dari pelaku UMKM,” ucap Budi Salah satunya melalui proses pameran.
Karena itu, dia mengimbau, bagi peserta pameran yang ingin memasarkan produk ke luar negeri, dapat menghubungi kementerian untuk dicarikan buyer.
Sehingga ketika datang ke pameran, sudah ada yang akan membeli produknya.
Selain itu, dia juga memaparkan bahwa Kabupaten Malang memiliki potensipotensi produk ekspor yang banyak.
Hanya saja memerlukan panjang tangan pemerintah pusat untuk dapat mencari para pembeli.
“Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, diharapkan mampu membangun mencapai Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana