RADAR MALANG - Penurunan tajam pada saham Boeing mulai terjadi pada 30 Desember 2024.
Hal ini terjadi tepat setelah Pesawat Jeju Air mengalami kecelakaan di Bandara International Muan, Korea Selatan.
Pesawat Jeju Air yang mengalami kecelakaan adalah pesawat dengan jenis Boeing 737-800.
Dari 181 penumpang, hanya dua penumpang yang selamat dari insiden tersebut, yakni seorang pramugara dan seorang pramugari.
Pada awalnya, setelah pembukaan di New York, saham Boeing sempat anjlok sebelum mengalami sedikit kenaikan.
Namun, ketika sore hari terlihat saham mulai melemah sebesar dua persen.
Pihak Boeing menyatakan telah berkomunikasi dengan pihak Jeju Air dan siap untuk memberikan bantuan.
Di samping itu, saham Jeju Air anjlok sebesar 8,7 persen pada penutupan perdagangannya di Seoul.
Penurunan ini tercatat sebagai rekor terendah sepanjang sejarah.
Myles Walton selaku Analisis Wolfe Research menyebutkan bahwa kemungkinan penyebab kecelakaan ini disebabkan oleh berbagai faktor.
Namun, ia menilai bahwa kecil kemungkinan insiden ini disebabkan oleh kualitas desain atau pengerjaan pesawat.
Insiden kecelakaan Jeju Air menjadi pukulan baru bagi Boeing.
Baca Juga: NATO Desak Penyelidikan Menyeluruh atas Kecelakaan Pesawat Azerbaijan Airlines
Di tengah tahun yang sulit bagi Boeing, perusahaan harus menghadapi penurunan nilai saham sebesar 30 persen selama 2024.
Selain itu, Boeing juga sedang berjuang mengatasi dampak hukum dari kecelakaan 737 Max beberapa tahun yang lalu.
Pada bulan Juli, perusahaan mengaku bersalah atas tuduhab terkait menipu pemerintah pada dua kecelakaan fatal yang melibatkan model tersebut.
Pesawat Boeing 737-800 dikenal sebagai pesawat yang memiliki catatan keselamatan yang baik.
Bahkan, jenis pesawat ini digunakan oleh hampir 200 maskapai di seluruh dunia.
Namun, terjadinya kecelakaan ini meningkatkan pengawasan terhadap produk Boeing di tengah reputasinya di masyarakat. (HERTINA FIRDA)
Editor : Aditya Novrian