Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Permintaan Ekspor Kopi di Kabupaten Malang Tembus hingga 45 Ribu Ton

Mahmudan • Rabu, 8 Januari 2025 | 18:55 WIB
PRODUK LOKAL: Seorang petani di Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang menunjukkan kopi yang dalam tahap pengeringan. Kopi hasil pertanian warga banyak yang dikirim ke Asia dan Eropa. DARMONO
PRODUK LOKAL: Seorang petani di Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang menunjukkan kopi yang dalam tahap pengeringan. Kopi hasil pertanian warga banyak yang dikirim ke Asia dan Eropa. DARMONO

KEPANJEN – Permintaan kopi Kabupaten Malang dari mancanegara relatif tinggi. 

Dari satu mitra Pemkab Malang saja, permintaan kopi tahun ini menembus 45 ribu ton. 

Meningkat dibanding tahun lalu yang berkisar 40 ribu ton. 

Sayangnya, produktivitas kopi lokal masih rendah. 

”Kabupaten Malang baru bisa suplai sekitar 15 ribu ton. Selebihnya, 30 ribu ton diambil dari luar. Misalnya dari Blitar dan Pasuruan,” ucap Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Sani Putera beberapa waktu lalu. 

Meskipun sekitar 30 ribu ton kopi diambil dari luar Kabupaten Malang, begitu dikirim ke negara lain, kopi tersebut menjadi brand Kabupaten Malang, yakni Kopi Dampit. 

Produk kopi yang tersebut biasanya diekspor dalam bentuk green bean atau ose. 

Namun tidak seluruh produk kopi di Kabupaten Malang berpotensi ekspor. 

Hingga kini, kopi yang berpotensi ekspor ada di wilayah Amstirdam (Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit) serta Wonosari, Kromengan, dan Ngajum. 

“Masih banyak peluang untuk mengoptimalkan produk kopi di Kabupaten Malang. Kami akan terus melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi,” ucap pejabat eselon II B Pemkab Malang itu. 

Intensifikasi dilakukan melalui perbaikan budidaya. 

Sedangkan ekstensifikasi dilakukan melalui perbaikan lahan-lahan kopi yang rusak untuk ditanami kembali. 

Selain itu permasalahan SDM harus segera terselesaikan. 

Seperti melalui kaderisasi petani muda. 

Pihaknya pun terus berupaya mendorong anak muda supaya terjun di pertanian bidang kopi. 

“Sementara sekarang banyak pemuda suka di hilir, yakni menjadi barista. Sedangkan di lahan ini juga harus ada segmentasi SDM nya,” lanjut Avi. 

Untuk diketahui, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang terdapat lahan kopi dengan luas sekitar sekitar 20 ribu hektare. 

Dengan lahan terluas ada di wilayah Amstirdam dan Wonosari. 

Karena itu, dia memerlukan juga bantuan pihak ketiga untuk merangkul petani kopi supaya memperoleh pembinaan. 

Sehingga, lanjut Avi, peluang industri kopi tidak hanya terbatas pada peningkatan produksi, melainkan kesejahteraan petani juga dapat meningkat. (yun/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Ekspor #Kopi #Kabupaten Malang