OJK Catat Ada 116 Ribu Orang, Mayoritas Pilih Saham dan Reksadana
MALANG KOTA – Investor pasar modal dari kalangan anak muda mengalami pertumbuhan.
Sampai akhir tahun lalu, 22,6 persen dari seluruh investor di Indonesia berstatus pelajar dan mahasiswa.
Pertumbuhan secara nasional itu juga terjadi di Kota Malang.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang hingga Oktober 2024, tercatat ada 292.276 pemilik Single Investor Identification (SID).
Dari total itu, 40 persen diantaranya merupakan investor muda (selengkapnya baca grafis).
Bila dihitung ada 116.910 investor muda dengan rentang usia dibawah 30 tahun.
Baca Juga: Investor Baru di Malang Didominasi Generasi Muda
Investor saham mengalami pertumbuhan yang paling tinggi.
Tercatat di angka 21,13 persen secara year-on-year (yoy) hingga Oktober 2024, dengan jumlah 130.177 investor.
Kepala OJK Malang Biger A. Maghribi menyebut, saham dan reksadana memang menjadi instrumen pasar modal yang cukup digemari anak muda.
”Saya juga masih mencari tahu kenapa anak muda lebih banyak memilih saham,” tuturnya.
Padahal menurut dia reksadana lebih mudah dan minim risiko.
Sebab, sudah dikelola oleh manajemen investasi. Biger mengindikasikan fenomena tersebut bisa terjadi karena dua kemungkinan.
Yakni keberanian atau pengetahuan dari investor muda.
”Yang pertama bisa jadi mereka memiliki keberanian cukup tinggi untuk terjun di pasar saham. Atau, karena pengetahuannya sangat cukup untuk kesana,” terang Biger.
Selain kedua instrumen tersebut, Surat Berharga Negara (SBN) juga mulai banyak dilirik anak muda.
Kemudahan akses menjadi salah satu pendorong utama banyak anak muda yang berinvestasi di pasar modal.
Selain itu, aplikasi untuk melakukan transaksi pasar modal juga cukup banyak dan mudah di akses.
”Banyak aplikasi mobile perbankan yang menyediakan layanan transaksi pasar modal,” kata dia.
Berdasar pengamatannya, meleknya kalangan muda terhadap investasi pasar modal sudah terjadi sejak pandemi Covid-19.
Karena itu, tahun ini pihaknya akan fokus pada sisi edukasinya.
”Ini akan menyasar semua kalangan. Mulai anak sekolah hingga ibu rumah tangga,” tuturnya.
Yang paling penting ditekankan dalam setiap edukasi adalah legal dan logis.
”Harus curiga kalau keuntungan yang ditawarkan sangat banyak dalam waktu cepat pula,” tambahnya.
Peningkatan investor saham dari kalangan anak muda juga ditunjukkan oleh komunitas Investor Saham Pemula (ISP), yang lebih banyak didominasi anak muda usia di bawah 30 tahun.
Ada 39 anggota di dalam komunitas non-profit yang fokus pada literasi investasi saham tersebut.
Wakil Ketua ISP Malang Muhammad Hilmy mengatakan, saham banyak digemari karena punya beberapa keuntungan.
Mulai dari capital gain hingga dividen.
Selain itu, pemilik saham juga dapat ikut Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
”Tapi risikonya juga cukup banyak,” tuturnya.
Mulai dari risiko floating loss hingga risiko kurs.
Untuk itu, dalam komunitas tersebut ada agenda edukasi analisa fundamental dan teknikal.
Laporan hasil analisis akan dibagikan di grup komunitas setiap seminggu sekali.
Salah satu investor muda yang tetap eksis adalah Muhammad Jessindio Indrayana.
Jessindio, sapaan akrabnya, terjun ke dunia investasi sejak 2019.
Saat itu, dia masih berstatus sebagai pelajar SMP di sebuah sekolah di Kota Blitar
Ketertarikannya bermula dari keisengan berselancar di media sosial.
Dia membaca edukasi soal investasi.
Dari sana, Jessindio mencoba mendalami seluk beluk investasi.
Mulai dari pentingnya berinvestasi sampai rekomendasi saham.
”Lalu saya bilang ke orang tua kalau ingin berinvestasi,” kata dia.
Namun karena usianya saat itu masih 13 tahun, dia tidak bisa langsung menjajal investasi.
Dia terlebih dulu merayu orang tuanya agar mau meminjamkan KTP.
Sebab, syarat utama untuk melakukan investasi adalah memiliki KTP.
Karena masih sama-sama awam, orang tua Jessindio tak langsung memperbolehkan.
Dia pun mencoba memberi pengertian kepada orang tuanya.
Untuk modal pertama, Jessindio menabung sendiri dari uang saku hingga terkumpul Rp 2 juta.
Setengah dari uang yang terkumpul dibelikan empat lot atau 400 lembar saham.
Jessindio membeli saham di emiten bank yakni BMRI (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk).
Sementara sisa uang lainnya dibelikan saham lain.
”Waktu itu langsung dapat untung meski tidak banyak karena faktor pandemi dan market crash,” kata pria yang kini menjadi mahasiswa di Universitas Merdeka (Unmer) tersebut.
Jessindio menjelaskan, ada beberapa momen yang perlu diperhatikan saat berinvestasi.
Untuk waktu yang menguntungkan sebenarnya relatif.
Bisa saat saham undervalue (saham yang berpotensi, tapi memiliki harga murah).
Waktu lainnya saat ada sentimen positif.
Artinya, sektor tertentu naik seperti sektor bank digital selama pandemi.
Sebaliknya, waktu yang mungkin tidak menguntungkan saat FOMO (fear of missing out).
Selain itu, saat harga saham naik tinggi tanpa alasan yang jelas.
Untuk kondisi investasi awal 2025 ini, Jessindio menyebut positif.
Itu disebabkan karena faktor kepercayaan diri perusahaan IPO (Initial Public Offering) pada awal tahun.
Kemudian, prospek ekonomi yang positif hingga sektor yang sedang naik daun karena pengaruh January effect (kecenderungan pasar naik selama Januari) atau window dressing (momentum saat perusahaan mempercantik laporan keuangan). (dur/mel/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana