RADAR MALANG - Pemerintah China mendesak Amerika Serikat untuk sepenuhnya mencabut tarif impor sebesar 145 persen yang diberlakukan sejak era Presiden Donald Trump.
Bagi Beijing, pengecualian untuk ponsel dan laptop saja belum cukup.
“Kami mendesak AS memperbaiki kesalahannya dan menghentikan tarif resiprokal yang keliru,” tegas juru bicara Kementerian Perdagangan China, Minggu (13/4), dikutip dari AFP.
Sebelumnya, Kantor Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) AS memang mengecualikan sejumlah produk dari tarif tinggi Trump.
Baca Juga: Tarif Impor AS Trump: Negara-Negara dengan Dampak Tarif Tertinggi hingga Terendah
Daftarnya termasuk smartphone, laptop, chip memori, hingga layar panel datar.
Produk-produk ini banyak dipakai oleh perusahaan raksasa seperti Apple, Dell, dan Nvidia.
Meski begitu, China menilai langkah tersebut baru “langkah kecil”.
Karena pada saat yang sama, produk-produk lain dari Negeri Tirai Bambu tetap dikenai bea masuk tinggi, bahkan mencapai 145 persen.
Baca Juga: Perang Tarif AS-China: WTO Memperkirakan Resiko Terhadap PDB Dunia dan Perdagangan Internasional
Sebaliknya, China juga memberlakukan tarif balasan sebesar 125 persen untuk barang-barang asal AS mulai Sabtu lalu.
Situasi ini memperkeruh hubungan dagang kedua negara, yang sempat mencair saat tarif sempat ditangguhkan selama 90 hari.
Bea Cukai AS sendiri telah mengedarkan pemberitahuan resmi soal 20 kategori produk yang masuk dalam pengecualian.
Bahkan diberlakukan secara retroaktif sejak 5 April pukul 12:01 EDT.
Meski tidak ada penjelasan resmi soal alasan kebijakan ini, banyak pihak menilai kebijakan larut malam dari pemerintahan Trump ini sebagai angin segar bagi perusahaan teknologi AS yang bergantung pada pasokan dari China. (rsy)
Editor : Aditya Novrian