BULULAWANG – Harga Pokok Produksi (HPP) gula meningkat dari sebelumnya Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per kilogram.
Kenaikan berlangsung sejak 2024 lalu. Akibat kenaikan HPP memicu para petani kembali bergelut pada industri gula, apalagi harga di pasaran stabil di angka Rp 17.500 sampai Rp 20.000 per kilogram.
Tingginya animo petani menanam tebu terlihat dari pasokan di pasaran. Pada pertengahan Maret lalu, Bupati Malang H M. Sanusi melakukan pemantauan ketersediaan bahan pokok, khususnya gula.
Hasilnya, persediaan gula di Kabupaten Malang mencapai 35 ton, sementara jumlah konsumsi gula per kapita (12 bulan) di angka 7,23 ton, sehingga masih surplus.
Baca Juga: Pabrik Gula Krebet Baru Gelar Rangkaian Acara Selamatan Giling 2025
“Setidaknya stok gula sudah aman hingga akhir tahun,” ucap Sanusi.
Dia mengatakan, tingginya minat petani tebu berdampak pada perluasan kebun tebu. Hal itu disambut pabrik gula (PG) dengan menambah target dalam musim giling tahun ini.
PG Krebet Baru misalnya, pada musim giling 2025 menargetkan 1,92 juta ton tebu dengan rendemen 8,25 persen. Sebab pada 2024 hanya 1,72 juta ton.
“Target produksi gula pun kami tingkatkan menjadi 158 ribu ton gula,” ujar Kepala Bagian (Kabag) Quality Assurance PG Krebet Baru Robi Nugroho Mulyono.
Baca Juga: Temuan Kerangka Manusia di Kebun Tebu Pabrik Gula Madukismo, Kaligondang
Kenaikan target produksi gula juga terjadi di PG Kebon Agung. Dalam kesempatan selamatan giling tebu pekan lalu, Direktur Utama PG Kebon Agung Didit Tourisianto berkomitmen akan menaikkan target produksi gula tahun ini.
Hal itu sebagai dukungannya mewujudkan swasembada gula pada 2028 mendatang.
“Kami menginvestasikan mesin untuk menaikkan kapasitas giling,” kata Didit.
Dia menargetkan tahun ini produksi gula bisa meningkat hingga 20 persen. Untuk itu, selain meningkatkan kapasitas mesin giling, pihaknya juga memperkuat kemitraan dengan petani tebu agar produktivitas bahan baku tersuplai secara penuh. (aff/dan)
Editor : A. Nugroho